
Raja yang melihat dengan jelas sang ratu yang sanagat dicintainya hidup kembali pun segera berlari ke arah Isabel dengan perasaan yang membuncah.
"Isabellll..."
Grepp!!
Raja memeluk ratunya dihadapan semua orang. Puteri podellia yang mendengar ayahnya lari sambil neriakin nama ibunya pun langsung noleh. dan bener matanya menangkap sosok seorang wanita yang udah lama dia rindukan. puteri odellia mengangkat sedikit gaunnya supaya bisa lari ke arah sang ratu yang dipeluk erat oleh raja Abraham.
"Ibu....?" puteri Odellia mengucapkan satu kata yang membuat bibirnya kelu.
"O-dellia..." lirih ratu.
Raja Abraham melepaskan pelukannya pada ratu Isabel, dia memberi ruang putrinya buat meluk ibunya.
"ibuuuuu..." puteri Odelllia berlari ke dalam pelukan sang ratu. Pertemuan mengharukan itu sukses membuat para prajurit dan para pelayan yang berkumpul di area depan Istana pun meneteskan air matanya.
Semua orang tersentuh, termasuk dengan pangeran Clift. dia nggak kalah terkejut dengan kemunculan ratu Isabel yang dia tau udah nggak ada karena melindungi puteri Odellia dari sihir Dorothy.
Dia yang udah mengiyakan akan menikahi puteri odellia pun nggak bisa lari dari janjinya pada raja Abraham dan juga ayahnya sendiri, raja George.
"Ibu, hiks..." puteri Odellia hanya bisa mengucapkan satu kata berulang-ulang ditengah tangisnya.
"Syukurlah, i-ibu masih bisa melihatmu," kata sang ratu.
Tiba-tiba saja angin bertiup sangat kencang, sampai mereka semua mengira ini perbuatan penyihir lain yang ingin menghancurkan kebahagiaan raja dan ratu mereka.
Wuuzzzhhhh!
Selaras dengan munculnya datangnya angin misterius itu, ada sebuah lingkaran yang magis yang muncul nggak jauh dari Rion berdiri.
"Ridho, sudah waktunya kalian pergi dari sana. Ingat, Rion jangan sampai tertinggal, atau dia tidak akan bisa kembali untuk selamanya," ucap pak Sarmin, berbisik di telinga Ridho.
"Sayang, itu portal waktu supaya kita bisa kembali ke dunia kita," ucap papi Ridho pada istrinya.
"Ya udah kalau gitu!, GPL (Nggak pakai Lama)!" kata mami Reva.
"Rion, Rissa! itu portalnya, kita harus pergi sekarang juga!" teriak papi Ridho.
"Pangeran, aku harus pergi sekarang!" Rissa menganggukkan kepalanya, sebelum akhirnya dia bergegas menuju Rion yang udah ngulurin tangannya, ngajak kawin lari. Eh, bukan yak? ehek!
Hap!
Rissa berhasil meraih tangan kuat milik Rion dan segera berjalan menghampiri papi Ridho yang udah gandengan aja sama mami Reva.
Rissa yang diliatin sama mami nya si Rion pin cuma bisa ngangguk sekilas.
__ADS_1
Dan seketika itu juga Defne lari, "Arion!" serunya.
Rion yang dipanggil namanya menoleh, ada Defne yang ngos-ngosan.
"Aku hanya ingin mengatakan ... selamat tinggal!" Defne menangkap senyuman dari seorang pemuda yang bikin hati dia cenat-cenut.
"Kau harus pulang! paman dan bibi mu pasti cemas dengan keadaanmu!" kata Rion,
Defne mengangguk, "Pasti!"
"Rion?" panggil papi Ridho, dia ngulurin tangannya menggandeng tangan anak dan iatrinya. Sedangkan tangan Rion juga menggenggam tangan Rissa dengan sangat erat, sekuat lem korea.
"Ayo, bersama-sama!" ucap papi Ridho mengajak mereka berlari menuju lingkaran magis.
"Jangan lepasin tanganku apapun yabg terjadi!" lirih Rion.
"Ya," jawab Rissa.
Dan mereka berempat pun akhirnya masuk ke dalam pusaran waktu yang membuat mereka diputer-puter kayak lagi naik komedi putar.
"Aaaaaarrgghhkkkk!" semua tereakan nggak terkecuali Rissa.
Rion sekuat tenaga mencengkram pergelangan tangan gdisnya, supaya nggak lepas dan terpisah lagi.
Sedangkan pangeran Clift merasakan ada sesuatu yang hilang saat Rissa lingkaran magis itu seketika tertutup dan kemudian hilang begitu aja, meninggalkan sensasi cekat-cekit di hatinya.
"Aeerrggggggg!" papi Ridho memekik. Sebelum sesuatu cahaya putih yang terang benderang membuat dirinya menutup matanya rapat-rapat.
"Aaakkkjhhh!" tubuh papi Ridho yang terbujur di sebuah tempat tidur yang empuk pun mengerang kesakitan.
"Aaakhhh!" suara menahan sakit pun keluar dari suara mami Reva.
"Ridho, Revaa....?!!" pekik Om Karan yang melihat kedua orang yang tertidur dengan tangan yang bertaut itu akhirnya sadar.
Papi Ridho pun membuka matanya dan mengedarkan pandangan. Lantas dia nengok ke samping.
"Reva?" lirih Ridho. Dia melepaskan masker oksigen yang menutupi hidung dan mulutnya.
Dia bangun, "Reva...?" panggilnya lagi.
"Ridho, kamu baru sadar! jangan bangun seperti itu!" Om Karan ngingetin
Sedangkan pak Sarmin yang ada disitu juga menghampiri kedua suami istri yang berada di ranjang yang sama.
"Pak Haji, Reva---" papi Ridho khawatir dengan keadaan istrinya.
__ADS_1
"Uhukkk!" Reva terbatuk. Sepersekian detik kemudian dia membuka matanya.
"Reva, Reva?! alhamdulillah...?!" papi Ridho mengusap kepala istrinya dengan tangannya yang ternyata terluka.
"Awwkjh!" mami Reva ngerasa pusing.
"Mas?" lirih Reva menatap kedua bola mata papi Ridho.
"Rion, dimana Arion?" pertanyaan mami Reva sontak mebuat papi Ridho juga mencari keberadaan anaknya.
Ketika dua orang yang baru bangun sejak mereka menembus pusaran waktu itu panik, ada telepon yang masuk di hape Om Karan.
"Ya? halo!" sapa Om Karan.
"Dengan tuan Karan Perkasa?" suara seorang pria diseberang telepon.
"Ya, saya sendiri. Maaf ini dari mana?"
"Kami dari team rescue, Tuan! kami hanya ingin mengabarkan, jika pendaki atas nama Arion sudah di temukan di sebuah hutan bersama seorang gadis. Saat ini mereka belum sadar," kata orang itu, mengabarkan sesuatu yang sudah lama ditunggu olehnya.
"Ketemu? syukurlah?!! kami akan segera menjemputnya!" Om Karan dengan hati yang bergetar.
Dia menutup telepon itu dan segera menghampiri Reva yang udah nangis, dia kira kalau anaknya ilang lagi.
"Reva, Reva. Rion ketemu! team penyelamat menemukan Rion di hutan!" ucapan Om Karan seketika membuat mami Reva mendongak dan bangun dari tempat tidur.
"Ketemu? beneran? kamu nggak bohong kan?" mata mami Reva mencari kebohongan dari kedua bola mata sepupunya itu, tapi nggak. Dia nggak nemuin itu.
Papi Ridho sontak melepas infus yang terpasang di punggung tangannya dan menghampiri istrinya. Dia memeluknya erat.
"Anak kita ketemu, Masss! Arioon ketemu Maasss, hiks!" tangis wanita itu pecah saat tau anak semata wayangnya ketemu setelah sekian bulan menghilang. Mereka berdua menangis bersama.
Pak Sarmin hanya bisa tersenyum bahagia, meskipun tubuh rentanya nggak bisa bohong kalau dia sangat lelah karena mengeluarkan banyak tenaga. Bahkan dadanya sekarang sangat sakit
Mami Reva melepaskan pelukan suaminya, dia menengok ke arah sepupunya.
"Kita harus kesana sekarang!"
Braaaaakkkkk!
Pak Sarmin yang semula berdiri, lantas jatuh pingsan.
"Paaaaak, pak hajiiii!" teriak papi Ridho. Dia meraih tubuh pria yang sudah sekuat tenaga membantunya mencari Arion.
"Pak, Pak haji..." panggilnya lagi.
__ADS_1
"Panggilkan dokter!" ucap papi Ridho menatap Om Karan, yang dengan cepat mengangguk dan mengeluarkan hapenya.
"Halo, Dokter! tolong datang kemari secepatnya!" ucap Om Karan yang juga khawatir dengan pak Sarmin.