Menanti Hati ( Nadira)

Menanti Hati ( Nadira)
Episode 135


__ADS_3

Kini mereka bertiga berada ruang makan. Dira meminta Zaidan untuk makan malam di rumahnya setelah menemani dirinya di rumah sakit.


" Sayang, setelah ini, om dokternya pulang ya?"


Hanan merengut meminta Zaidan untuk tidak pulang. Namun Dira tidak mungkin membiarkan Zaidan lebih lama lagi di rumahnya. Takut terjadi fitnah. Dan kini Dira sedang membujuk Hanan yang tidak ingin di tinggal oleh Zaidan.


" Hai, jagoan Om, Minggu nanti kita pergi jalan-jalan. Tapi malam ini om pulang dulu. Oke."


Ucap Zaidan sambil mengepalkan tangannya untuk melakukan tos pada Hanan. Dan dengan sedikit rayuan dari Zaidan, akhirnya Hanan mengizinkan Zaidan untuk pulang. Setelah makan malam, dan Hanan sudah meminum obatnya, kini Zaidan pun pamit pulang.


Dira memasuki kamar Hanan, dan Hanan sudah memakai pakaian tidurnya. Mbak Ita juga sudah berada di kamar untuk menemani Hanan.


" Ma..mau bobo cama mama."


Dira pun naik ke ranjang Hanan. Sedangkan Mbak Ita lebih duduk dan membereskan mainan Hanan yang ada di kamar itu. Serta merapikan kembali pakaian Hanan, setelah dari rumah sakit.


Dira membelai rambut Hanan dengan lembutnya. Dan Hanan pun memeluk Dira yang ada di sampingnya.

__ADS_1


" Ma..Ayah mana?"


Degh....


Mbak Ita yang mendengar pertanyaan Hanan, akhirnya keluar dari kamar itu. Mbak Ita ingin membiarkan Dira bersama anaknya. Tanpa sungkan menjawab pertanyaan yang di lontarkan Hanan.


" Ma..Ayah.."


Dira pun tersenyum pada Hanan. Lalu kembali membelai rambutnya.


" Hanan bobo ya. Mama temani, biar cepat sehat. Dan kembali main bareng temen-temen."


Dira mengakui keegoisan dirinya yang telah memisahkan Hanan dari Papanya. Tapi Dira punya alasan tersendiri. Dira pun menyadari, bahwa Hanan merindukan figur seorang Papa dalam hidupnya.


Kasih sayang Om Hendra dan Tante Dwi berikan ternyata tak menutupi kekurangan kasih sayang seorang Papa. Bahkan kehadiran Dion pun tak membuat Hanan merasa cukup. Dira menatap wajah Hanan yang semakin mirip dengan Alby.


Mbak Ita yang yang tadi menunggu di luar pun kini mengetuk pintu.

__ADS_1


" Masuk aja, Mbak."


" Maaf Bu. Seharusnya Ita yang menidurkan Mas Hanan."


" Gak apa, Mbak."


Dira menatap Ita, Ita seperti orang yang ingin berkata sesuatu tapi di tahan.


" Mbak, apa ada sesuatu yang ingin Mbak sampaikan?"


" Hm...begini, Bu. Maaf sebelumnya, maaf sekali Bu. Tadi waktu di taman..."


Ita pun menceritakan yang terjadi di taman. Saat Hanan melihat anak seumurannya yang sedang bermain bersama sorang lelaki dewasa. Dan sang anak itu, berteriak, memanggilnya Ayah.


Hanan pun bertanya pada Ita, siapa itu Ayah? Ita mencoba menjelaskan dengan versi anak-anak, agar Hanan bisa mengerti. Sedangkan Dira hanya mendengarkan. Dan tak lama air mata Dira jatuh. Ita yang melihat Dira menangis pun langsung bersimpuh, di hadapan Dira, dan memegang tangannya.


" Maaf Bu. Maafin Ita. Seharusnya Ita bisa mengalihkan perhatian Mas Hanan. Seharusnya Ita gak menceritakan siapa Ayah itu. Maafin Ita,Bu. Maaf..."

__ADS_1


Ita benar-benar merasa menyesal karena sudah menuruti keinginan Hanan yang ingin bermain di taman. Dira pun menggenggam tangan Ita.


" Bukan salah, Mbak. Saya yang salah, sudah menjauhkan Hanan dari Papanya. Tapi untuk saat ini, saya belum bisa mempertemukan mereka. "


__ADS_2