Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
Mama Mertua Ngamuk Ditempat


__ADS_3

Rion mengusap kepala Rissa saat melihat istrinya itu tertidur pulas. Lampu kabin sengaja diredupkan saat langit sudah gelap dan sudah banyak penumpang yang memilih untuk beristirahat.


Sementara Rion sendiri, susah banget bahkan hanya untuk memejamkan matanya, sampai tubuhnya sendiri yang mengirim sinyal kalau dia udah nggak mampu lagi buat melek seharian, dan akhirnya Rion pun bisa tertidur tanpa disengaja.


Sementara papa Dera yang terbangun karena haus, tiba-tiba merasa sangat bersalah saat melihat, Rion dan Rissa yang kini tidur berdampingan di kursi pesawat yang bisa diatur sedemikian rupa.


"Aku yakin, kamu sesang bingung. Bagaimana akan menghadapi keluargamu di tanah air. Tapi aku yakin, kalau Tuhan sudah mengatur semua ini, meskipun apa yang aku lakukan tidak bisa dibenarkan. Kalian menjadi jodoh..." ucap papa Dera melihat anaknya ternyata mendapatkan orang yng sangat mencintainya.


Akhirnya  penerbangan mereka berakhir juga setelah memakan waktu belasan jam di udara. Beruntung Rion memesan kursi yang sangat nyaman untuk mereka, meskipun dengan itu dia harus merogoh kocek yang sangat dalam.


"Kamu bawa papa, biar aku urus barang-barang kita dulu. Kasian kalau papa nunggu," kata Rion yang menyuruh istrinya buat pulang duluan.


"Tapi...."


"Nungguin bagasi itu capek loh," kata Rion yang mengelus lengan istrinya.


"Papa lagi sakit, kasian kalau nunggu diisni terlalu lama..."


"Rion, biar papa menunggu. Tidak apa-apa, lagipula papa duduk di kursi roda, jadi tidak capek..." papa Dera masih kaku ngomong sama mantunya.


"Kita berangkat bersama, dan pulang pun harus bersama," lanjutnya.


Ketika papa mertuanya bilang kayak gitu ya udah, mereka akhirnya nunggu bagasi mereka bersama dan kemudian pulang setelah mendapati koper mereka sudah komplit di tangan. Perjalanan darat kali ini lumayan bikin Rion deg-degan, langit yang cerah nyatanya nggak berrarti buat Rion.


Kulitnya yang terbiasa dengan cuaca yang dingin, sekarang merasakan perih dan sensasi terbakar.


"Kenapa?" tanya Rissa yang beberapa kali melihat Rion mengusap telapak tangannya.


"Nggak tau kenapa, aku ngerasa kalau negaraku sedikit lebih panas dari sebelumnya," kata Rion yang duduk di depan, di smping supir. Sedangkan Rissa duduk dengan pappanya di kursi tengah.

__ADS_1


"Oh, aku kira kenapa..." Rissa takutnya ada hal lain yang Rion rasakan. Terlebih lagi, menyimpan kalung di dalam tasnya, Rissa merasakan hawa dingin yang menjalar ke tubuhnya selama dia bersentuhan dengan tasnya itu. Tapi Rissa diem aja, dia takut membuat Rion khawatir.


Di dalam mobil nggak ada pembicaraan anatara mereka bertiga, hanya sesekali Rissa mengarahkan pak supir supaya ambil jalur cepat supaya bisa cepet nyampe di rumahnya.


Dan akhirnya setelah sekian puluh menit menempuh perjalanan, mereka sampai di sebuah rumah. Rion memperhatikan rumah itu sebelum dia keluar.


'Jadi kamu tinggal disini selama ini Rissa?' batin Rion.


Dia nggak tau aja, kalau Rissa udah beberapa kali pindah kontrakan sebelum akhirnya bisa membeli rumah sendiri.


Rion turun dan ngambil kursi roda elektrik yang mereka beli sebelum memutuskan pulang ke negara sendiri. Maksudnya supaya papa mertuanya ini bisa mobilitas tanpa ketergantungan sama orang lain, dia bisa gerakin rodanya dengan hanya menggunakan sebuah tombol seperti joystick dengan ukuran yang kecil.


Dua orang yang menjaga rumah Rissa membuka pintu selebar-lebarnya, menyambut kedatangan majikannya.


"Selamat datang, Pak Deraa...." sambut bik Minah dan juga suaminya.


Kedua orangtua paruh baya itu memandang pria yang mendorong kursi roda yang di duduki papa Dera.


"Barang-barang masih ada di dalam mobil, Man?!" suruh papa Dera.


"Baik, Pak..." jawab pak Darman, tapi ternyata barang-barang sudah diturunkan oleh supir yang dicharter mobilnya oleh Rion.


"Terima kasih, Pak..." Arion memberikan sejumlah uang pada si supir.


Dan ketika mereka semua akan masuk tiba-tiba ada satu mobil yang datang dan parkir di halaman rumah itu.


"RISSAAAAAA...!" suara teriakan seorang wanita yang kini keluar dari mobilnya dan berjalan cepat mencegah semua orang yang akan masuk.


Rissa memutar badannya, "Mama?" dia kaget melihat kemunculan mama nya sendiri.

__ADS_1


Mata wanita itu membelalak saat melihat seorang pria muda yang dia sangat hafal bentuk mukanya karena mirip seseorang di masa lalunya.


"NGAPAIN KAMU KESINI?" tante Karla menunjuk wajah Rion.


"Mah, jangan kayak gitu..." Rissa nggak enak dengan sikap mama nya yang sangat tidak sopan dan cenderung mengintimidasi.


"Kok mama bisa kesini?"


"KOK MAMA BISA KESINI? PERYANYAAN YANG SANGAT BAGUS YA? KENAPA? APA MAMA UDAH NGGAK BOLEH DATANG KE RUMAH ANAK MAMA SENDIRI?" tante Karla malah marah-marah.


"Ternyata di berita itu benar ya? seseorang yang digandeng seorang model iklan yang lagi naik daun itu emang beneran kamu!" tante Karla beneran murka.


Jadi sewaktu mereka tiba di bandara, ada salah satu netizen yang ngeh kalau idola mereka datang dengan seorang wanita. Mereka gandengan tangan. Dan dia sengaja mengambil gambar Rion dan juga Rissa buat di upload di sosial media dan lumayan bikin heboh jagat maya.


"Karla jangan keterlaluan kamu!" papa Dera mengingatkan.


"Diam kamu, Mas!" tante Karla mengangkat telunjuknya, menyuruh papa Dera untuk diam.


"Sekarang kamu pergi dari sini, dan jangan pernah temui anak saya lagi?!' tante Karla kasih peringatan pada Rion.


"Dia suami Rissa, kamu tidak bisa mengusirnya! lagi pula ini bukan rumah kamu, Karla?!!" papa Dera memegang dadanya, menahan emosi.


"Pah...." Rissa dan Rion kompak mendrkat pada papa Dera.


"Hah? suami? jangan bercanda, karena itu sangat nggak masuk akal. Jangan membodohiku dengan lelucon murahan seperti ini..." tante Karla sinis.


"Mungkin ini kabar yang tidak mama harapkan, tapi aku dan Rissa sudah resmi menjadi suami istri baik secara agamaaupun negara. Kami bisa menunjukkan buku nikah, kalau mama mau," Rion dengan sikap gentle.


"Tidak, itu tidak.mungkin. Tidak mungkin anakku Rissa menikah tanpa meminta persetujuan dariku!" tante Karla melotot pada Rion.

__ADS_1


Rion meminta buku pada Rissa dan memberikan salah satunya, "Silakan mama lihat sendiri," Rion memberikan sebuah buku nikah pada mama mertuanya yang saat ini matanya membelalak dengan raut wajah marahnya.


__ADS_2