
'Rion, bangunlah...' ucap seorang perempuan yang beberapa waktu ini selalu bersamanya.
'Bangun?' sahutRion yang masih mode ngobrol lewat batin, karena suaranya seakan nggak bisa keluar bagaimana pun Rion berusaha.
'Keluargamu menunggumu,' ucap perempuan itu.
'Maksud kamu apa, Rissa? emang kita lagi dimana?'
Tapi sosok perempuan itu malah menghilang.
'Rissaaaaaaaa....!' teriak Rion.
Sanak saudara udah dapet giliran menjenguk Arion termasuk pak sarmin.
"Nak Rion... bangunlah, jangan berkelana lagi. Kasihan orangtua mu, mereka sedih memikirkan kamu, Rion. Pulanglah, Rion..." ucap pak sarmin yang udah baikan. Dia menyempatkan untuk menginap di rumah sakit. Dia terus melantunkan ayat-ayat suci untuk memanggil kembali Rion yang terjebak dalam pikirannya sendiri.
Entah keajaiban atau emang Rion yang udah kenyang tidur berhari-hari. Akhirnya mata indah itu perlahan terbuka.
"Alhamdulillaaaaah," ucap si kakek.
Mami dan papi yang baru aja masuk ke dalam ruangan bawa makanan pun seketika yetkejut saat melihat mata anaknya terbuka.
"Alhamdulillahh," mami Reva berhambur ke tempat tidur anaknya.
Papi Ridho memencet bell memanggil perawat yabg berjaga saat itu. Karena ini pasien spesial, maka yang beberapa dokter diminta untuk selalu memantau keadaan Rion. Dia ditempatin di ruangan yang warbiasah ajibnya. Emang faktor duit nggak bisa bohong ya, Om Karan membayar mahal untuk ini. Mana ada dokter ikutan ngeshift kayak perawat, ya kan? Om Karan emang mantul pisan!
Semua orang disuruh keluar dulu, dan mereka menunggu dengan cemas.
"Berkat doa kita semua," papi Ridho mengusap punggung mami Reva.
Doktet keluar dengan raut wajah yang lega, karena dia selamat dari kena damprat Om Karan.
"Tuan, Nyonya, pasien atas nama Arion sekarang sudah sadar, tapi kita harus observasi dulu. Jadi untuk sementara waktu, untuk tidak dikunjungi terlebih dahulu," ucap Dokter.
"Tenang, tenang, Arion bakalan baik-baik aja!" ucap papi Ridho pada istrinya.
Selama menunggu Observasi, Om Karan tadi nganterin pak Sarmin balik dulu. Kondisi pak Sarmin juga kan belum stabil, tapi dia keukeuh pebgen jengukin Arion. Dan setelah keadaan Arion yang dinyatakan sudah sadar, pak Sarmin pun pulang dengan hati yang plong.
Sedangkan mami dan papi masih setia nungguin anaknya. Jangankan cuma nungguin di depan kamar rawat, nungguin berbulan-bulan dan menyebrangi dunia antah berantah aja mereka siap lakoni loh.
__ADS_1
Dengan jari jemari yang saling bertaut mami Reva bersandar di bahu papi Ridho, "Aku masih kepikiran..."
"Soal?"
"Soal gadis itu, Mas..." mami Reva keinget lagi dan lagi adegan saat Rion menggendong seorang gadis saat di negeri dongeng.
"Jangan mikirin hal yang lain dulu, kita fokus sama kesehatan Rion aja. Aku nggak mau kamu stress," ucap papi.
"Aku bisa liat dari sorot matanya kalau Rion ada hati sama anaknya Karla..."
"Itu kan baru ada di persepsi kamu sendiri, menurut penglihatan kamu. Sebaiknya kita nggak usah bahas Karla atau Dera. Anak lita baru aja siuman, dan kita harus mensyukuri itu daripada pusing-pusing mikirin sesuatu yang belum jelas arahnya," papi Ridho menyibak rambut yang menjuntai, menutupi sebagian wajah istrinya.
Om Karan pun mengabari semua keluarga, dan mereka semua nggak berhenti buat mengucap syukur. Apalagi mami Reva, dia merasa kalau banyak sekali keajaiban yang dia terjadi dalam kehidupannya. Anak semata wayangnya akhirnya selamat dari incaran para makhluk ghoib.
Sementara di tempat lain.
Tante Karla dan Om Dera udah mindahin Rissa yang masih anteng di tempat tidur, tanpa ada tanda-tanda untuk melek.
Mungkin efek dari orang yang udah menyebrangi dunia lain itu ya beda-beda. Ada yang sehat walafiat, ada juga yang mungkin saking banyaknya energi yang terserap saat disana, mereka jadi hibernasi waktu yang lama. Ibarat batre yang lowbat ya harus di charge dulu.
"Kamu pulang gih, mataku sepet liat kamu!" kata tante Karla.
"Aku yang bayar ini rumah sakit jadi---"
"Please, jangan ngomongin soal duit duit duit terus. Kepalaku puyeng!" Om Dera yang udah taubat, bisa jadi gagal tobatnya kalau dipancing sama tante Karla terus.
"Kayak kamu nggak gitu, Mas!" tante Karla nyindir.
"Iya iya iya, untuk yang kesekian kalinya aku ngaku kalau emang aku yang dulu itu jahat, angkuh, dan mandang segala hal dengan duit. Tapi aku udah tobat, Karla. Dan bukannya kamu mensuport, tapi kamu malah ngejatuhin mulu yang ada..." Om Dera gregetan.
"Aku cuma nggak suka kamu pakai minta maaf minta maaf kayak gitu sama Ridho dan Reva, Norak tau nggak? kamu kira lagi syuting sinetron? lebay banget mau minta maaf juga,"
Om Dera cuma bisa geleng-geleng kepala, 'Aku ngeliat kamu, kayak ngeliat diriku sendiri di masa lalu' batinnya.
Apapun yang jeluar dari mulut tante Karla, Om Dera nggak peduli. Dia cuma pengen nemenin anaknya.
"Maafin papa ya, Rissa..." lirihnya. Bahkan saking lirihnya tante Karla sampai nggak denger.
Tiba-tiba tante Karla yang daritadi ngajak perang pun pergi. Nyari angin biar nggak sumpek.
__ADS_1
"Kamu harus padamkan api dendammu Karla. Jangan sampai kamu menyesall nantinya," ucap Om Dera ketika pintu udah ditutup.
Sementara tangannya masih menggenggam tangan putrinya, "Seharusnya kamu jangan berbuat hal yang membahayakan diri kamu, Rissa. Kamu nggak perlu membayar semua dosa papa, Rissa..."
Lembut Om Dera mengelus pucuk kepala Rissa, "Beruntung papa punya anak seperti kamu. Tapi kamu yang kasian punya papa seperti papa kamu ini. Semua harta papa sudah habis, Rissa. Tapi nggak apa-apa, asalkan papa bisa lepas dari jerat iblis itu. Papa rela kehilangan apapun, kecuali kamu..." ucapan Om Dera tulus dari hati.
Tak!
Tak!
Tak!
Gerakan jari Rissa.
"Rissa? kamu mendengar ucapan papa, Rissa?" mata Om Dera membulat saat merasakan gerakan tangan anaknya.
"Dokterrrrrrr!!" teriak Om Dera. Dia mencet bell.
Dan nggak lama ada perawat yang datang.
"Suster, anak saya. Dia tadi gerakin jari tangannya...!" Om Dera yang seketika merasakan sakit di dadanya.
Tapi dia tahan sekuat tenaga.
"Aaakkh!" Semakin sakit yang dia rasa.
"Tunggu sebentar, Pak! saya akan panggilkan dokter," ucap suster yang keluar.
Namun pandangan Om Dera makin lama makin kabur.
"Rissaa..." ucapnya sambil bergerak ke arah ranjang putrinya.
Dan...
Braaakk!!
Om Dera terjatuh. Dia nggak sadarkan diri.
"Paaak, sadar, Paaaak?!!" suster yang tadi baru menarik handle pun melihat ke belakang dan menemukan pria itu sudah jatuh.
__ADS_1