
" Mas...hari makin siang, bukannya kamu ada rapat penting."
Alby menghela nafas, dan tersenyum kecut. Sedangkan Nadira ingin tertawa melihat Alby yang tersenyum seperti itu. Alby dan Nadira keluar kamar, lalu menuruni tangga dan berjalan ke ruang makan. Dira mengisi piring suaminya, lalu mengisi piringnya sendiri. Saat menikmati sarapannya. Pintu rumah mereka di ketuk.
" Assalamualaikum, Kak Al..."
Dira dan Alby yang mendengar salam pun, akhirnya menjawab salam tersebut. Mbok kasum yang berada tak jauh dari pintu pun, bergegas membuka pintu. Ternyata Aya datang pagi ini.
" Aya...sini sarapan sama kita."
Dira menawari adik iparnya. Alby yang sedang makan, menatap adiknya bingung.
" Pagi-pagi udah sampe sini aja, gak pulang ke rumah mama?"
Alby berkata tanpa menoleh lagi ke arah Cahaya. Dengan santainya cahaya mengambil makanan yang tersedia di meja makan.
" Ck..Aya mau tinggal di rumah Kak Alby aja, sekalian nemenin Kak Dira. "
Raut wajahnya di buat menggemaskan ketika menyebut nama Dira. Membuat Alby mencebikkan bibirnya.
" Yang ada Lo gangguin kemesraan Gue."
Alby ke mode Lo- Gue terhadap Aya. Namun Aya tak menghiraukan. Aya menyuapkan makanan yang ada di piringnya.
" Ni kak Dira yang masak?"
__ADS_1
Dira menganggukkan kepalanya.
" Kenapa? Gak enak ya?"
Aya tak dapat berbicara, karena mulutnya penuh dengan makanan, Aya hanya mengacungkan jempolnya. Menandakan makanan itu enak.Setelah selesai sarapan, Alby bergegas berangkat, sedangkan Aya membereskan barang-barangnya, dan kini ia menempati kamar tamu yang ada di lantai bawah, kamar yang pernah di tempati Alby saat masih sakit.
Dira mengantar Alby sampai ke mobilnya. Saat Alby akan berangkat, Dira menyodorkan tangannya pada Alby, dan Alby menyambutnya dan menghadiahi Dora dengan ciuman yang cukup lama di keningnya. Setelah itu barulah Alby berangkat. Mobil yang di kendarai Alby sudah tak tampak lagi, Dira pun masuk ke dalam rumah. Tampak meja sudah rapi. Dan Mbok kasum sedang mencuci piring. Dira pun pergi ke kamar Aya. Di ketuknya pintu kamar itu.
Tok..
Tok...
Tok....
Aya pun langsung membalikkan badannya, dan melihat Dira di pintu kamar.
" Masuk aja, Kak."
Aya menjawab, sambil terus mengeluarkan pakaiannya dari dalam koper.
" Kak Alby udah berangkat, Kak?"
" Sudah. "
Jawab Dira sambil membantu memasukkan pakaian Aya ke dalam lemari.
__ADS_1
" Kak, kakak gak keberatan kan, aku tinggal disini."
Dira tersenyum mendengar penuturan adik iparnya ini.
" Kakak, malah senang, karena kini memiliki teman di rumah. Tau sendiri kan, Kakakmu itu kalau sudah bekerja seperti apa? Dulu bahkan sering pulang larut malam."
Aya menghentikan pergerakan tangannya. Dan menatap ke arah Dira.
" Apa kak Alby dulu sering kasar ke kakak? "
Dira menipiskan bibirnya. Dia tak tahu harus menjawab apa. Sedangkan Aya menatapnya sendu.
" Itu semua sudah berlalu, sekarang Kakak dan Kak Alby sudah memulai hidup yang baru."
Jawab Dira dengan Sinaran mata yang bahagia.
" Ternyata Papa dan Mama tidak salah memilih menantu."
Aya menghela nafasnya. Lalu melanjutkan ucapannya.
" Apa kakak tau, aku dan Kak Alby sempat selisih paham?"
Dira mengerutkan kening. Lalu menggelengkan kepalanya.
" Itu karena keposesifan Kak Alby. Membuatku harus menanggung malu, karena Kak Alby menghajar teman yang sedang dekat denganku. Hingga akhirnya aku meminta untuk kuliah di luar. Dan Kak Alby berubah dingin padaku, sampai beberapa minggu terakhir, kak Alby terus membujukku dan memintaku untuk liburan di sini. Awalnya aku menolak, aku masih marah padanya. Namun lama-kelamaan kak Alby makin sering membujuk, dan sekarang.....aku disini...."
__ADS_1
Celoteh Aya hanya di jawab dengan senyum oleh Dira. Sebegitu besar keposesifan suaminya pada adiknya. Dan mereka terus saling tukar cerita hingga waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi.