Menanti Hati ( Nadira)

Menanti Hati ( Nadira)
Episode 151


__ADS_3

Sementara Alby pagi itu memang berencana untuk menjemput Hanan. Saat akan membuka pintu mobilnya, tampak mobil Labu berhenti di depan gerbang rumah orang tua Bram.


" Assalamualaikum, Anak Papa."


" Papa...."


Ucap Hanan sambil berlari ke arah Alby. Lalu memeluknya. Sudah dua Minggu ini, Alby dan Hanan tidak bertemu, karena Alby harus keluar kota untuk membuka cabang baru usahanya.


" Assalamualaikum, Dira. Apa kabar?"


" Waalaikumsalam, Mas. Baik."


" Pagi ini aku antar Hanan sekolah ya. Aku kangen sama dia. Pulang sekolah nanti kamu yang jemput, atau aku yang jemput?"


" Biar aku aja, Mas."

__ADS_1


Lalu Alby mengangguk. Wajah Hanan tampak berbinar, lalu melangkah masuk ke mobil Alby. Setelah berpamitan pada Dira. Setelah mobil yang di kendarai oleh Alby tak terlihat, Dira pun masuk.ke dalam. Untuk bersiap-siap ke butik. Pagi ini akan ada pelanggan yang akan datang. Meminta di buatkan gaun pengantin.


Setelah berpamitan dengan asisten rumah tangga Orang tuanya. Dira pun bergegas ke butik nya. Sudah ada Dea disana. Dea memang masih bersama Dira di butik itu. Karena Dira yang memohon pada Dion untuk sekali ini.


Flashback on


" Janji deh, Kak. Setelah gaun ini selesai, aku gak gangguin Dea lagi. Kecuali kepepet."


Ucap Dira sambil menggendong si kecil Maura. Anak dari Dion dan Dea. Dion dan Dea sudah memiliki dua orang anak, yang besar bernama Davi dan si kecil bernama Maura.


Dira mengangguk antusias. Ternyata tidak sesulit itu merayu kakak sepupunya ini. Cukup memasang tampang melas, maka Dion akan luluh. Dea yang sudah paham dengan sifat Dira hanya tertawa geli melihat cara Dira merayu suaminya."


Flashback off.


Setibanya di butik. Dira di sambut langsung oleh Dea. Setelah menyapa para karyawannya, Dira dan Dea pun langsung menuju ruang kerja Dira.

__ADS_1


" Jadi, maksud kamu, aku handle butik selama kamu buat gaun pengantin itu?"


Dira mengangguk. Dea pun langsung paham. Dan meminta beberapa desain gamis yang akan di bawa ke ruangan nya. Kini Dira menyiapkan ruangan sendiri untuk Dea. Tujuannya agar lebih nyaman kalau suatu saat suami yang juga kakak sepupunya itu datang, maka mereka bisa lebih santai.


Dira menyerahkan desain gamis serta hijabnya pada Dea. Dira sangat tau keahlian Dea. Pilihan Dea sudah pasti banyak laku di butiknya.


" Oke, Ra. Aku udah pilih beberapa desain. Tinggal aku bawa ke ruangan produksi, untuk mencocokkan bahan dan kombinasinya."


Dea berkata sambil membereskan desain-desain gamis milik Dira.


" Oh iya, De. Untuk seri kali ini, tolong buat untuk ukuran jumbo size ya. Beberapa pelanggan kita meminta demikian. Katanya sich, ada beberapa pelanggan yang kecewa karena gak ada size nya."


Dea yang mendengar amanat dari Dira hanya mengacungkan kedua jempolnya. Lalu ke ruangannya sendiri. Dira pun memulai aksi nya menggambar beberapa model gaun pengantin. Sejak beberapa tahun terakhir, Dira menerima pelanggan yang akan menjahit gaun pengantin di butiknya. Dan tentu saja, membuat Butik Dira maju pesat.


Dira bekerja hingga lupa waktu, seharusnya Dira menjemput Hanan. Namun karena kesibukan nya, Dira sampai terlewatkan menjemput Hanan. Dira melihat jam di tangannya, dan Dira pun langsung terlonjak kaget.

__ADS_1


" Astagfirullah, aku lupa jemput, Hanan...."


__ADS_2