Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
74. Perjalanan


__ADS_3

"Tapi sebelum aku membantumu, aku ingin tau siapa gadis itu sebenarnya? karena wajahya sangat familiar," Defne ngomong selirih mungkin.


"Dia puteri Odellia, putri raja Abraham..."


"Benarkah?" Defne sampe muter lehernya, ngeliat si puteri dengan seksama sebelum dia balik menatap kedua mata Rion yang seakan menghipnotisnya.


"Tapi kenapa? kenapa dia bisa berkeliaran di luar Istana tanpa pengawalan?" tanya Defne.


"Ceritanya panjang, yang jelas wajah temanku Rissa persis seperti puteri Odellia. Dan hal ini dimanfaatkannya untuk bertukar posisi dengan temanku itu, karena sang puteri yang jenuh dan ingin mendapatkan pengalaman baru dengan berlibur ke luar istana sebagai rakyat biasa," jelas Rion.


"Dan sekarang aku butuh bantuanmu supaya aku bisa menyusup masuk ke dalam kamar puteri, dan menukar mereka berdua..." kata Rion. Melihat mata Rion yang menawan banget, Defne pun mengangguk.


Akhirnya setelah dapet surat jalan dari Jared, Rion, Defne dan juga puteri Odellia yang lagi nyamar jadi orang biasa pun berangkat menuju Istana.


Defne si perempuan jagger, dia naik ke dalam kereta, dia duduk sama Rion. Sedangkan Odellia, disuruh buat sembunyi diantara karung-karung tepung.


'Astaga, kenapa aku yang disuruh bersembunyi disini, uhuukkk!' batin puteri Odellia kesel.


Walaupun udah malem, tapi Rion takut ada yang mengenali wajah puteri Odellia yang mau Rion tuker tambah sama Rissa. Sebenernya sebelum berangkat, puteri Odellia sempet nolak buat balik lagi ke Istana, katanya liburannya sebagai rakyat jelata belum puas ceunah.


Tapi kan jelas disini Rion yang dirugikan, udah buat makan dia sendiri aja udah susah lah ini ditambah harus kasih makan si puteri yang seharusnya bergelimang harta, boro-boro kecipratan kaya nya, si puteri malah nyusahin yang ada.


'Pokoknya kamu harus balik ke habitat asalmu, mau kamu nggak setuju soal perjodohan dengan pangeran Clift sabodo teuing bukan urusanku. Yang jelas sekarang aku mau Rissa balik lagi sama aku!' Rion marah saat puteri Odellia, ngadat nggak mau ikut.


Ya, puteri Odellia udah cerita kalau salah satu alasan dia nggak mau balik ke Istana itu ya krena nggak mau dijodohin sama pangeran Clift, dia nggak punya perasaan sama pangeran itu meskipun mukanya gantengnya bikin orang mau pingsan. Tapi yang namanya cinta kan nggak bisa dipaksain, itu sih kata sang puteri.


Karena perjodohan dikalangan para pemimpin kerajaan itu udah sesuatu yang lumrah terjadi, jadi udah kebayang kalau iya bukan dengan pangeran Clift, bisa jadi dia akan dijodohkan dengan pangeran yang lain. Jadi nih puteri Odellia tipe-tipe cewek yang pengennya nyari jodoh sendiri gitu.


Sementara puteri Odellia merana dan sengsara karena harus sembunyi diantara karung tepung gandum, Defne malah seneng bisa duduk enak dan nyaman di samping abang ganteng. Walaupun awalnya dia galak dan judes ya, tapi giliran Rion ketemu puteri Odellia yang ternyata emang seorang puteri yang lagi nyamar, hatinya mendadak nggak terima.

__ADS_1


Sementara di dalam Istana.


Rissa masih pingsan. raja Abraham maupun pangeran Clift sama-sama tak beranjak dari kamar sang puteri.


"Aku sudah menduga, kalau suatu saat Dorothy akan melakukan hal kejam seperti ini disaat aku lengah menjaga putriku sendiri, pangeran Clift. Aku sungguh bukan ayah yang baik..." raja Abraham menangis.


'Andai raja tau, yang dia tangisi itu bukan putrinya melainkan orang lain yang menyerupai puteri Odellia...' batin Pangeran Clift.


"Aku yang tidak bisa menjaga puteri, yang Mulia ... karena puteri Odellia seperti ini saat makan malam denganku di kamar ini,"


"Jangan panggil aku Yang Mulia, panggil aku ayah. Seperti Odellia memanggilku, karena sebentar lagi kau akan menjadi suaminya. Dan kau perlu membiasakan diri untuk memanggilku ayah," kata raja Abraham.


"Andaikan yang ku nikahi gadis ini, aku rela menjaga rahasia mengenai pertukaran ini seumur hidupku,' pangeran Clift berucap lagi dalam hatinya.


"Masih beruntung, kau bertindak sangat cepat pangeran. Instingmu memang sangat tajam. Aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika air yang ada di dalam cangkir itu masuk ke dalam pembuluh darah puteri Odellia? tentu sihir itu akan memperdayainya dan membuat keadaannya lebih buruk dari ini," raja Abraham mencium punggung tangan Rissa yang dia kira Odellia.


Raja Abraham begitu sedih, sama seperti hati pangeran Clift saat ini.


"Baiklah, tolong jaga puteri Odellia. Karena aku akan keluar dan memerintahkan untuk memeriksa semua orang yang ada di istana. Aku yakin ada kaki tangan Dorothy di lingkungan Istana ini," kata raja Abraham


Raja abraham bangkit dan keluar dari kamar sang puteri, meninggalkan pangeran Clift bersama putri Odellia KW dan juga Maria.


"Panggil para pelayan yang menghidangkan makanan untuk puteri, baik yang hanya membawakan ataupun juru masaknya," pangeran Clift bicara dengan tegas.


"Baik, Pangeran..." Maria segera undur diri, dan segera melakukan apa yang ditugaskan oleh pangeran.


Ketika hanya dirinya dan juga Rissa di ruangan itu, pangeran Clift duduk di pinggir ranjng dan mengambil tangan gadis yang ada si hadapannya.


"Aku tidak akan membiarkan nenek sihir itu mencelakaimu, kau harus percaya padaku. Aku berada di pihakmu, Rissa!" pangeran Clift mengusap lembut pipi Rissa.

__ADS_1


Kalau saat itu pangeran Clift tidak cepat mengeluarkan darah Risaa, udah pasti Rissa bakal wassalamualaikum. Karena darah yang keluar pun sudah berwarna hitam, itu berarti sihir Dorothy hampir aja mengenai Rissa.


Sedangkan di tempat lain.


Anna sedang menerima hukumannya.


Cepreeeeettttt!


Sebuah pecutan mendarat di badan Anna, tangan diikat ke belakang gadia itu dusuk dengan menahan perih di sekujur tubuhnya.


"DASAR BODOH!"


Cepreeeeetttt!


"Ternyata kau sama sekali tidak bisa diandalkan!"


"Ampun, ratu...." Anna memohon agar Dorothy menghentikan cambukannya.


"Tiada ampun bagimu!!!!" Dorothy sudah mengangkat cemetinya, tapi nggak jadi. Napasnya mungkin udah bengek, makanya dia turunin lagi tangannya.


"Kalau kau sampai gagal, maka jangan salahkan aku. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada adik kesayanganmu..." ancam Dorothy.


"Jangan, jangan lakukan apapun pada Alfrida! ku mohon ratu...." Anna memohon dengan linangan air mata.


"Lakukan perintahku dengan benar! dan ada satu tugas tambahan untukmu, bawa pemuda yang bersama Odellia. Aku ingin menjadikannya pajangan supaya aku terlihat selalu awet muda, karena melihat ketampanannya setiap hari..." kata Dorothy.


Satu tugas aja belum kelar, sekarang dia dikasih tugas yang lain lagi yang entah bisa berhasil atau enggak. Karena menjadi tangan kanan Dororthy pun sebuah keterpaksaan semata, karena adiknya ditawan oleh nenek sihir itu. Dan Anna harus menebusnya dengan sebuah kesetiaan.


"Pergilah!! dan lakukan tugasmu sekarang juga?!! bawa sisir ini bersamamu, kau harus menggunakan ini pada rambut perempuan yang menyamar sebagai Odellia, tepat tengah malam nanti?!" suruh Dorothy.

__ADS_1


Anna pun dibebaskan untuk kembali lagi masuk ke dalam istana, " Akkhhh" dengan langkah yang diseret menahan sakit,  Anna berjalan menuju tempat dimana Rissa tengah berbaring lemas.


"Tenang Alfrida, kakak akan membebaskanmu secepatnya! bersabarlah..." ucap Anna sembari merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


__ADS_2