
Sementara di negara lain, ada hati seorang ibu yang mendadak gelisah.
Dia sampai ngejogrog di kantor suaminya dari pagi. Si asisten aja sampai keder nih kenapa juga istri bos nya daripagi ngintilin suaminya terus. Boro-boro pengantin baru, pengantin lawas iya.
"Masih nggak enak juga perasaannya?" tanya papi Ridho.
Mami Reva menggeleng, "Mendingan tapi rasanya aneh aja, Mas. Pokoknya kayak ada yang nkkin nggak tenang,"
"Banyakin istighfar," papi Ridho yang lagi duduk di singgasana nya pun bangkit dan mendekat pada istrinya yang dari wajah aja udah keliatan kalau dia belum istirahat.
"Anggap aja perasaan ngga enak ini sebagai tanda kalau Allah lagi kangen sama kamu,"
"Maksudnyaa kangen?!! ih jangan gitu, Mas?!" mami Reva ngetok kepalanya pakai buku-buku jarinya, "Aku belum siap, coy! jangan lah..."
"Astagaaa, mikirnya apa sih? hahahaha," papi Ridho malah ketawa ngeliat wajah istrinya udah panik.
"Maksudku bukan kangen mau ngambil kamu dari dunia, bukaaan. Maksudku kangen disini, kangen kamu yang tengadahin tangan sambil berdoa..." lanjut pria yang dari dulu sampai sekarang nggak pernah berubah.
Dia menyingkirkan anak-anak rambut yang ada di pipi istrinya, "Karena obatnya orang gelisah itu ya doa, kalau bisa mah sholat sama ngaji. Dan jangan lupa, bacanya jangan kebalik kayak buku yassin waktu itu..."
"Ihh, apaaan sih, Ayaaang!" kata mami Reva pakai emoticon malu yang inget kejadian puluhan tahun lalu di rumah pak Sarmin.
Papi Ridho yang ngeliat perubahan raut wajah mami Reva, kini menggenggam erat tangan istrinya, "Semoga kita selalu kayak gini ya? saling menguatkan disaat salah satu lagi terpuruk, menghibur jika salah satunya lagi sedih dan kalau bisa selalu dilimpahkan kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang akhirnya menumpuk jadi bukit, bukit kebahagiaan aku sama kamu, sampai kita nanti kakek nenek dan----"
"Dan salah satu dari kita dipanggil terlebih dahulu," sambung Ridho.
"Jangan ngomong kayak gitu, karena aku nggak akan sanggup pisah dari kamu, Reva. Kalau aku bisa milih, aku pengen kita terus bersama sampai maut pun nggak bisa memisahkan kita. Karena cinta yang kita miliki akan berlanjut bahkan di kehidupan setelah ini," papi Ridho mengecup punggung tangan istrinya.
Mami Reva senyum, "Semoga ya...." ucapan singkat namun mengamini semua yang diucapkan suaminya.
"Sekarang aku mau meeting dulu, kamu aku tinggal disini nggak apa-apa?"
"Bukannya daritadi juga ditinggal-tinggal? dah sana, ke ruang meeting! mereka pasti harap-harap cemas nungguin kamu, Mas..." mami Reva melepaskan genggaman tangan itu dan merapikan sekilas jas yang dipakai paoi Ridho.
"Nanti aku minta tolon Arsen buat pesenin kamu makanan ya?"
"Nggak usah, aku belum laper. Lagian aku maunya makan bareng sama kamu, Mas..."
__ADS_1
"Tapi aku meetingnya lama..."
"Udah, nggak apa-apa..."mami Reva bangkit dari duduknya bersamaan dengan suaminya.
Dia mendorong badan papi Ridho sampai ke luar ruangan, "Kerja yang baik, oke?!" ucap mami Reva seraya menutup pintu.
Papi Rifdo hanya geleng-geleng kepala ngeliat kelakuan istrinya yang dari dulu ya selalu absurd.
Mami Reva balik lagi duduk di sofa. Sebenernya perasaan nggak enak yang dari semalem dia rasakan bukan hanya perasaan nggak enak biasa, karena semua itu berhubungan sama Rion yang sepertinya lagi diincar oleh sesosok makhluk yang belum ketauan motif dan tujuannya apa. Ditambah lagi, Rion lagi berada di satu negara bahkan satu kota yang sama dengan Rissa. Mereka juga sempet-sempetnya berbagi udara.
Sementara di lain tempat, Rissa perlahan membuka matanya. Dia melirik ke kanan dan ke kiri, dia lagi mengumpulkan segenap kesadarannya yang hilang beberapa saat yang lalu.
'Dimana aku?' Rissa merasakan kepalanya pusing.
Lampu sengaja dibiarkan temaram, supaya Rissa bisa tidur dengan nyaman. Dan ketika wanita itu sadar, nggak ada orang yang menunggu di samping ranjangnya.
Rissa perlahan duduk, meskipun kepalanya masih kliyengan. Dia ngeliat Meisya yang tiduran di sofa, lantas dia rebahan lagi.
"Rion? Rion yang nolongin aku?" Rissa bergumam lirih, dia mencoba menggali ingatannya.
"Tapi kenapa dia mau nolong aku?" Rissa menganggap Rion itu benci sama dia karena ya gimana nggak, orang tuh cowok tiba-tiba ngilang kayak ditelan bumi.
"Lalu gimana keadaannya? apa dia baik-baik aja? Apa dia juga dirawat di rumah sakit ini?" Rissa tiba-tiba penasaran. Karena bagaimanapun dia telah diselamatkan, paling nggak dia harus mengucapkan terima kasih.
"Astaga, aku belum ngabarin papa! pasti dia khawatir!" gumamnya panik.
Rissa menyibak selimutnya, dia memakai piyama khusus pasien, "Dimana bajuku? lalu hape ku?"
Rissa bangun dan mencoba mencari barang itu di meja dekat dengan ranjangnya, tapi nggak ada.
"Bu? Bu Rissa?" suara Meisya
Ternyata Meisya kebangun dan ngeliat bosnya itu udah sadar. Meisya memang selalu memanggil Rissa dengan sebutan 'Ibu' sesuai jabatan yang diemban Rissa. Padahal Rissa udah berkali-kali bilang, panggil nama saja tapi Meisya nggak pernah mau.
"Ibu? Ibu ada yang ibu butuhkan?" tanya Meisya.
"Maaf ganggu kamu tidur ya, Sya?" Rissa merasa bersalah, wajah Meisya keliatan begitu capek.
__ADS_1
"Ah, tidak, Bu...! ibu ingin minum? atau apa?"
Rissa menggeleng, "Siapa yang bawa aku kesini, Sya?'
"Oh itu, pak Thomas, Bu..."
Rissa mengangguk paham, "Oh....?"
"Apa ibu mau saya telfonkan---"
"Nggak usah! nggak usah, aku cuma tanya aja. Karena seingatku orang yang menolongku itu, ehm ... Arion, model iklan kita, Sya...." Rissa nggak bisa lupa disaat dirinya masuk ke dalam danau beku, ada Arion yang menangkap dirinya.
"Iya, bu!"
"Terus dimana dia? apa dia dirawat disini juga?"
Meisya galau, dia harus cerita semuanya tanpa difilter atau dia jawab sesuai pertanyaan, 'Aku harus jawab apa ini? ceritain semuanya atau ada koma-komanya, nih?' batin Meisya.
"Syaaaa?" panggil Rissa.
"Ya, Bu. Saya nggak begitu paham, tapi kayaknya dia masih di danau beku saat kita semua naik campervan buat ke rumah sakit," jelas Meisya.
"Maksudnya gimana?"
Akhirnya, Meisya cerita semua apa yang terjadi di danau itu. Apa yang dia lihat itu yang dia sampaikan pada atasannya. Mendadak Rissa jadi nggak enak hati, karena Rion dapet bog mentah dari Thomas. Sedangkan Meisya ngerasa agak takut nih, gimana kalau pak Tjomas marah karena Meisya lancang nyeritain kejadian saat di danau beku.
"Tenang aja, aku nggak akan bilang sama Thomas. Mungkin dia seperti itu karena takut terjadi apa-apa sama aku," Rissa mencoba membuat Meisya nggak overthingking.
"Nanti kamu pulang ke Indonesia sesuai jadwal tiket yang udah kita beli, kalau aku masih akan stay disini sepekan atau dua pekan, karena aku masih ada urusan disini," jelas Rissa.
"Baik, Bu..." Meisya cuma bisa iya iya aja.
"Oh ya? dimana hapeku? aku belum ngabarin papa," Risaa menengadahkan tangannya.
"Kayaknya dibawa pak Thomas, Bu
Soalnya hape ibu kan basaha habis kejebur dalam air,"
__ADS_1
"Kalau begitu aku pinjam hape kamu," Rissa pun meminj hape yang kini dikeluarkan dari dalam saku celana Meisya.
Rissa menekan beberapa tombol untuk menyambungkan ke nomor lain, "Halo, Paaah?"