
Setibanya di rumah, Hanan yang di hantar oleh Alby ke kamarnya langsung berisitirahat. Hanan perlu banyak istirahat agar kondisinya segera pulih.
" Dir,."
Dira mengalihkan pandangannya,saat Alby memanggil namanya. Dira akan membuatkan secangkir teh hangat untuk Alby, namun panggilan Alby menghentikan gerakannya.
" Ya, kenapa?"
Alby menarik kursi yang ada di ruang makan. Sedangkan Dira kembali membuatkan teh untuknya. Dira meletakkan teh itu di meja tepat di depan Alby. Lalu Dira sendiri memilih duduk di bersebrangan dengan Alby.
Alby menyapu sekeliling rumah yang di tempati oleh Dira dengan pandangan nya.
" Dir, kamu kenal akrab dengan dokter yang menangani Hanan? "
Dira mengerutkan keningnya.
" Iya, Zaidan yang selalu menangani Hanan."
" Sejak kapan?"
" Sejak Hanan berusia 9 bulan. "
Pandangan mata Dira menerawang. Mengingat sewaktu Hanan demam tinggi dan kejang. Sedangkan Tante sedang menemani Om nya melakukan seminar. Hanya ada seorang supir, dan pembantu.
__ADS_1
Dira yang panik, langsung membawa Hanan ke rumah sakit. Di sanalah dirinya bertemu dengan Zaidan. Yang ternyata teman Dion sewaktu kuliah dulu.
" Sejak saat itu, kamu dan dokter itu dekat?"
Dira mengangguk, memang benar, sejak kejadian itu, Zaidan selalu ada setiap Dira membutuhkan bantuannya.
" Kenapa Mas?"
Alby melipat bibirnya. Sebagai seorang pria, Alby sudah pasti paham. Pandangan mata Zaidan begitu menyiratkan rasa cinta.
Melihat Alby hanya diam, Dira kembali mengulang pertanyaan nya.
" Gak apa-apa. Kalau begitu aku pulang dulu. Sampaikan salamku untuk Hanan dan semuanya."
" Iya."
Dira memejamkan matanya. Badannya sungguh lelah, beberapa hari menginap di rumah sakit, membuat badannya sakit. Dira tak tau berapa lama dia terpejam. Ketika terbangun, Hanan sudah tidak ada di sebelahnya.
Dira keluar dari kamar Hanan. Dan melihat Hanan sudah berada di ruang keluarga bersama Papa dan Mamanya, serta Luna dan Bram.
" Papa...Mama..."
Dira pun langsung berlari ke arah orang tuanya. Memeluk dan mencium kedua orang tuanya.
__ADS_1
" Maafin Papa dan Mama ya, Nak. Saat Hanan masuk rumah sakit, Papa sedang tak ada di sisi kamu, baru sekarang bisa kembali."
" Gak apa-apa, Pa. Dira paham."
Lalu mereka pun bercengkrama dan berbagi cerita. Dira pun menyiapkan makan malam untuk mereka semua. Di bantu oleh Luna. Dan seorang asisten rumah tangga.
" Mbak Luna duduk aja. Biar aku yang ngerjakan. Nanti Mbak capek loh."
Dira memperingati istri dari Bram itu. Namun Luna tak menghiraukan. Malah ikut memasak bersama Dira.
" Gak akan capek, malah duduk aja mbak capek, Ra."
" Kapan prediksi kelahirannya Mbak?"
" Bulan depan sih. Tapi kakak kamu udah cerewet banget, nyuruh Mbak untuk cuti."
Dira tersenyum.
" Itu karena Kak Bram sangat mengkhawatirkan keadaan kalian, Mbak."
" Tapi kerjaan masih padat, Ra. Gak mungkin aku ninggalin pasien gitu aja. Dua Minggu lagi deh, aku bakalan beneran ambil cuti."
" Gitu dong."
__ADS_1
Lalu mereka pun kembali menyiapkan masakan sambil bercerita seputar kelahiran dan menyusui. Bersama asisten rumah tangganya yang sudah lebih banyak pengalaman.
Walaupun seorang dokter, Luna tak segan-segan bertanya pada orang-orang yang telah lebih dulu hamil dan mengurus bayi. Setelah semua masakan matang. Luna dan Dira meletakkan nya di meja makan. Dan bergegas membersihkan diri. Untuk sholat Maghrib berjamaah.