Menanti Hati ( Nadira)

Menanti Hati ( Nadira)
Episode 163


__ADS_3

Pukul sembilan malam, Dira pulang di hantarkan oleh Zaidan. Mobil Dira di bawa oleh seorang sepupu Zaidan. Zaidan meminta tolong sepupunya untuk membawa mobil Dira ke rumah keluarganya.


" Gimana, Ra? Udan mendingan?"


Zaidan berkata sambil melirik ke arah Dira yang menyenderkan kepalanya.


" He'em. Makasih ya, Dan. Kamu baik banget."


Zaidan tersenyum lembut. Lalu mengangguk.


" Yang penting kamu gak stres, Ra. Setiap yang namanya makhluk Tuhan, pasti akan di uji. Kamu minta aja petunjuk pada sang Pemilik Kehidupan. Dan jawabannya pasti tidak akan mengecewakan."


Dira menatap Zaidan. Tak ada keraguan dalam ucapannya.


Setibanya di rumah Papa Haidar, Dira turun dan melihat Papa dan Mamanya masih duduk di teras rumah.


" Kamu gak turun dulu, Dan?"


Karena melihat kedua orang tua Dira yang ada di teras, Zaidan pun ikut turun. Mereka berjalan beriringan.


" Assalamualaikum, Pa, Ma."


Papa Haidar yang mendengar ucapan salam, melihat Dira di hadapannya.Lalu tersenyum lembut, dan menerima uluran tangan Dira. Begitu juga Mama Yasmin.

__ADS_1


" Assalamualaikum, Om, Tante."


Sapa Zaidan dan membuat kedua orang tua Dira ,melihat Zaidan. Keningnya berkerut mencoba bertanya dengan pandangan matanya.


" Pa,ini Zaidan. Temannya Kak Dion. Dan dokter yang menangani Hanan, saat Hanan sakit, Pa."


Dira mencoba menjelaskan pada Papa Haidar. Papa Haidar yang mendengar ucapan Dira pun langsung menyodorkannya tangannya untuk berkenalan pada Zaidan.


" Waalaikumsalam, saya Haidar, Papanya Dira. Mari masuk. "


Papa Haidar mempersilahkan Zaidan untuk masuk dan duduk. Namun dengan berat hati, Zaidan menolak secara halus.


" Terima kasih, Om. Tapi maaf om, sepertinya saya harus pulang, udah malam, Om. Mungkin lain kesempatan saya akan datang lagi."


Papa Haidar hanya tersenyum. Sebagai seorang laki-laki, papa Haidar dapat melihat pandangan mata Zaidan terhadap Dira.


" Iya, Om. Maaf ya, om. Selamat malam. Ra, aku pamit ya. Untuk mobil kamu, mungkin besok baru diantar oleh sepupu aku. "


" Iya, Dan. Gak masalah, kok."


Dira pun menghantarkan Zaidan sampai kemobilnya. Setelah mobil Zaidan berlalu, barulah Dira kembali ke dalam rumah.


Melihat papa nya yang masih duduk di teras, Dira pun ikut duduk bersama Papa dan Mamanya. Setelah bercengkrama sebentar, Dira pun pamit untuk ke kamarnya. Dan membersihkan diri.

__ADS_1


Dira mematut dirinya di depan cermin. Sampai suara ketukan pintu mengalihkan perhatiannya.


" Sayang, ini Mama. Mama masuk ya."


Ucap Mama Yasmin dari balik pintu.


" Masuk aja Ma. Pintunya gak Dira kunci."


Mama Yasmin pun masuk, dan tersenyum melihat Dira yang baru saja selesai mandi. Bahkan kini sedang membentang sajadah untuk melakukan sholat Isya.


" Ada apa, Ma.."


" Gak apa-apa, Sayang. Kamu sudah makan?"


" Udah, Ma."


" Ya sudah, sekarang kamu sholat dulu. Jangan lupa minta yang terbaik di hidup kamu ya, Sayang. Terutama pendamping."


Ucap Mama Yasmin, dan membuat Dira menipiskan bibirnya. Setelah mencium kening Dira, mama Yasmin pun keluar dari kamar Dira. Tujuan awalnya adalah ingin menanyakan siapa laki-laki yang bernama Zaidan itu.


Namun karena melihat Dira yang akan melaksanakan sholat Isya, Mama Yasmin pun membatalkan pertanyaan nya. Dirinya membiarkan Dira untuk melakukan ibadah wajibnya. Dalam hati mama Yasmin hanya berdoa, semoga putri nya ini akan menemukan kebahagiaan di hidupnya.


" Sepertinya laki-laki tadi mempunyai perasaan lebih terhadap Dira. Mama dapat melihat dari pandangan matanya saat melihat Dira, Pa."

__ADS_1


Mama Yasmin memulai pembicaraannya pada Papa Haidar. Membuat Papa Haidar menghentikan ketikannya pada ponsel yang di pegang nya.


" Maksud Mama?"


__ADS_2