Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
24. Simpul Perlindungan


__ADS_3

Habis ngobrol pakai bahasa kalbu sama Loren, Rion jadi lebih waspada. Karena bisa aja makhluk yang segitu banyaknya yang kecantol sama kegantengan haqiqi mas Arion, bisa nekat gitu gabung di acara malam keakraban ini.


Ya salah satunya makhluk yang selalu jalan di belakang Slamet itu. Dia daritadi sembunyi di balik pohon gede. Mengamati aktivitas Rion dan temen-temennya.


Sebenernya dia nggak nyeremin kok. Kalau diliat dari bajunya ya dia kayak seorang pendaki. Pakai celana panjang, sepatu, jaket dengan rambut panjang yang diiket ekor kuda.


Bukannya nggak mau pakai kekuatannya, cuma Rion ini udah kebiasaan selama belasan tahun nyuekin para makhluk ghoib. Inget kan? Yang terakhir kali dia main cing cing ciripit sama hantu? Nah kan dia udah dibilangin sama papinya tuh, kalau nggak usah ngerewes hantu atau setan yang dia lihat. Pokoknya main bureng aja udah. Dan sekarang udah jadi kebiasaan nyuekin para makhluk ghoib, kebawalah sampai sekarang.


Walaupun Loren tadi sempet bilang kalau bisa aja Rion melenyapkan mereka semua pakai pedang cahayanya, tapi nggak mungkin juga Rion ngelakuin itu sekarang, sementara temen-temennya masih pada melek dan berkumpul buat nunggu makan malam.


Dan sekarang mata Rion tertuju pada Loren.


Sementara gadis itu nepuk pundaknya si Telolet, "Tha, aku ke tenda bentar ya. Mau ambil powerbank!"


"Sekalian ambilin air gue yak? yang dibotol pink! ada di saku samping," Thalita lagi duduk anteng aja sambil chat-chat an sama si Eza.


Loren bangkit dari duduknya, "Ya udah, gue ke tenda dulu!"


Gadis itu berjalan menuju tendanya, dan pergerakannya itu tertangkap oleh kedua mata Rion.


Laki-laki dengan garis rahang yang tegas dan cakepnya menembus dunia manusia maupun ghoib itu, ngikutin kemana Loren pergi.


Ternyata gadis itu masuk ke dalam tendanya.


Baru aja Rion mau manggil, ada suara yang tertangkap di telinganya.


Kwaaakkk!


Kwaaaaakkk!


Ada kawanan burung gagak yang hinggap di beberapa pohon.


"Ini pasti gara-gara nama 'Menawan' warisan papi, jadi gini nih semua makhluk ciptaan Tuhan pengennya deket-deket gue terus!" Rion menangkal hal-hal buruk dipikirannya.


Dan yang bikin kesel, dia ini kayak lagi ditontonin makhluk-makhluk astral.


Tapi dia sempet denger kalau Loren lagi ngomong sama seseorang di dalam tenda, "Siapa? Bukannya tenda ini iainya cuma dia san Thalita?" batin Rion.

__ADS_1


Karena menguping adalah suatu kegiatan yang sangat mengasyikan, jadi Rion diem-diem lanjutin dengerin pembicaraan Loren dengan si wanita itu.


"Rissa, pergi secepatnya darisana! aku tidak bisa terus-terusan menyamar sebagai dirimu!" ucap wanita yang ngomong sama Loren


"Rissa? maksudnya? kenapa dia manggil Loren itu Rissa?" batin Rion.


"Dia ada di depan! aku pergi..." suara wanita memperingatkan Loren.


Lagi ngeliatin sekitar, tiba-tiba Loren keluar dari tendanya, "Rion? ehm, ada apa?" dia heran melihat Rion yang tiba-tiba muncul.


Sementara Rion yang kaget melihat Loren keluar pun hanya bisa beralasan, "Gue cuma mau ngajak elu buat gabung sama yang lain. Bentar lagi kita mau makan malam!"


"Tunggu!" tanpa sengaja Loren memegang tangan Rion.


"Kita buat simpul perlindungan dulu!" lanjut gadis itu.


"Simpul perlindungan?"


"Ya, aku mempunyai firasat yang buruk. Bisa saja raja iblis sudah menemukan jiwa murni yang lainnya, dan kita nggak tau apakah kita biaa melewati malam ini dengan aman atau dengan ancaman? Dan juga supaya makhluk-makhluk astral yang ngikutin kamu daritadi nggak bisa mengganggu teman-teman kita," ucap Loren.


"Memangnya ada yang lain? yang seperti kita?" tanya Rion.


"Dan kamu yang ke 8. Angka yang menjadi simbol keberuntungan, kekuatan dan infinity atau tidak terbatas. Maka dari itu, kamu yang saat ini paling dicari oleh raja iblis! dia ibgin mendapatkan kamu dan itu nggak boleh sampai terjadi!" lanjutnya


"Lalu bagaimana caranya sekarang membuat simpul perlindungan?" Rion menatap Loren.


"Keluarkan pedangmu!"


Dan bukannya ngeluarin kalungnya, Rion malah sibuk ngebatin, "Senarnya elu itu siapa? Rissa atau Lorenza? cepat atau lambat gue pasti akan tau kebenarannya,"


Rion terdiam sesaat, dia teringat percakapan Lorenza dan seseorang di dalam tenda.


"Rion?" Loren memanggil Rion yang masih terpaku melihat gadis cantik yang memakai baju dengan bahan sweater hitam yang menutupi lehernya.


Rion berkedip beberapa kali, "Ah ya, sebentar!" dia nampak gugup mengeluarkan kalungngnya, lalu dia usap selongsong pedang itu dengan ibu jarinya.


Dan seketika, liontin itu berubah menjadi pedang cahaya biru.

__ADS_1


Sedangkan Loren, dia menggerakkan tangannya. Dan waktu pun seketika terhenti.


Loren memegang tangan Rion, "ucapkan bersama-sama, kedua jiwa yang murni bersatu membuat simpul perlindungan!" ucap Loren dengan menggerakkan pedang membentuk huruf X di udara. Dan terlihat dua garis berwarna biru yang dengan bentuk silang.


"Kedua Jiwa Murni bersatu membuat simpul perlindungan!" ucap Loren dan Rion bersamaan, membuat simbol yang sama di setiap sudut.


Mata Rion tertuju hanya pada Loren.


Orang-orang seperti patung hidup.


Loren tersenyum saat melihat posisi mereka. Eza yang mangap mau nyaplok daging yang udah dimasak, Slamet yang megang tutup wajan tapi satu tangannya lagi mau garuk leher. Adam yang ngelirik dua temannya dengan wajah yang kesel. Pokoknya posiai mereka tuh bikin Loren pengen ketawa disituasi yang lagi genting kayak gini. Tapi senyum itu luntur saat melihat posisi Mova yang ternyata nggak jauh dari tenda.


"Apa mungkin dia mendengar obrolan kita?" tanya Loren entah pada Rion atau pada dirinya.


Loren mendekati Mova.


"Elu mau ngapain?"


"Bukan aku tapi kamu!" Loren balikin ucapan Rion.


"Nggak ada boleh yang tau kebenaran soal kita!" ucap Loren penuh makna.


Rion merasakan tangannya mengeluarkan cahaya biru persis seperti warna pedang miliknya.


"Buat dia melupakan semuanya!" suruh Loren.


"Mana mungkin gue bisa---"


Loren mengambil tangan Rion, "Kamu harus mencobanya. Kekuatanmu lebih besar dariku atau pun jiwa murni yang lainnya. Kamu harus bisa mengenalimu sendiri, Rion!" kata Loren.


Rion pun mengembalikan pedangnya ke bentuk semula.


Tangannya yang masih terselimuti oleh cahaya dia gerakkan di depan wajah Mova, "Lupakan apa pun yang elu denger tadi!" ucapnya.


Setelah itu, Loren menggerakkan tangannya setelah Rion dan Loren menjauh dari Mova.


Dan waktu berjalan seperti semula.

__ADS_1


Mova pun tersadar, "Kok gue disini?" gadis itu bingung dan kembali menuju api unggun.


__ADS_2