
Kejadian di butik terus berputar di kepala Dira. Bahkan beberapa kali Dira menepuk-nepuk kepalanya.
Flashback on.
" Jangan menangis lagi, Dir. Cukup."
Ibu jari Alby menghapus air mata di pipi Dira. Kini bahkan Alby semakin mendekat ke arah Dira. Alby hampir saja kelepasan membawa Dira dalam pelukannya.
Dira segera mendorong tubuh Alby. Wajahnya tampak memerah, antara malu dan marah. Dira malu karena kedekatan antara dirinya dan Alby. Dira juga marah pada dirinya sendiri, yang tidak bisa menahan perasaanya.
" Maaf."
Dira mengangguk, lalu mengalihkan pandangannya. Setelah hujan berhenti, kini Alby menghantarkan Dira pulang ke rumah orang tuanya. Selama di perjalanan Dira dan Alby lebih banyak diam.
Flashback off.
Dira menyambar kunci mobilnya. Dan keluar dari butik. Saat ini, Dira butuh seseorang untuk bercerita. Dira mengendarai mobilnya menuju kediaman Dion dan Dea. Sebelum tiba, Dira membeli beberapa buah tangan untuk Keluarga kecil itu.
Setibanya di halaman rumah Dion. Dira di sambut oleh Davi yang sedang bermain bersama pengasuhhnya.
" Ante Ilaaa....."
__ADS_1
Suara Davi menggema memanggilnya. Dira pun menunduk kan tubuhnya, agar bisa memeluk Davi yang berlari ke arahnya. Setelah berpelukan dan menciumi bocah imut itu.
" Bunda dimana sayang?"
Ucap Dira sambil menggendong Davi masuk ke rumah. Diikuti oleh pengasuhnya.
" Di kamal, lagi bobo cama dedek."
Tak lama, Dea keluar dari kamar. Dan melihat Dira yang sedang bermain bersama Davi.
" Eh...Dira. Udah lama?"
" Enggak...aku tadi cuma nemenin Maura bobok. Kamu udah makan?"
" Belum, aku kesini mau numpang makan. Kamu masak apa?"
Dea pun menyiapkan makanan di meja makan. Dea dan Dira pun makan bersama, sambil bertukar cerita. Setelah itu, Dea pun melihat Davi yang sedang tertidur.
" Sebenarnya kamu kenapa, Ra?"
Dira melihat Dea yang datang dengan membawa dua gelas jus buah di tangannya. Kini Dira dan Dea berada di taman belakang rumah Dea.
__ADS_1
" De, aku bingung. Sejujurnya hatiku masih menyayangi Mas Alby. Namun setiap kali melihatnya, aku selalu saja teringat akan penghianatan yang di lakukan oleh nya dulu."
Dira berkata dengan sesekali mengusap air matanya. Dea membelai punggung tangan saudara sekaligus sahabatnya ini.
"Ra,emang gak mudah untuk kita menerima sebuah penghianatan. Sakit dan luka karena hal itu pasti akan terus teringat. Kalau kamu menerima Mas Al, hanya karena Hanan. Kamu akan menyakiti dirimu sendiri, dan semua orang. Hanan memang membutuhkan Ayahnya. Tapi kalau memori itu terus menyakitimu, apa kamu akan nyaman dengan itu semua?"
Dira diam. Mencerna ucapan Dea.
" Ra, sebenarnya tak ada yang rumit. Seandainya kamu mau memantapkan hati. Kemana Dira yang dulu, yang selalu bisa cepat dan tepat mengambil keputusan? Ini bukan kamu, Ra."
Dira meneteskan air matanya.
" Aku memikirkan hati Hanan, De. Bagaimana kerinduan sosok ayah di sisinya. Karena itulah, aku masih memikirkan untuk menerima mas Alby kembali. Rasa sakitku masih terasa."
" Ra, coba kamu pikirkan baik-baik. Sebelum semua terlambat."
Setelah bertukar pikiran dengan Dea. Kini Dira pun termenung di sebuah taman di tengah kota. Karena Hanan akan bersama Alby akhir pekan ini, Dira pun bisa lebih banyak waktu untuk diri nya sendiri. Cukup lama Dira menyendiri.
" Jangan kebanyakan melamun, Neng. Ntar kesambet loh."
Dira melihat ke arah orang yang bersuara di sampingnya. Dan matanya pun membulat.
__ADS_1