
" Gue cuma mau ngasi kebahagiaan buat Syifa. Itu aja."
" Trus Lo mau ngorbanin, kebahagiaan Lo gitu? Gilak Lo ya. Sakit jiwa Lo. Lo gak pikirin perasaanya Dira."
" Gue akan cerita ke Dira."
Jawab Alby menerawang.
" Serah Lo.,"
Bram meninggalkan Alby. Lalu pergi lebih dahulu karena dirinya sudah tersulut emosi sebelumnya.
"Maaf, Dok. Bagaimana keadaan Syifa?"
Akhirnya dokter dan Alby berada di ruangannya untuk menjelaskan penyakit Syifa. Setelah semua di jelaskan, dokter pun mengatakan, bahwa sisa umur Syifa tidak lama lagi.
" Kami bukan Tuhan, Pak. Tapi menurut analisa kami, Nona Syifa hanya akan bertahan selama 4 bulan, atau paling lama satu tahun."
__ADS_1
Tubuh Alby membeku. Secepat itu penyakit ini, menyerang mematikannya. Alby pun keluar dari ruangan dokter dengan langkah gontai. Lalu dia masuk keruang rawat Syifa. Di lihatnya Syifa yang telah sadar.
" Syifa, mau kah kamu, menikah denganku? "
Syifa terkejut dengan ucapan Alby. Lalu menggeleng.
" Maaf,Bee. Aku gak butuh, belas kasihan kamu. Seandainya Tuhan mencabut nyawaku, biarkan aku pergi tanpa-"
" Sstt...aku hanya ingin kamu jawab iya."
" Bee.."
Syifa melihat ke arah mamanya, dan di jawab dengan anggukan oleh mamanya. Maka dengan air mata yang menetes di pipinya, Syifa menerima lamaran Alby. Dan hari itu juga, di ruangan itu juga, Alby dan Syifa melangsungkan pernikahan. Pernikahan yang hanya di hadiri oleh seorang ustad, dokter Syifa sebagai saksi dan seorang perawat laki-laki. Dan mahar yang di berikan pun berupa uang yang saat itu ada di kantong Alby. Tidak ada cincin pernikahan seperti pasangan lainnya.
Flashback off.
Alby pulang ke rumahnya dan Dira saat waktu menunjukkan jam sebelas malam. Di lihatnya Dira yang sudah tertidur pulas. Lalu Alby pun masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
__ADS_1
Setelah mandi, Alby pun mengambil pakaiannya sendiri. Biasanya Dira selalu terbangun saat Alby pulang, mau jam berapa pun itu. Namun malam ini Dira tampak lelap dengan tidurnya. Saat Alby naik ke ranjang, dan memindahkan kepala Dira agar berada di lengannya pun Dira tampak tak terusik.
Alby mengecup dalam kening Dira. Dira hanya bergumam.
" Mas, kamu udah pulang?"
Dengan suara khas orang masih tertidur, dan Dira tidak membuka matanya sama sekali.
" Udah, kita tidur aja ya."
Ucap Alby yang hanya di jawab dengan anggukan kepala oleh Dira. Alby tersenyum tipis melihat reaksi Dira. Biasanya Dira akan langsung bangun, bertanya apa Alby sudah makan, mau mandi pake air hangat, atau mau di buatkan minum apa. Tapi malam ini,Dira tampak beda. Dira tampak terlalu nyenyak dengan tidur nya.
Suara Adzan subuh berkumandang, menandakan waktunya untuk menghadap sang pemilik alam semesta. Alby bangun dari tidurnya. Di lihatnya Dira yang masih betah dalam dekapannya. Alby meletakkan kepala Dira diatas bantal dengan perlahan. Lalu dirinya pun masuk ke kamar mandi. Mual itu kembali menerpanya. Membuat Alby kembali memuntahkan isi perutnya. Namun hanya cairan yang keluar, tak ada apapun.
Dira tersentak dari tidurnya karena mendengar suara Alby yang muntah. Lalu bergegas kekamar mandi.
" Mas,kamu masih muntah juga? Obatnya gak kamu minum ya?"
__ADS_1
Setelah Alby selesai dan Dira membantu membersihkan bibirnya, Alby langsung memeluk Dira.
" Aku gak butuh obat Dokter. Kamu adalah obat untuk aku."