Menanti Hati ( Nadira)

Menanti Hati ( Nadira)
episode 27


__ADS_3

Di perjalanan menuju rumah sakit, Nadira masih memutar otak bagaimana agar dirinya bisa segera bertemu dengan Syifa. Mungkin akibat lelah, tanpa sadar, Nadira tertidur sepanjang perjalanan ke rumah sakit. Sampai di halaman rumah sakit, Mang Diman membangunkan Nadira dengan lembut. Lelaki berusia 56 tahun itu, melihat gurat kelelahan di wajah manis Nadira.


" Neng, neng, kita sudah sampai. "


Mang Diman berkata lembut dan sopan. Namun Nadira sepertinya tak mendengarkan.


" Neng, neng Dira. Kita sudah sampai Neng."


Nadira seperti mendengar namanya di panggil, dan mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk.


" Maaf, Mang. Dira ketiduran. Kenapa Mang?"


Mang Diman tersenyum. Dan memberi tahukan bahwa mereka sudah sampai di rumah sakit. Nadira pun melihat sekeliling. Lalu Mang Diman membukakan pintu untuk Dira. Setelah itu Dira pun mengucapkan terima kasih. Mang Diman membantu Nadira membawa tas yang berisi pakaiannya. Sedangkan Nadira membawa rantang yang berisi makan sore.


" Assalamualaikum, Ma."


Nadira menyapa mama mertua, lalu mencium tangannya. Dan pandangan nya tertuju pada Alby yang masih terpejam di tempat tidurnya. Mama memperhatikan pandangan Nadira. Dan Mama pun menghela nafas. Nadira melihat ke arah sang mama mertua. Mencoba tersenyum walau matanya berkaca-kaca.


" Mama, sendiri? Papa kemana?"


" Papa dan Bram harus ke kantor Sayang. Ada masalah sedikit. Bram tidak bisa turun tangan sendiri. Harus ada Alby atau Papa yang menangani."

__ADS_1


Nadira mengangguk tanda mengerti. Lalu menatap ke arah sang mama.


" Mama sudah makan? "


" Mama tidak selera makan, Sayang."


" Mama harus makan, nanti mama sakit. Dira tadi masak sup ayam dan jamur. Mama harus coba ya?"


Akhirnya setelah di bujuk, mama Ratna pun mau makan. Walau tak banyak, dan Nadira tersenyum melihat sang mama sudah mau memakan masakannya.


Menjelang malam, Papa kembali ke rumah sakit. Wajah papa tampak lelah, dengan sabar mama memijit punggung papa. Nadira yang melihat pandangan seperti itu, lalu menatap Alby yang masih belum sadarkan diri.


Melihat mama dan papa yang tetap akur sampai tua, membuat aku iri. Apakah aku akan merasakan kebahagian seperti mereka. Dengan orang yang aku sayangi. Batin Nadira.


" Assalamualaikum, Om, Tante. "


Bram menyala kedua orang tua Alby. Mencium tangannya takzim lalu meletakkan makanan di meja. Lalu menyapa Nadira yang duduk di sisi ranjang Alby.


" Kalian belum pada makan kan. Sebaiknya makan malam dulu. "


Bram membagi makanan kepada semua orang, Nadira sempat menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


" Kamu harus makan, jangan sampai kamu sakit."


Akhirnya Nadira menerima makanan itu. Papa pun masih membujuk mama untuk makan. Ibu mana yang bisa makan melihat anaknya sendiri terbaring tak berdaya. Namun akhirnya mama mau memakan makanannya setelah Bram berhasil membujuk mama.


Pukul sepuluh malam, Papa dan mama di minta pulang oleh Bram. Mama sangat berat ingin pulang, tapi Bram memaksa kedua orang tua Alby untuk pulang.


" Kesehatan Om dan Tante juga penting. Kalau nanti Alby sadar, Bram akan langsung mengabarkan pada Om dan Tante. Bram janji."


Akhirnya kedua orang tua Alby pulang. Nadira menghantar kedua orang tua Alby ke parkiran. Sudah ada Mang Diman yang menunggu. Setelah mencium tangan kedua mertuanya. Mereka pun berpisah. Nadira masuk ke rumah sakit setelah mobil yang membawa kedua mertuanya hilang dari pandangan.


.


.


.


**Assalamualaikum ...


Mohon dukungan, komentar dan like serta jadikan favorite ya readers tersayang..


Buat yang sudah mendukung aku ucapin terima kasih. Dukungan kalian membuat aku bersemangat untuk terus melanjutkan kisah ini.

__ADS_1


Terima kasih...😘😘😘**


__ADS_2