
Papi Ridho yang lagi menyusup pun melihat ada satu pengawal yang ada di lorong dengan membawa satu karung goni, yang nggak tau buat apaan.
"Astaga, kenapa kastil ini begitu besar. Aku sampai bingung dan kayaknya muternya disini-sini mulu daritadi," gumam papi Ridho.
Papi Ridho mepet tembok, supaya nggak ketauan. Dan ketika pengawal itu melewatinya segera dia bekep dan papi Ridho banting tuh pengawal ke lantai, seperti atlet judo yang handal. Tapi kalau sama mami Reva judonya versi laen ya, pih? ehek!
Braakkkkk!
"Akkkhhh!" pengawal itu pingsan seketika.
Papi Ridho gerakin kepalanya, ngilangin pegel.
"Walaupun jarang berantem. Ternyata ilmu bela diriku masih kepake juga!" papi Ridho merasa dirinya keren.
"Sshhhh, sorry! kamu harus aku buat pingsan. Dan maaf, kamu harus minjemin aku baju pengawalmu ini juga!" papi Ridho sat set ganti takut ada yang mergokin dia juga.
"Ck, kamu aku tutupin karung dulu, soalnya baju ini dibeli sama istriku dan balik aku harus pake baju ini kalau nggak, dia bisa mikirnya cem macem! ntar aku cariin kamu baju yang lain. Sementara kamu disini dulu," papi Ridho mendobel bajunya dengan baju pengawal.
"Lumayan sesek juga yah! pulang-pulang harus nge-gym lagi nih...! atau latian manjat dinding sama Rion? ah, apa aja lah!" kata Papi Ridho. Yang kini udah siap nyamar sebagai pengawal. Sebenernya bukan salah badan papi Ridho, tapi karena baju didobel dobel jadi akhirnya agak sempit.
"Nah kalau kayak gini kan mau keluyuran di istana juga aman sentosa?!" papi Ridho mulai menyusuri lorong-lorong istana. Masih untung dia bawa karung yang dia temuin di dapur, ternyata ada gunanya juga. Paling nggak, bisa berguna buat pengawal yang dibikin pingsan tadi.
Saat ini keadaan Istana lumayan sepi ya, papi Ridho aja sampe keder sendiri, ini istana apa kebon singkong?
"Hey, kau mau kemana? bukankah kita diperintahkan untuk berkumpul?" salah seorang pengawal lain negur dari arah belakang papi.
Papi Ridho keder, dia harus nengok apa kagak.
"Ehm, aku diperintahkan untuk menjaga di depan kamar puteri Odellia!" ucap papi Ridho sambil merem, takut ketauan.
"Kau pengawal baru?! kamar puteri bukan disitu! tapi di sebelah sana!" kata tuh orang.
"Bagaimana kau tau petunjukku jika kau saja membelakangiku!" ucap orang dibelakang papi.
Papi Ridho segera memutar badannya, "Disini begitu banyak ruangan, dan aku belum begitu hafal,"
__ADS_1
Namun sang pengawal senior ternyata sekarang berdiri memunggunginya dan menggerakkan tangannya, "Cepat ikut aku!"
Seketika papi Ridho mengusap dadanya sendiri, 'Alhamdulillahh...' batinnya.
'Emang rejeki nggak kemana. Nggak usah liyeur nyari tuh kamar puteri, ini malah dianterin langsung nggak pakai nyasar! rejekii ... rejeki...' papi Ridho senang bukan main.
Sementara papi Ridho yang ngikutin kemana pengawal senior menunjukkan jalan, para pengawal yang ada di Istana berbaris rapi menunggu sang raja yang keluar dari salah satu tempat di lantai atas yang emang digunakan untuk mengumumkan hal-hal yang penting.
Sang raja segera memposisikan dirinya, "Mulai malam ini, aku perintahkan penjagaan istana diperkuat! karena puteriku Odellia, putri kesayanganku mendapat serangan sihir karena kelalaian kalian dalam menjaga puteri! dan aku tidak ingin hal ini terjadi lagi!" suara sang raja menggema.
"Baik, Yang Mulia..." ucap para pengawal kompak.
Raja Abraham pun kembali lagi ke kamarnya diikuti seorang pria yang menjadi orang kepercayaannya.
"Aku ingin kau memerintahkan orang untuk mencari Dorothy kalau perlu ke seluruh pelosok negeri ini. Aku tidak ingin wanita penyihir itu berkeliaran bebas dan membuatnya mudah mencelakai puteri Odellia. Tangkap dan bawa dia hidup-hidup ke hadapanku, karena aku sendiri yang akan menghukumnya!" perintah raja.
"Baik, Yang Mulia..."
"Dan satu hal lagi, berikan surat ini pada raja George, dia pasti khawatir karena putranya tak kunjung pulang. Sampaikan padanya, aku ingin pangeran Clift menjaga calon istrinya sampa Dorothy ditemukan!" raja Abraham memberikan sebuah kain yang berisi surat untuk sahabatnya.
Sedangkan ratu Isabel tiba-tiba hadir, "Yang Mulia ... puteri kita dalam bahaya. Dorothy menggunakan orang dalam untuk menyerang puteri kita,"
Sang raja yang sama sekali nggak denger apa yang diucapkan sang ratu pun bergerak mendekati sebuah jendela besar yang kini terbuka lebar, sehingga sang raja bisa melihat jutaan bintang yang menghiasi langit malam ini.
"Andaikan kau ada disini, ratuku?" ucap raja Abraham yang mendadak melow.
"Aku disini Yang Mulia," ratu Isabel menyahuti raja Abraham yang emang nggak denger sama sekali.
Dia mencoba membelai wajah suaminya namun kosong.
Tangan sang ratu kini bagaikan angin yang menyapu wajah sang raja.
"Jika kau masih disini, tentu puteri Odellia akan mendapatkan cinta yang utuh, dan aku pun tidak akan merasa kesepian seperti sekarang ini..." raja Abraham mode curcol, sang ratu yang melihat sang raja yang lagi rindu serindu rindunya pun hanya bisa menahan tangisnya.
"Aku disini, selalu disini Yang Mulia..." ratu Isabel lagi-lagi menyahuti ucapan sang raja.
__ADS_1
"Wanita penyihir itu! aku tidak akan membiarkan dia menyakiti puteri kita. Aku tidak akan membiarkan dia memisahkan aku dari puteri kita, ratu. Aku tidak akan membiarkan tragedi itu terulang kembali di Istanaku..." mata raja Abraham menajam, ada kilatan amarah di dala hatinya.
Hatinya begitu tersayat ketika mengingat sebuah kejadian yang seumur hidupnya akan menjadi luka yang tidak ada penawarnya.
'Raja, apa kah kau ingat padaku?' tanya seorang wanita yang menjadi pelayan istana.
'Apa yang kau lakukan Dorothy?' raja Abraham murka saat mengetahui ada seorang pelayan yang berani masuk ke dalam kamarnya.
'Bagaimana bisa kau masuk ke dalam istana ini?!' teriak raja.
'Ssshh, jangan berteriak Yang Mulia. Kalau kau tidak ingin semua orang datang kemari dan menemukan kita berdua!' kata Dorothy, dia ketawa bagaikan mak lampir.
'Kau sudah gila Dorothy!'
'Kau yang gila Yang Mulia, bagaimana bisa kau menikah dengan ratu Isabel. Sedangkan ada aku yang selalu memuja dan mencintaimu Yang mulia...' Dorothy mencoba mendekat, namun sang raja menghindar.
'Kau tentu ingat, jika aku tak menolongmu saat kau tertusuk panah beracun. Kau mungkin tidak akan pernah bisa melihat indahnya dunia ini Yang Mulia ... seharusnya bukan Isabel yang menjadi ratumu, melainkan aku...' kata Dorothy nggak tau malu.
'Aku memang berhutang budi padamu, tapi itu bukan berarti kau bisa berbuat selancang ini Dorothy! dan satu hal lagi, hanya Isabel yang akan menjadi ratu di Istana ini. Bukan kau ataupun yang lain!' raja Abraham memperingatkan wanita itu.
Beberapa waktu berlalu, Dorothy diusir dari Istana. Tentu tanpa sepengetahuan ratu Isabel yang saat itu tengah mengandung anak pertama. Beberapa kali Dorothy yang merupakan seorang penyihir berusaha mencelakai sang ratu, dan raja memerintahkan semua orang yang dianggap mampu melawan kekuatan jahat untuk berkumpul dan menjaga istana.
Ketika puteri Odellia menginjak usia 5 tahun, Jendela kamarnya yang segede gaban kebuka secara tiba-tiba. Lalu dia melihat sebuah cahaya merah yang ada di langit, dia yang ingin tidur pun lantas bangun dan mencoba mendekat.
'Bagusnyaaaaa!' Odellia kecil beranjak.
Mungkin perasaan seorang ibu memang nggak bisa dilawan, baru saja Odellia berjalan beberapa langkah. Sang ratu yang hatinya gusar pun menengok ke kamar Odellia, dia ingin melihat wajah puterinya. Sang ratu yang di dampingi sang raja pun membuka pintu, dan melihat puteri mereka melihat ke arah jendela, lebih tepatnya ke arah cahaya merah yang aemakin lama semakin mendekat.
'ODELLIAAAAAAAAA...?!!' teriak sang ratu, dia pun berlari memeluk Odellia kecil.
Ctaaaaaarrrr!!!
Sebuah cahaya merah menembus badan sang ratu, seketika dia mematung. Matanya melihat ke arah sang raja yang dengan segera berlari menangkap tubuh ratu Isabel yang beberapa detik kemudian ambruk.
'ISAAABEEEEELLLLLLL?!!!!!' raja Abraham berteriak
__ADS_1