
Malam hari, setelah makan malam, Dira masuk ke kamar Hanan. Putranya itu sedang duduk di meja belajarnya. Dira pun duduk di sebelah Hanan.
" Belum selesai tugasnya, Nak."
" Satu lagi, Ma."
Dira pun menunggu Hanan sampai selesai mengerjakan tugasnya. Dira memperhatikan Hanan yang mulai memasukkan buku ke dalam tas sekolahnya.
" Sayang, mama mau bertanya sama Hanan. Apa boleh?"
" Mama mau tanya apa, Ma?"
Dira diam sejenak, lalu menatap wajah Hanan dengan intens. Wajah yang sama persis dengan Alby.
" Apa Hanan bahagia saat bersama Papa?"
Hanan mengangguk dengan mata yang berbinar. Dira tersenyum lembut, dan mengusap rambut Hanan.
" Apa keinginan Hanan?"
__ADS_1
" Hanan ingin seperti teman-teman Hanan. Yang mempunyai orang tua lengkap. Ada mama dan papa di satu rumah. Setiap hari Hanan bisa bertukar cerita dengan Papa dan Mama."
Hati Dira kembali terasa tercubit.
" Seandainya Mama tidak bisa mewujudkan mimpi Hanan, apa Hanan akan marah sama mama?"
Dira kembali bertanya pada Hanan. Hanan melihat ke arah Dira, dan menatap wajah Dira.
" Mama bahagia? Saat tidak ada Papa di samping Mama?"
"Hm...itu..."
" Ma, Hanan sayang mama juga papa, Hanan juga mau Mama bahagia. Hanan gak akan marah sama Mama ataupun Papa."
" Ma, Hanan bisa bertemu dengan papa setiap hari itu adalah sebuah mimpi Hanan. Tapi jika tidak bisa, bertemu setiap weekend pun Hanan senang. Mama jangan sedih lagi ya. Hanan sering liat mama nangis. Maafin Hanan ya ma."
Dira menahan air matanya agar tidak pecah di hadapan Hanan. Namun kali ini, air matanya tak mau diajak kompromi, air mata Dira tumpah begitu saja.
" Maafin Mama, Sayang. Mama egois memisahkan kamu dari papa kamu. Maafin mama, Nak."
__ADS_1
Dira dan Hanan saling berpelukan. Dira menyeka air matanya. Lalu mengecup kening Hanan. Mencoba memberikan senyuman yang manis untuk putranya ini.
" Sekarang Hanan tidur. Biar besok gak kesiangan."
Hanan pun mengangguk dan naik ke ranjangnya. Sedangkan Dira keluar dari kamar Hanan. Dan memasuki kamarnya. Tangis Dira pecah. Ternyata Hanan bisa sebijak itu.
Dira segera menyeka air matanya, saat ponselnya berdering. Satu nama keluar disana. Zaidan memanggil, begitulah tulisan itu terlihat.
" Assalamualaikum, Dan."
" Waalaikumsalam, Ra. Kamu nangis?"
Zaidan pun langsung mencerca Dira dengan banyak pertanyaannya. Dira menceritakan apa yang baru saja di alaminya.
" Aku gak nyangka, Dan. Hanan bisa lebih bijak menghadapi ini, dari pada Aku. Disini aku pun salah, Dan. Belum sempat mendengar penjelasan dari Mas Alby, aku pergi menjauh hanya untuk menghindar."
" Saat ini, semua keputusan ada di tangan kamu, Ra. Dan pernyataan ku waktu itu, masih aku tunggu jawabannya. Tolong beri kami kepastian, Ra."
Setelah mengucapkan Kalimat itu. Zaidan menutup panggilannya tanpa salam.
__ADS_1
Dira sudah bertekad, masalah ini cukup sampai disini. Dira akan segera memutuskan mana yang akan di pilihnya. Tapi sebelum memantapkan hatinya, Dira akan meminta petunjuk pada sang Pemilik Kehidupan.
" Aku harus segera menyelesaikan ini, aku gak mau sampai menggantung kehidupan dua lelaki. Aku lelah."