
Dira kembali ke kamarnya, setelah mendengar ucapan Alby. Dirinya lebih memilih untuk berada di kamar, dan memilih keluar setelah Alby pergi. Setelah Alby pergi, Dira pun keluar dari kamarnya. Dira duduk di meja makan.
" Neng Dira mau sarapan apa? Biar si mbok buatin."
" Dira sarapan ini aja Mbok."
Ucapnya sambil menunjuk roti yang ada di meja. Dira pun mengoleskan roti dengan selai coklat. Setelah selesai, Dira pun berpamitan untuk ke butiknya.
" Mbok, Dira berangkat ya?"
" Loh, Neng Dira mau kemana?"
" Dira mau ke butik, Mbok."
" Tapi neng, Neng baru aja sehat. Istirahat di rumah dulu ya Neng. "
" Dira udah gak apa-apa kok, Mbok. Dira pergi dulu ya Mbok. Assalamualaikum."
Dira pun pergi, menggunakan taksi yang sudah di pesannya. Setelah berkendara selama tiga puluh menit, kini Dira sudah tiba di butik Azzura miliknya, sudah ada Dea disana.
Dira langsung masuk ke ruangannya, di ikuti Dea di belakangnya. Dea menjelaskan beberapa hal yang berhubungan dengan penjualan Butik.
" Permintaan di butik mulai tinggi Dir. Kita perlu cari anggota untuk bagian Produksi."
__ADS_1
" Ya udah, kamu cari aja. Minta bantuan Atik atau anak-anak bagian produksi."
" Oke."
Lalu Dea menatap Dira, dengan pandangan sendu.
" Dir..."
" Kenapa De. Aku baik-baik aja."
Dira berusaha untuk tersenyum, walau sebenarnya keadaanya tidak baik-baik saja. Dea membelai punggung tangan Dira. Dan mencoba tersenyum.
" Kalau kamu pingin sesuatu, kamu bilang ya sama aku. Hm.."
Sementara di tempat lain.
" Semua udah beres?"
" Udah Bee. Bee...kamu kenapa? Apa terjadi sesuatu antara kamu dan Dira?"
Alby yang mendengar ucapan Syifa pun hanya melihat sejenak, lalu kembali menyusun barang yang akan di bawa pulang.
" Bee.."
__ADS_1
" Aku gak apa-apa, Fa. Kamu jangan khawatir ya. Kamu fokus aja sama kesehatan kamu."
Syifa pun hanya diam, sementara Tante Yuni yang ada disana pun menelisik wajah Alby. Terdapat gurat kesedihan disana yang coba di tutupi oleh Alby.
Alby menjemput Syifa dari rumah sakit hari ini, setelah keguguran yang dialaminya. Di perjalanan menuju rumah yang di huni Syifa, Alby melihat pedagang siomay, dan rasanya ingin sekali Alby memakan itu. Namun di urungkan karena dia ingin Syifa dan Mamanya segera sampai dan beristirahat.
Kini mereka tiba di rumah yang di huni Syifa. Alby membantu Syifa turun dari mobil. Dan Tante Yuni membawa barang-barang di bantu oleh Mbak Tia membawa barang ke kamar Syifa.
" Bee..malam ini kamu nginep disini kan?"
Alby mencoba menolak, namun melihat pandangan berharap dari Syifa, Alby hanya diam.
"Bee.."
" Kita lihat nanti ya,Fa."
Syifa menghela nafasnya, mencoba mengurai rasa sesak di hatinya. Selama menikah, Alby hanya dua kali menginap di rumahnya. Itu pun karena mamanya tidak bisa menemaninya.
"Apa Dira sudah tau mengenai pernikahan kita, Bee."
Alby terdiam, tangannya yang tadinya menyusun pakaian di lemari seketika berhenti. Dan wajahnya sedikit menoleh. Saat ini Alby ingin sekali mengatakan yang sejujurnya. Namun Alby tak tega melihat keadaan Syifa yang masih lemah.
" Sebaiknya kamu jangan berpikir yang macam-macam. Sebentar lagi Mbak Tia akan membawa makan siang. Kamu sebaiknya makan, minum obat, lalu istirahat."
__ADS_1
Syifa terdiam. Walau Alby tak mengatakan secara kasar, namun Syifa dapat merasakan, bahwa Alby menghindari pembicaraan tentang Dira.