
3 minggu akhirnya berlalu juga.
Dan selama itu pula Rion beneran ngurusin papa mertuanya itu bersama-sama dengan Rissa yang mulai terbiasa dengan suasana di negara itu. Dan hari yang dinanti pun tiba. Ketika mereka semua bisa pulang ke Indonesia dengan membawa berita baik mengenai kesehatan papa Dera.
Tapi disisi lain, Rion agak h2c ini loh (harap-harap cemas) mengingat pernikahannya dengan Rissa belum diketahui orangtuanya.
"Kenapa? apa ada yang mengganggu pikiran kamu?" tanya Rissa saat pesawat mereka baru saja take off.
"Apa ada yang ketinggalan di rumah?" Rissa lanjut nanya lagi, soalnya muka Rion nggak kayak biasanya.
Rion menggeleng, "Nggak kok, tenang aja...."
"Aku udah kirim duluan barang-barang kita ke rumah," lanjut Rion, dia menggenggam tangan Rissa. Sedangkan tempat duduk mertuanya ada di bagian tengah, dia sekarang lagi rebahan. Saat pesawat udah mulai stabil di atas.
"Kamu istirahat aja, kamu kan capek seharian ini..." kata Rion.
"Kamu lebih capek kayaknya, kamu malahan bantuin aku selama papa di kontrol bolak-balik ke rumah sakit. Dan kamu juga yang udah ngebiayain semua perawatan papa, aku jadi ngerasa kalau aku nggak enak..."
"Nggak usah terlalu dipikirin," kata Rion.
"Penerbangan ini akan memakan waktu yang cukup lama, mending sekarang kamu tidur. Biar kamu fresh..." Rion menyuruh Rissa untuk rebahan dia menutupi sebagian tubuh Rissa dengan selimut. Rion emang sengaja beli tiket pesawat kelas eksekutif, karena supaya papa Dera bisa nyaman berjam-jam di dalam pesawat. Karena dia kan habis operasi.
__ADS_1
Rion mengirim semua barangnya ke rumah Rissa, bahkan dia belum mengabari mami nya sama sekali. Sementara istrinya tidur, Rion masih mikir gimana caranya dia ngasih tau mami Reva.
'Sesuai rencana, yang gue kasih tau dulu papi. Sekaget-kagetnya papi, papi pasti bisa mencoba tenang dan reaksinya nggak semenakutkan mami,' Rion dalam hatinya.
Sedangkan kalung yang emang udah hampir sebulan ini menunjukkan keanehan, Rion simpan di dalam sebuah kotak. Rion nitip di tas Rissa, karena kalau dia sakuin keliatannya nggak estetik gitu karena ngejendol gitu disakunya. Jadi dia titipin sama Rissa aja udah, beres. Yang penting tuh barang aman.
Rion kan beberapa tahun ini mimpinya selalu sama, seorang pria berkusi roda yang diserap energinya dari sesosok makhluk jahat berjubah. Dan mimpi itu ternyata emang beneran kejadian, sosok pria itu Om Dera yang berhadapan dengan sesosok iblis yang juga mengganggunya di apartemen dan mencelakai Rissa di danau beku. Rion merasa kalau semua yang terjadi emang udah jadi jalan takdirnya yang ujung-ujungnya harus bersama dengan Rissa. Emang dunia ini suka nggak adil terutama untuk Thomas yang patah hatinya bukan main, sakit minta ampyuun.
Bicara soal Thomas, Rion sempet ketemu sama Thomas. Mereka duduk-duduk di danau yang menjadi cikal bakal pertukaran napas antara Rion dan Rissa, yang disitu Rion keliatan panik dan udah fix ketauan sama Thomas kalau kedua orang itu punya hubungan yang spesial pake telur setengah mateng dua biji. Yeuuuh, udah kayak nasi goreng aja tuh spesial pakai telor!
'Gue sebenernya males ya ketemu sama elu!' kata Thomas kala itu. Mereka memandangi danau yang kini udah mencair, yang udah nggak bisa lagi buat main ice skating.
'Gue juga!' sahut Rion singkat.
'Tapi aku yang lebih dulu!' Rion menyerobot.
'Tapi elu yang ninggalin! dan liciknya menyerobot ketika aku udah deket sama Rissa...' Thomas udah tau kalau Rion yang ninggalin Rissa waktu itu.
'Bersatunya gue dan Rissa itu udah takdir, dan gue maupun elu nggak bisa bicara seandainya. Karena nyatanya kata seandainya nggak berlaku saat ini. Gue yang jadi suami Rissa saat ini, dan kalau elu mau protes. Protes sono sama Tuhan!' Rion dengan tegas.
'Setiap orang punya takdirnya sendiri, Thom! Gue dan Rissa udah melalui hal sulit yang elu sendiri nggak akan mampu ngebayanginnya. Jiwa kami udah bersatu, jadi meskipun raga kami terpisah tapi batin kami saling terhubung...' lanjut Rion.
__ADS_1
'Dan gue benci itu!" Thomas menengok melihat dengan tatapan sinisnya.
'Mau nggak mau itu kenyataan yang harus elu terima. Gue kesini cuma mau pamitan,' Rion bangkit, kemudian disusul Thomas.
'Maksudnya?'
'Gue akan mulai kehidupan gue dengan Rissa di negara gue sendiri, dan gue rasa ini waktunya gue pulang ke rumah. setelah gue menyibukkan diri disini. Sorry dengan apa yang udah terjadi, dan thanks karena elu udah jadi jalan gue ketemu sama Rissa,' Rion blak-blakan.
Thomas udah mau ngangkat tangan kanannya, dia pengen banget nonjok Rion tapi nggak jadi.
'Gue balik sekarang,' Rion berbalik, dia hanya ingin menyelesaikan masalah diantara mereka secara gentle, perkara Thomas nggak terima ya itu udah jadi masalah dia sendrii. yang penting Rion udah berniat buat ngomong baik-baik.
Saat Rion udah berjalan tiga langkah, Thomas memanggilnya.
'Tolong jaga dia! jangan sakiti apalagi menyia-nyiakannya! karena kalau sampai itu terjadi, gue nggak bakal tinggal diam! gue bakal rebut dia dari elu, Arion!' seru Thomas.
Rion memutar badannya, 'jangan harap! karena itu nggak akan pernah terjadi, walaupun hanya dalam mimpi!' sahut Rion.
Tanpa aba-aba, Thomas berlari dan memeluk sahabatnya untuk yang terakhir kali, dia menepuk bahu Rion beberapa kali, 'Elu emang temen gue yang paling brenggssek!'
'Sorry, Thom...'
__ADS_1
'Gue berdoa supaya takdir baik juga segera bekerja di dalam kehidupan elu!' Rion melepaskan pelukan Thomas.
'Gue pamit,' Rion menepuk pundak Thomas sebelum berjalan meninggalkan sahabat selama tinggal di negara itu.