
Setelah melewati hari ini, Aya pun meninggalkan kota Jakarta menuju Bandung. Setelah mendapat alamat Dira dari Dea. Bahkan dengan sedikit susah payah. Aya tiba di sebuah rumah yang cukup besar. Di depan ada Mang Asep yang memperhatikan Ata sejak Aya turun dari mobilnya.
" Maaf, Neng. Neng lagi apa di depan rumah ini?"
Tanya Mang Asep. Sambil memindai Aya. Aya tersenyum pada Mang Asep.
" Maaf, Pak. Apa benar ini rumah Kak Dira?"
" Nang ini siapa? Soalnya saya gak pernah liat teman-teman Neng Dira disini."
" Saya Aya. Bilang aja sama Kak Dira. Aya datang."
Mang Asep pun melangkahkan kakinya ke arah rumah, tanpa membuka pintu gerbang rumah itu. Lalu tak lama, tampak Dira dan Tante Dwi yang keluar dari dalam rumah. Dira yang melihat Aya pun berjalan cepat ke gerbang. Sedangkan Mang Asep bersiap membuka gerbang, Aya dan Dira saling berpelukan walau terhalang perut buncit Dira.
" Aya kangen, Kak."
Ucap Aya di sela tangisnya. Dira pun berucap yang sama.
" Ayo kita masuk dulu, Mang tutup lagi ya gerbangnya."
Tante Dwi meminta Mang Asep untuk membawakan koper yang di bawa Aya. Kini mereka duduk di ruang tamu, dan Bik Siti datang dengan membawa nampan yang berisi tiga cangkir teh hangat.
" Kamu apa kabar, Ya? "
" Aya baik, Kak."
__ADS_1
Dira pun mengenalkan Tante Dwi pada Aya. Aya mencium takzim tangan wanita yang seumuran dengan ibunya itu.
" Perut kakak udah gede banget. Udah berapa bulan, kak?"
" Udah tujuh bulan, dan dokter bilang, anak kakak laki-laki."
" Yang penting untuk Aya, kakak dan calon anak kakak sehat. Dan Aya bisa lihat kakak sekarang, merupakan kebahagiaan sendiri untuk Aya, Kak."
Aya membelai perut Dira yang besar, lalu mendekatkan bibirnya.
" Keponakan Onty, baik-baik ya didalam. Jaga mama ya. "
Tante Dwi hanya melihat interaksi antara Aya dan Dira. Tante Dwi masih memperhatikan, apa tujuan Aya datang kesini.
Aya yang mendapat pertanyaan, langsung menyurutkan senyum di bibirnya. Dan kembali mencoba tersenyum tipis.
" Maafkan Aya, Tante. Aya kesini hanya ingin bertemu Kak Dira. Aya gak punya maksud lain. Bahkan Aya sampe berbohong sama Papa dan Mama. Karena Aya gak mau, mereka tahu Aya kemana?"
Tante Dwi menaikan alisnya, mencoba menelisik apakah Aya jujur atau hanya berbohong. Dan Dira pun menatap ke arah Aya.
" Kamu bohong, sama Papa dan Mama?"
Aya mengangguk, lalu menghela nafasnya.
" Aya kecewa sama mereka semua. Terutama sama kak Al.
__ADS_1
Wajah Dira berubah, mendengar penuturan dari Aya. Namun Aya tak melanjutkan percakapan mengenai Alby. Dirinya lebih antusias bertanya mengenai kandungan Dira. Tante Dwi masih terus melihat interaksi antara mereka.
Hari ini, Om Hendra kembali dari Bali, dirinya tampak mengerutkan kening, melihat sebuah mobil asing terparkir di halaman rumah Dira.
" Sep, ada tamu ya?"
" Iya Tuan., Katanya adiknya mantan suami neng Dira."
Om Hendra langsung masuk ke rumah, dan menatap sekeliling. Tak ada orang disana. Om Hendra masuk ke kamarnya, dan melihat istrinya yang sedang membaca majalah.
" Papa udah pulang?"
Tante Dwi menghampiri suaminya dan mencium tangannya. Sedangkan Om Hendra mencium kening Tante Dwi. Walau usia mereka sudah tidak muda lagi, namun hal-hal kecil tapi manis masih sering mereka lakukan.
" Ada tamu ya, Ma?"
" Iya, Pa. Adiknya Alby. Katanya kangen sama Dira. Makanya dia kesini."
Tante Dwi menjelaskan pada suaminya.
" Mau apa lagi keluarganya kesini? Apa mau melihat betapa sakit nya Dira akibat ulah Kakaknya yang br*ngsek itu?"
" Entahlah, tapi yang sedari tadi mama lihat, Aya tidak sedikit pun menyinggung nama Alby"
" Tapi kita tetap harus hati-hati. Papa gak mau, sampai Dira terperdaya, dan kembali pada lelaki itu."
__ADS_1