Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
79. Dasar Beubeugig!


__ADS_3

"Maaf, bahkan kita sudah melewati lantai ini sebanyak dua kali!" papi Ridho beraniin diri buat ngomong. Ya iyalah, orang betis udah pada kenceng semua!


Rion yang denger suara orang yang mirip sama papinya pun menggerakkan matanya ke kanan dan ke kiri lalu leng geleng geleng kepala, 'Gue pasti ngehalu parah nih! mana mungkin itu suara papi! Rion, sadar Rion, elu pasti udah mulai ngantuk!' Rion ngomong dengan dirinya sendiri.


Padahal bukan halu, itu emang papinya yang sengaja nyusulin Rion. Bukannya nyamperin, atau minimal tepok bahu. Lah ini diem-diem bae, malah nyangka kalau itu suara-suara ghoib. Emang bener-bener yak si Rion anak durhakim, kagak ngenalin suara papinya sendiri. Di kruwes mami Reva baru tau rasa elu, Yon!


"Kita kapan sampainyaaaaa?" papi Ridho agak ngegas, dan sang senior pun mandeg mendadak.


Eeiiittsss, untung kaki papi Ridho pakem.


"Apa kau bilang?" pengawal senior.


"Aku akan mendapat masalah jika tak melaksanakan perintah!" ucap papi Ridho, suaranya ditegas-tegasin.


"Kita kembali ke atas!"


'Yaaaaasaaalaaaaammmm! kan kan jadi daritadi tuh aku dikerjain ama orang? dasar beubeugig!' batin papi Ridho, dia kueeesel banget.


Sedangkan papi Ridho yang fokusnya sama kakinya yang udah pegel, nggak ngeliat tuh anaknya lagi cosplay jadi tembok.


Papi Ridho dan pengawal senior yang belagu. naik lagi ke atas.


Rion yang ngeliat mereka berbalik cuma bisa merem dan pura-pura jadi patung selamat datang di tengah kegelapan. Anak sama bapak sama-sama koplaknya begini nih. Kesel jadinya ya kita. Untung ganteng, ehek!


Papi Ridho udah naik ke atas, suara langkahnya pun makin lama makin jauh.


Rion nepok puteri Odellia, "Ada jalan lain? karena kalau kita lewat tangga itu, pasti akan berpapasan dengan para pengawal. Aku tidak ingin membuat gaduh istana..."


"Hemmmm??" puteri Odellia lagi mikir.

__ADS_1


"Cepatlah berpikir, karena Louis pasti audah menunggu. Aku akan membawa Rissa menggunakan kereta itu!" Rion udah mulai gelisah. Sementara, kalau dia cepet bertukar posisi dengan Rissa. Berarti dia akan cepet berpisah sama Rion. Cinta baru mau bersemi, eh udah layu duluan karena nggak ada yang nyiram. Kan amsyong ya, puteri Odell?


Sedangkan di gudang bahan makanan. Louis mencak-mencak, perkara si Rion yang katanya ijin nyari air tapi kok nggak balik-balik.


"Apa dia mencari air sampai ke tengah hutan? kenapa lama sekali?!!" Louis lanjutin angkut karung yang ada di kereta Rion.


"Akan ku minta setengah upah miliknya nanti!" Louis nggrundel mulu daritadi.


Sementara ada makhluk yang iseng, sesosok makhluk penunggu gudang. Dia balikin karung yang Louis taruh, ke dalam kereta.


"Kenapa sejak tadi tak berkurang satu pun jumlah karungnyaaa?!!" Louis mulai tepar.


Sedangkan makhluk dalam wujud perempuan itu pun tertawa melihat Louis yang kesal. Sosok itu nggak ada sangkut pautnya sama Louis, nggak ada. Dia cuma makhluk astral yang emang suka usil dan caper. Masih untung Louis nggak punya six sense, jadi dia nggak bisa liat bentukannya itu hantu.


Louis yang ngerasa punggungnya udah pegel pun ngitung lagi sebelum dia angkutin karung itu lagi.


"Sepuluh! iya, sepuluh..." Louis inget-inget lagi jumlah karung yang dia mau angkut.


Braakk!!


"Astagaaa, punggungku rasanya sakit semua..." Louis yang nggak biasa ngeluh pun sekarang memijat punggungnya sebelum mau angkat-angkat lagi. Dan pas dihitung. Jumlahnya masih sama, sepuluh. Apa nggak gedeg tuh si Louis?


Seketika kaki Louis lemas, "Astagaaaaaaa!" dia pengen garukin tembok.


Sementara Rion lagi cari jalan lain, dan Louis lagi tepar dan lemes mau istirahat dulu, ada pangeran Clift yang lagi mandengin satu persatu pelayan, baik yang masak di dapur ataupun yang hanya mengantarkan makanan untuk sang puteri, kecuali Maria ya. Karena Maria harus jagain puteri Odellia yang lagi diperanin oleh Rissa.


Meakipun pangeran Cluft belum reami menjadi suami puteri raja mereka, tapi raja Abraham udah percaya banget sama pangeran Clift. Apalagi menyangkut keamanan dan keselamatan puteri Odellia.


Ibarat kata, pangeran Clift ini emang udah digadang-gadang bakalan jadi pendamping dan pelindung puteri Odellia, jadi nggak ada satu pelayan pun yang berani mangkir dari panggilan pangeran dari negeri seberang ini.

__ADS_1


"Jadi siapa saja yang memasak makanan untuk puteri?" pangeran memutari mereka.


Aura pemimpin berikut dengan ketampanan yang membuatnya begitu memikat hati, namun tetap bikin merinding takut kalau lagi marah pun membuat para wanita kicep, nggak ada yang berani ngomong sedikitpun.


Bukan karena mereka berbuat jahat, tapi emang mereka keder. Kok bisa, makanan yang dimasak dengan sejuta rasa dan kehati-hatian malah membuat puteri hilang kesadaran. Kan aneh gitu.


"KALIAN TULI? SIAPA YANG MEMASAK MAKANAN UNTUK PUTERI MALAM INI?! CEPAT KATAKAN! SEBELUM MEJA ITU TERBANG MELAYANG KE ARAH KALIAN!" pangeran Clift udah gregetan banget sama sikap diam para pelayan.


Sampai akhirnya ada beberapa orang yang kompak ngejawab 'I-iya, p-pangeran. K-kami yang memasak untuk puteri!


"APA YANG KAU MASUKKAN KE DALAM MAKANAN ITU? HAH? CEPAT KATAKAN?! SEBELUM AKU MENEMUKAN KEBENARANNYA SENDIRI DAN MENGHUKUM KALIAN SATU PERSATU!" pangeran Clift menampakkan kemurkaannya.


Kini salah satu yang menjawab, dengan tangan menyilang di depan, menggenggam tangannya gemetar, "Tidak ada, Pangeran. Sungguh, kami memasak seperti biasa. Tidak mungkin kami ingin mencelakai puteri Odellia..." ucapnya takut.


"Semua makanan yang akan disajikan semua sudah melalui uji keamanan," lanjutnya.


"Bisa saja salah satu diantara kalian yang menaruh sesuatu yang berhubungan dengan sihir, setelah makan itu diuji coba?!" pangeran Clift, yang menjaga etikanya buat nggak duduk di kursi pemimpin kerajaan.


"Jika ada yang berani mengatakan seseorang yang kalian curigai, aku akan berikan hadiah. Identitas kalian akan dirahasiakan. Tapi Jika terbukti salah satu diantara kalian yang berdiri disini ternyata menjadi penghianat kerajaan, hukuman yang pedih akan segwra menanti. Akan ku pastikan itu!" pangeran Clift berbalik dan meninggalkan para pelayan yang sekarang memandang satu persatu wajah temannya dengan perasaaan ya takut ya bingung ya macem-macem lah.


"Dimana Annaa?" salah seorang pelayan menyadari kalau Anna nggak ada di tengah-tengah mereka.


"Kemana dia?" pelayan itu mencari-cari keberadaan pelayan yang selalu berada di dekat puteri Odellia.


Sementara di tempat lain, puteri Odellia melambatkan langkahnya.


"Kenapa? kenapa kau berhenti puteri?" tanya Rion yang melihat puteri Odellia mendadak ngerem kakinya. Mereka di depan sebuah pintu, yang akan menembus ruang rahasia yang hanya pewaris kerajaan yang mengetahuinya.


"Tidak sembarang orang boleh melaluinya!" ucap puteri, dia melirik Defne.

__ADS_1


"Maksudnya?' tanya Defne.


"Kita tidak punya banyak waktu puteri Odellia!" desak Rion.


__ADS_2