Menanti Hati ( Nadira)

Menanti Hati ( Nadira)
episode 82


__ADS_3

Alby tertidur pulas di pelukan Dira. Seperti bayi yang tidur dalam dekapan ibunya. Dira terus saja membelai rambut Alby. Hingga sesuatu yang bergejolak didalam tubuh Alby memaksa matanya untuk terbuka. Alby berlari ke toilet. Memuntahkan isi perutnya. Diikuti oleh Dira di belakangnya.


Hoeekk..


Hoeekk..


Hoeekk..


Dira memijit tengkuk suaminya. Dira tampak bingung.


" Mas, kamu kenapa? "


Dira bertanya saat Alby selesai, dan Dira menyodorkan segelas air putih. Alby menggelengkan kepalanya. Rasa pusing dan mual yang menderanya membuat badannya terasa lemas.


" Kita ke dokter aja ya. Kamu udah seminggu loh seperti ini. Mungkin pencernaan kamu ada masalah."


Dengan bujukan dari Dira, akhirnya Alby mau diajak untuk cek kesehatannya. Mereka pun pergi untuk bertemu dengan dokter, setelah sebelumnya membuat janji.


" Tik, saya pulang ya."


Dira berpamitan pada Atik yang kini memegang salah satu cabang butiknya. Dan Dea memegang butik di ruko yang terdahulu. Saat Dira meminta kunci mobil dari Alby dengan tegas Alby menahannya.

__ADS_1


" Aku masih bisa bawa mobil, Sayang. "


" Yakin, Mas? Wajah kamu pucat loh."


Alby mengangguk, lalu mereka pun ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatan Alby. Di perjalanan, tak sengaja Alby berjumpa dengan seorang penjual rujak, dan Alby pun segera menepikan mobilnya untuk membeli rujak tersebut. Membuat Dira bingung. Alby turun dari mobil, dan tak lama kemudian Alby datang dengan kresek yang berisi rujak.


" Kamu suapin ya, Yang. "


Ucapnya sambil menyodorkan kresek berisi rujak. Alby terus menyetir, semetara Dira pun terus menyuapi rujak yang di beli Alby tadi. Setibanya mereka di rumah sakit, mereka pun berjalan ke ruang praktek dokter. Mereka menunggu beberapa saat. Saat nama Alby di panggil, mereka berdua pun masuk ke ruangan dokter itu.


Setelah di lakukan beberapa pengecekan, Dokter wanita itu pun tersenyum.


Setelah mengucapkan terima kasih, dan menebus resep di apotik, Dira dan Alby pun pulang ke rumah. Setibanya di rumah, Alby langsung ke kamar, dan membersihkan diri. Bergantian dengan Dira.


Sesaat setelah selesai mandi, ponsel Alby pun berdering. Melihat nama yang tertera, Alby sedikit ragu untuk menerimanya.


" Ya."


"...."


" Aku di rumah, ada apa?"

__ADS_1


"...."


" Baiklah, satu jam lagi aku kesana, tunggu aku."


Alby pun menutup panggilan telepon itu, bersamaan dengan pintu yang terbuka. Dira melihat Alby masih memandangi ponselnya.


" Kenapa, Mas?"


Alby terkesiap, melihat Dira yang sudah di dalam kamar. Alby pun meminta izin pada Dira untuk pergi keluar sebentar, dengan alasan akan bertemu klien. Walau dengan berat hati, akhirnya Dira mengizinkan Alby pergi.


Alby langsung berganti pakaian, dan menyambar kunci mobilnya. Dira pun menghantarkan kepergian Alby sampai di depan pintu.


" Aku pergi dulu ya, Sayang. "


Alby berpamitan dengan mengecup kening dalam kening Dira. Setelah itu Alby pun pergi meninggalkan istana yang di bangunnya bersama Dira.


Di dalam perjalanan, Alby masih bertanya-tanya. Untuk apa mengajaknya bertemu. Dan selama di perjalanan pula, hati Alby terus saja meminta maaf pada Dira.


" Maafkan aku sayang, maaf. Aku hanya ingin mewujudkan mimpi orang yang pernah aku sayang. Maafkan aku. Maaf. "


Itulah isi hati Alby setiap kali dirinya pergi menemui Syifa. Istri keduanya.

__ADS_1


__ADS_2