Menanti Hati ( Nadira)

Menanti Hati ( Nadira)
episode 95


__ADS_3

" ****..." Alby mengumpat, dan melampiaskan kekesalannya pada semua yang ada d meja. Kali ini keputusannya memang benar-benar bodoh. Bukan hanya Dira yang pergi, Bram pun perlahan pergi. Bahkan kedua orang tuanya tak juga menjawab telepon darinya.


Sedangkan Aya, entahlah, saat masalah ini ada, Aya sedang tak di Jakarta. Perusahaan yang ada di Kalimantan sedang mengalami masalah, dan Aya sedang berada di sana untuk mengatasinya.


Hari terus berjalan, hari ini adalah hari persidangan perceraian antara Dira dan Alby. Sejak malam, baik Alby ataupun Dira tak dapat memejamkan matanya. Dira menyeka air matanya yang sesekali jatuh. Sedang Alby tampak berjalan menghampiri pengacaranya.


"Saya tetap tidak menginginkan perceraian ini, Pak. Saya harap bapak bisa membantu."


"Baik ,Pak."


Alby kini pergi ke pengadilan mengendarai mobilnya. Dirinya ingin segera tiba, untuk melihat istrinya yang sudah hampir dua Minggu tak mau bertemu dengannya.


Sementara di rumah Dea, Dira sesekali memijit pelipisnya. Rasa pusing yang menderanya membuat dirinya sedikit lemah. Wajahnya pun pucat.


"Dira, kamu yakin mau ke persidangan? Kamu di rumah aja, ya? Kamu pucat banget loh Dir."


Dira menggeleng, dan melihat Dea yang tampak mengkhawatirkannya.


" Aku gak apa-apa kok, De. Kamu jangan cemas gitu. Aku cuma pusing dikit aja kok."

__ADS_1


Dira mencoba menenangkan Dea. Setelahnya Dira dan Dea pun berangkat ke pengadilan. Setibanya di sana, sudah ada Alby yang datang. Tujuannya hanay ingin membatalkan perceraian dan bertemu dengan Dira.


Dira menghentikan langkahnya, ketika dirinya melihat Alby. Alby pun melihat Dira dan mengehentikan gerakan tangannya yang sedang memegang benda pipih itu. Alby menghampiri Dira, sedangkan Dira masih mematung di tempatnya. Alby memeluk Dira dengan erat, lalu menciumi pucuk kepalanya yang masih berbalut hijab.


" Mas Mohon, jangan hukum mas seperti ini. Kamu bisa meminta apapun, tapi jangan minta perpisahan dari mas. Mas gak sanggup, Sayang."


Ucapnya di sela tangisnya saat memeluk Dira. Dira pun membalas pelukan itu. Dirinya pun sebenarnya sangat merindukan Alby. Namun pengkhianatan Alby membuatnya sadar, kalau dirinya memang harus mengalah. Alby menghirup aroma tubuh Dira yang menjadi candu untuknya. Lalu Dira pun melerai pelukan itu. Dira berjalan mendahului Alby untuk masuk ke ruang sidang. Tak lama di susul Alby dan pengacaranya. Tak banyak yang di pertanyakan. Hakim masih memberikan waktu untuk mereka melakukan mediasi.


Dira beranjak dari kursi yang di dudukinya, namun pusing di kepalanya membuat dirinya sedikit gamang. Dea yang berada di sisinya memegangi Dira. Alby yang melihat Dira pun langsung mendatangi, dan memegang tangannya.


" Dira kenapa, De?"


" Dea juga gak tahu, Mas Al. Dari pagi Dira pusing."


" Sayang, kamu sakit? Kuta ke rumah sakit sekarang ya? "


Alby dengan cepat, ingin menggendong Dira. Namun Dira menolak.


" Gak usah, aku bisa sendiri. "

__ADS_1


Dira pun berjalan pelan, namun baru beberapa langkah, tiba-tiba pandangannya kabur dan semua menjadi hitam. Dira tak sadarkan diri di ruangan itu. Alby dengan sigap mengangkat Dira, dan membawanya ke rumah sakit terdekat.


Alby mondar-mandir di depan pintu UGD, Alby sangat takut sesuatu terjadi pada Dira. Sampai suara pintu yang terbuka, mengalihkan Alby dan Dea Yang sedang duduk di kursi tunggu. Dokter wanita keluar, dan Alby langsung menghampirinya.


" Dokter, bagaimana keadaan istri saya? Istri saya sakit apa,Dok?


Alby mencecar sang dokter dengan rentetan pertanyaan. Dan membuat dokter itu bingung harus menjawab yang mana.


" Tenang, Pak. Istri Anda baik-baik saja. Hal seperti ini biasa bagi seorang wanita yang sedang mengandung."


*


**


***


**Hai readers, aku udah double up ya hari ini. Terima kasih atas dukungannya, dan jangan lupa like, komen serta vote nya hari Senin ya semua....,😘😘😘😘


Terima kasih...i love you all..

__ADS_1


😘😘😘**


****


__ADS_2