
" Maaf ya, Mas. "
" Gak apa, Sayang. Kamu mau berangkat sekarang?"
Alby bertanya pada Nadira. Dan Nadira menjawab dengan anggukan kepala. Alby tampak membuka pintu ruko, lalu menahannya.
" Ayo, katanya mau pergi."
Aya dan Dira pun melangkah, setibanya di halaman ruko, Aya tampak menghentikan langkahnya.
" Kenapa, Ya?"
" Kak, Aku gak jadi ikut Kakak ya. Temenku ngajak ketemuan. "
Dira pun menatap Aya lalu mengiyakan kemauannya. Dira melangkah ke arah motor maticnya, Alby yang menyaksikan itu mengerutkan keningnya.
" Kok naik motor?"
" Kalo gak naik motor, motor aku gimana Mas?"
__ADS_1
Alby menatap ke Aya. Aya yang tau arti tatapan kakaknya, langsung mengambil alih motor Dira.
" Aya aja yang bawa motor kakak."
" Hah? Kamu yakin? Gak salah Ya?"
Aya pun dengan senyum terpaksa mengiyakan perkataan Dira. Kini masalah motor selesai, dan Dira pun pergi ke rumah sakit dan di temani Alby. Selama di perjalanan, Alby sesekali menatap Dira. Sedangkan Dira tampak sibuk dengan ponselnya.
Setelah empat puluh lima menit kemudian, mereka pun tiba di pelataran rumah sakit. Dira dan Alby masuk dan langsung menuju lorong ruang operasi. Tampak Ibu panti dan juga Dea sedang menunggu di depan pintu ruang operasi.
" De.."
Dira memanggil Dea, dan Dea pun menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Dea menghampiri Dira yang melangkah ke arahnya. Mereka saling berpelukan. Dea tampak menangis di pelukan Dira.
Dea hanya menggelengkan kepalanya. Dan Dira tampak mengelus punggung Dea, guna menenangkannya. Mereka pun berjalan ke depan pintu ruangan operasi. Dira pun menyalami Bu Santi, yang merupakan ibu pengurus yayasan panti asuhan itu.
Alby melihat Dira yang masih diam di tempat duduknya. Dan tangannya selalu berada di layar ponselnya. Dira mengalihkan pandangannya saat Alby menerima panggilan telepon. Alby menjauh sesaat.
" Mas ke depan sebentar ya?"
__ADS_1
Alby langsung berjalan menjauh begitu berkata. Sedangkan Dira hanya menatapnya. Tak lama Alby datang dengan membawa box makanan.
" Kamu makan dulu, ya? Mas tau, kamu belum makan siang kan."
Lalu Alby pun memberikan box lainnya pada Dea dan Bu Santi. Dira belum juga membuka box makannya. Sampai Alby mengambilnya kembali lalu membukanya. Alby menyodorkan sendok ke arah mulut Dira. Alby memberikan isyarat agar Dira membuka mulutnya. Dengan malu Dira pun menerima suapan dari Alby.
Dea yang melihat Alby menyuapi Dira pun tersenyum tipis. Dea dapat melihat betapa Alby sangat mencintai Dira, begitupun dengan Bu Santi, tampak tersenyum tipis melihat Alby yang menyuapi Dira. Alby kembali menyodorkan sendok ke arah Dira, setelah Dira menerima suapan itu, Alby pun menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri.
" Mas belum makan?"
Alby menganggukkan kepalanya, lalu tersenyum ke arah Dira. Dira menatap nya dengan rasa bersalah.
" Maaf ya, Mas. Seharusnya mas bilang kalau belum makan, jadi tadi bisa singgah makan dulu. Aku takut penyakit maag kamu kambuh, Mas."
Alby membelai kepala Nadira yang tertutup hijab.
" Kamu gak usah khawatir, ini kita lagi makan."
Ucap Alby sambil mengangkat box itu sedikit.
__ADS_1
" Lagian mas lihat, wajah kamu khawatir banget, kalau mas ajak makan, pasti kamu juga gak akan mau makan. "
Ucap Alby kemudian. Mereka pun kini melanjutkan makannya yang dinikmati satu box berdua. Setelah mereka selesai, tak lama pintu ruang operasi terbuka, tampak dokter keluar dari ruang operasi tersebut.