Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
157. Pernikahan Dadakan


__ADS_3

Pak Sardi mengiyakan permintaan Om Dera. Dia pun membacakan beberapa kalimat pembuka, lalu ia menjabat tangan Rion untuk mengucapkan satu kalimat suci. Sebuah kalimat yang menjadi sebuah janji antara dirinya dan penguasa seluruh alam semesta yang mampu menggetarkan setiap hati yang mendengarnya, maupun para malaikat yang turun untuk menyaksikannya.


Dengan jabatan yang sangat erat, Rion menarik nafasnya dan mengucapkan ijab dan qobul dengan sangat yakin dan lantang dalam satu tarikan nafas, yang membuat Om Dera meneteskan air matanya. Rasa bahagia kian membuncah saat penghulu dan dan seorang saksi mengatakan 'sah' atas pernikahan antara Rion dan Rissa.


"Selamat, mulai saat ini kalian berdua sah menjadi suami istri," ucap pak Sardi pada Rion.


"Terima kasih, Pak..."


Mereka pun menandatangani beberapa dokumen, dan menunjukkan dua buku kecil berwarna merah dan hijau miliknya pada Om Dera yang semakin pias saja menahan sakit di dadanya.


Om Dera menggenggam masing-masing tangan Rion dan juga Rissa, "Sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri. Jaga anak saya Rion..." Om Dera menyatukan tangan keduanya.


"Cintai dia dan sayangi dia. Dia harta saya satu-satunya, jangan kamu sakiti apalagi sia-sia kan..." kata Om Dera.


"Inshaa Allah, Om! saya akan mencintai Rissa dan menjaganya seumur hidup saya, apapun yang terjadi,"


"Apapun yang terjadi," Om Dera mengulang ucapan Rion dengan linangan air mata.


"Pah, jangan mengatakan kalau kita nggak akan pernah ketemu lagi! Rissa yakin, papa akan keluar dari ruang operasi dengan selamat dan tanpa kurang suatu apapun," Rissa meletakkan tangan papanya di pipinya yang basah.


Nggak ada adegan cium kening, nggak ada. Semua terbalut sedih dan haru membuat makna pernikahan nggak hanya sebatas kata sah, tapi menjadi satu tanggung jawab Rion untuk melindungi dan menafkahi istrinya lahir maupun batin. Memperjuangkannya disaat semua orang mungkin akan menentang keduanya.


"Jaga dia..." Om Dera mengusap pundak Rion.


"Pasti!" sahut Rion yakin.


Dan Om Dera pun segera dibawa ke ruang operasi, mengingat jadwal yang udah mundur beberapa hari ternyata berpengaruh buruk pada kondisi pasien saat ini.


Rissa hanya bisa melihat papanya masuk ke dalam ruangan yang hanya team dokter saja yang boleh berada disana.


"Papa pasti akan keluar dari ruangan itu dengan selamat, seperti yang kamu ucapkan tadi?!" Rion mencoba menguatkan hati Rissa.

__ADS_1


Pak Sardi dan Lukmam yang menyaksikannya pun berkaca-kaca. Melihat dua manusia yang sedang menguatkan satu sama lain.


Sedangkan Rissa, dia nggak ingat kalau hari ini ada seseorang yang sedang menunggu kedatangannya nanti malam.


Rion membawa istrinya ke dalam dekapannya, dia tau betapa menyakitkannya melihatborangbyang kita sayangi akan berjuang, menghadapi antara hidup dan mati sendirian tanpa bisa kita dampingi.


Rissa nggak butuh banyak kata-kata mutiara, yang dia butuhkan saat ini genggaman tangan yang menyalurkan energi agar dirinya tetap tegar menunggu detik demi detik yang menurutnya sangat lama untuk ditunggui.


Mereka semua duduk di kursi yang berjejer di depan ruang operasi. Bahkan pak Sardi semoat memimpin doa bersama untuk kesembuhandan keselamatan Om Dera.


Tapi tanpa Rion ketahui ada seorang hati ibu yang merasakan sesuatu yang lain dalam tidurnya.


"Jangan, Ariooooin?!! jangaaaaaaaan, Naaaaaakkk?!!" teriak mami Reva, dia terbangun dari mimpinya.


"Reva, Reva ... Sayang, kamu kenapa?" papi Ridho sontak bangun, dia segera mebyalakan lampu utama di kamar mereka.


Melihat nafas istrinya yang ngos-ngosan ditambah keringan mengucur di pelipisnya bikin papi Ridho memeluk wanita yang udah menemaninya sekian puluh tahun ini, "Kamu kenapa? mimpi buruk? hem?" papi Ridho menjarak tubuhnya buat ngeliat raut wajah mami Reva.


"Hhh ... hhh ... beberapa hari ini, perasaanku nggak enak. Aku selaku mimpi Arion. Sebenarnya ada apa dengan anak kita, Mas? aku ... aku yakin, kalau terjadi sesuatu dengan dia, aku yakin itu!" mami Reva ngomong dengan terburu-buru.


"Aku mimpi kalau Rion, dia menggandeng seorang perempuan yang---"


"Yang apa?" papi Ridho memegang kedua bahu mami Reva.


"Yang aku nggak inget siapa dia, tapi disitu aku nggak setuju, Mas..."


"Kamu kebanyakn nonton sinetron ini pasti. Inget, Sayang ... mimpi itu bunga tidur, jangan terlalu dipikirin. Kita berdoa aja supaya Rion selalu dilindungi dan apa yang kamu takutkan nggak terjadi," kata papi.


"Aku ambilin minum ya? kamu tunggu disini," papi Ridho turun ke dapur buat ngambil air dingin kesukaan istrinya kalau tengah malam kebangun.


Papi kembali beberapa saat kemudian dngan membawa segelas air yang berembun dari bagian luar sisi gelasnya, "Minum..." kata papi.

__ADS_1


Glek!


Glek!


Mami Reva hanya minum dua teguk.


"Sekarang kamu tidur lagi," papi Ridho menyuruh istrinya buat tiduran lagi, sedangkan dia membelai kepala mami Reva sambil membacakan surat-surat pendek, sampai iatrinya itu kembali terlelap.


Sementara di salah satu belahan bumi yang lainnya ada senyum bahagia dari seseorang yang lagi menyiapkan sebuah makan malam istimewa untuk dirinya dan seorang wanita.


Sengaja hari ini dia pulang cepat untuk menyiapkan semuanya, dari reservasi restoran, sampai membeli sebuah cincin yang dia pilih sendiri di toko berlian.


"Berapa nomornya ya? kok gue nggak kepikiran?" Thomas garuk-garuk kepala bagian belakangnya.


Dia nggak mau ambil pusing, dia ambil salah satu cincin yang menurutnya menarik dan mencobanya di jari kelingkingnya, "Kalau nggak pas kan bisa dituker lagi," kata Thomas.


"Pokoknya malam ini, gue akan membuat semuanya jadi nyata. Perasaan gue buat Rissa. Dan seandainya dia nerima gue, gue nggak akan nanya soal history dia sama Rion!" dia bergumam sendiri sambil memperhatikan sebuah cincin yang sangat cantik.


Thomas menyerahkan cincin itu pada pegawai toko, dia bilang kalau dia menginginkan cincin itu dan meminta mereka membungkusnya di sebuah kotak yang paling cantik.


Thomas mengingat-ingat lagi apa yang kurang dari apa yang akan dia berikan pada Rissa, "Bunga! ya, aku harus beli bunga,"


Rencananya, sore ini dia akan menjemput Rissa di rumahnya, dan saat itu dia akan memberikan sebuket bunga pada wanita yang membuat hatinya jedag jedug selama ini.


Setelah mendapatkan cincin yang sudah dipilihnya, Thomas pergi menuju sebuah toko bunga yang nggak jauh dari tempatnya membeli perhiasan.


'Gue nggak boleh terburu-buru, gue harus selow tapi masuk ke inti pembicaraan yang mengarah pada perasaan gue buat dia!' batin Thomas.


Dia nggak tau, kalau wanita yang dicintainya sudah milik orang lain tepat di hari yang dia pilih untuk menyatakan perasaannya.


Wajah Thomas begitu bahagia saat memilih bunga apa yang akan diberikannya pada Rissa. Raut wajahnya ini berbanding terbalik dengan Rissa yang lagi berlinangan air mata.

__ADS_1


"Beautiful flowers for someone special! ( Bunga yang cantik untuk seseorang yang spesial!" ucap penjual bunga saat menyerahkan sebuket mawar biru pada Thomas.


"Thank you!" pria itu membawanya dengan senyum yang mengembang.


__ADS_2