
Malam hari setelah Luna dan Bram pulang. Hanan kembali demam, Dira panik bukan main. Beruntung Zaidan selalu standby di rumah sakit. Karena Zaidan juga sangat menyayangi Hanan. Setelah mendapat perawatan, kini Hanan mulai tertidur. Zaidan menyodorkan sebotol air ke Dira.
" Minumlah, kamu terlalu panik. Sampai kamu pucat. Setelah ini kamu istirahat."
Dira hanya mengangguk. Lalu duduk di sebelah ranjang Hanan. Tangannya kembali menggenggam tangan Hanan yang bebas. Air mata Dira menetes. Kembali Dira menyalahkan dirinya. Rasa lelah menghinggapi nya, sampai Dira tertidur di tepi ranjang dengan tangan yang masih memegang tangan Hanan.
Alby yang langsung mencari penerbangan paling awal, setelah ia mengetahui bahwa Hanan di rawat di rumah sakit, tiba di rumah sakit hampir tengah malam. Pemandangan pertama yang di dapatinya adalah Dira yang tertidur sambil duduk di tepi ranjang. Genggam tangannya sudah renggang. Dengan sangat hati-hati, Alby menggendong tubuh Dira dan merebahkannya di sofa. Lalu menyelimutinya dengan Jas yang di pakai oleh Alby.
Alby menatap wajah Hanan. Di belai dan di kecupnya kening putra semata wayangnya itu. Alby lebih memilih menyendiri dan tak menikah lagi, hatinya masih tertuju pada Dira. Tapi Alby tidak tau, bagaimana dengan Dira. Hanan membuka matanya saat merasakan belaian tangan Alby.
" Papa..."
Ucapnya lemah, Alby mengangguk lalu memeluknya.
__ADS_1
" Papa disini, Sayang. Papa pulang. Maafin Papa, ya."
Ucapnya di pelukan sang putra. Hanan mengangguk, lalu Hanan meminta Alby untuk tidur di sisinya. Alby pun mengikuti permintaan Hanan, setelah lebih dahulu membuka sepatu dan menggulung kemejanya. Alby merebahkan tubuhnya di samping Hanan. Hanan memeluk tubuh Alby, sosok yang sangat di rindukannya.
Suara adzan subuh, membangunkan Dira dari tidurnya. Saat Dira bangkit, Jas Alby langsung luruh. Di lihatnya Jas itu, Dira sangat hapal wangi parfum yang ada di jas itu. Itu milik Alby. Dira melihat ke ranjang Hanan. Sudah ada sosok yang di rindukan Hanan. Begitu juga dirinya. Walau kadang rasa ego masih tinggi untuk mengakui hal itu.
Dira berjalan ke kamar mandi, untuk mencuci wajahnya. Alby yang mendengar gemericik air, pun membuka matanya. Alby melepas dengan perlahan genggaman tangan Hanan. Dira keluar dari kamar mandi, dan mendapati Alby sudah duduk di tepi ranjang. Pandangan mata mereka bertemu. Ada rasa rindu di pancaran mata Alby. Rindu untuk Dira dan Hanan.
" Gak apa-apa, Mas. Mas jam berapa tiba?"
" Tengah Malam. Sebaiknya kamu sholat disini aja, biar Hanan ada temannya. Mas mau ke musholla."
Dira mengangguk. Lalu Alby pun keluar dari kamar Hanan dan berjalan ke arah mushola. Sedangkan Dira sholat di ruang perawatan Hanan. Sudah menjadi kebiasaan Dira setiap selesai sholat subuh, akan mengaji. Dan kebiasaan itu kini juga menjadi kebiasaan Alby. Setiap merindukan Dira, Alby selalu mengaji dengan Al Qur'an yang sering di gunakan Dira sewaktu mereka masih bersama.
__ADS_1
Pukul tujuh, Alby belum juga kembali dari mushola. Sedangkan Hanan sudah mulai merengek menanyakan dimana Ayahnya. Dira pun dengan sabar membujuk Alby. Sampai pintu kamar perawatan terbuka, tampak Alby yang datang membawa bungkusan.
" Papa..."
Hanan berteriak melihat Alby yang masuk ke kamarnya. Alby pun langsung menyerahkan bungkusan itu dan mendekati Hanan.
" Ada apa, Nak. Kenapa Hanan teriak?"
" Tadi malam Hanan mimpi Papa datang. Trus tidur sama Hanan."
Ucap Hanan yang sudah memeluk Alby. Alby melihat ke arah Dira. Begitu pun sebaliknya.
" Hanan gak mimpi, tadi malam,Papa memang tidur bareng Hanan di sini."
__ADS_1