
Minggu yang di janjikan Zaidan pun datang. Sejak pagi, Zaidan sudah siap-siap akan mengajak Hanan dan Dira jalan sesuai janjinya pada bocah berumur tiga tahun lebih itu. Mobil Zaidan sudah terparkir di halaman rumah Dira. Hanan sudah lebih dulu menyambut Zaidan. Sedangkan Dira dan Mbak Ita masih berada di dalam. Setelah itu tampak mereka berdua keluar.
" Sudah semua, ayo kita berangkat. "
Mbak Ita duduk di kursi belakang, sedangkan Dira merasa canggung, namun tak mungkin dirinya duduk di kursi penumpang. Akhirnya Dira memilih duduk di kursi samping kemudi. Kini mereka tiba di sebuah taman safari. Setelah membeli tiket masuk, kini mereka melihat binatang yabg ada di sana. Dira tampak memperhatikan wajah Hanan yang tampak bahagia. Bahkan berulang kali, Hanan bertanya tentang apa yang di lihatnya. Setelah puas, kini Hanan tengah duduk bersama Mbak Ita. Sedangkan Zaidan memperhatikan wajah Dira yang tampak sedikit tidak seperti biasanya.
" Ada apa, Ra. Ada sesuatu yang menggangu pikiranmu."
Dira masih diam. Dirinya bingung harus memulai dari mana.
" Ayolah, Ra. Cerita sama Aku."
" Hanan bertanya tentang Ayahnya."
Ucap Dira, sambil menyeka ujung matanya.
__ADS_1
" Apa yang aku takutnya terjadi, Dan. Seiring berjalannya waktu, Hanan akan bertanya siapa Ayahnya. Sekarang aku bingung, apa aku terlalu egois memisahkan anak dari Ayahnya?"
Zaidan melihat ke arah Dira. Wanita yang selalu tampak tegar kini tengah rapuh. Zaidan tau, Dira masih merasakan sakit atas peristiwa di masa lalu.
" Ra, kalau aku boleh kasih saran. Sebaiknya berdamailah dengan masa lalumu, bukan untuk mereka yang telah menyakitimu, tapi untuk dirimu, terlebih kebahagiaan mu. Aku bisa melihat di matamu, begitu banyak duka yang kau pendam sendiri. Setiap orang punya kesalahan Ra. Dan aku paham, kesalahan yang di lakukan mantan suamimu sangat melukaimu.
Lalu Zaidan melambaikan tangannya pada Hanan, hal yang sama pun di lakukan Dira. Saat Hanan melambaikan tangan kepada mereka.
" Ra, coba maafkan mereka."
" Tapi kamu belum mengikhlaskannya. Kamu masih menyimpan luka itu. Semestinya saat itu, kamu tanya dulu kebenarannya pada mantan suamimu. Barulah kamu bisa ambil keputusan."
Air mata Dira jatuh kembali. Zaidan yang melihatnya, langsung menyodorkan sapu tangan pada Dira. Dira pun menerima.
" Ra, berdamailah. Berdamai dengan masa lalu, lupakan semua. Mulai hidupmu, sudah terlalu lama kamu bersembunyi. Mau sampai kapan kamu menyimpan kenyataan. Kenyataan bahwa Hanan memerlukan sosok seorang Ayah. Berdamai belum tentu bersatu. Dan percayalah, Ra. Dengan berdamai, hidupmu akan lebih ringan."
__ADS_1
Dira hanya mengangguk. Hatinya tak menampik, apa yang di katakan Zaidan memang benar adanya.
" Kapan Dion akan melamar kekasihnya itu? Aku dengar perjuangannya untuk menaklukkan hati wanita itu cukup panjang."
Dira tersenyum lalu mengangguk. Dira pun menceritakan tentang siapa Dea. Dan Zaidan pun terkejut mendengar kisah Dion. Dion dan Zaidan adalah teman saat masih di waktu universitas dulu. Tak lama, Hanan berlari ke arah Dira dan Zaidan. Hanan langsung memeluk Zaidan.
" Sayang, tangan kamu kotor, ayo...cuci tangan dulu. Dan keringan. Oke."
Lalu Hanan dan Mbak Ita pun masuk ke toilet . Mbak Ita ingin membersihkan tangan Hanan yang kotor. Setelah bersih, Mbak Ita menggandeng tangan Hanan untuk kembali ke tempat Zaidan dan Dira yang menunggu.
*
*
Assalamualaikum readers, aku mau tanya ni..aku pingin buat kisah Dion dan Dea di kisah selanjutnya. Bagaimana playboy sekeals Dion bisa terjerat dengan wanita yang sesederhana Dea. Kira-kira ada yg setuju gak Ya????
__ADS_1