
" Kakak cerewet deh. "
" Kakak cerewet juga karena kakak sayang sama kamu, Jelek."
Lalu Dira pun berjalan kembali ke kamarnya.
" Hm.. rasanya kayak jompo aja dech, jalan aja di tuntun." Gumam Dira pelan.
" Kakak dengar, Dira."
Lalu Dira hanya tersenyum. Tak lama Tante Dwi datang, membawa segelas susu hangat untuk Dira. Melihat mamanya datang, Dion pun langsung keluar, dan menuju kamarnya sendiri di lantai yang sama dengan kamar Dira.
" Makasih, Tante. "
" Iya, Sayang. Sehat-sehat di dalam perut Bunda ya, Sayang nya Oma."
Tante Dwi membelai perut Dira dari luar. Perutnya sudah mulai tampak menonjol. Dira pun tersenyum. Namun matanya berkaca-kaca.
" Makasih Tante. Dari dulu Tante gak pernah membedakan antara Dira dan Kak Dion. Terima kasih atas semua kasih sayang Tante ke Dira. Dira bahagia. Seandainya bunda dan Ayah masih ada, pasti mereka saat ini sangat bahagia, melihat Dira akan menjadi seorang Ibu. Dan mereka juga akan sedih, melihat Dira yang akan menjadi Ibu Tunggal untuk anak Dira."
Tante Dwi memeluk Dira. Lalu mencium kening Dira, dan itu membuat Dira semakin haru.
__ADS_1
" Sayang, Tante, Om dan Dion adalah keluarga kamu. Kamu tidak perlu berterima kasih untuk itu semua. Kamu adalah anak perempuan Tante. Dan Dion adalah kakak kamu, jadi sudah kewajiban kami untuk menjaga kamu. Dan seandainya Ayah dan Bunda kamu masih ada, mereka akan bersedih, saat kamu tidak jujur saat masalah ini ada. Bukan bersedih karena kamu akan menjadi Ibu Tunggal."
Tante Dwi menjeda ucapannya. Tangannya merangkum wajah Dira.
" Kami tidak ingin kamu bersedih, Sayang. Jangan pernah memendam apapun dari Tante. Dan Tante mau mengajak kamu ke makam Ayah dan Bunda kamu besok. Apa kamu mau?"
Dira pun mengangguk.Dan Tante Dwi pun meminta Dira menghabiskan susunya, lalu menyuruh nya untuk segera beristirahat. Tak henti-hentinya Dira mengucap syukur pada Sang Maha Pencipta, bahwa masih ada orang yang tulus menyayangi dirinya.
Adzan subuh berkumandang, Dira terbangun dari tidurnya. Membersihkan diri lalu memulai menghadap Sang Khalik. Segala rasa sakit dan sedihnya di tumpahkan di atas sajadah yang terbentang. Biar bagaimana pun, Dira adalah seorang wanita yang mempunyai sisi lemah. Seorang wanita yang akan menangis di saat hati nya tersakiti. Namun kali ini Dira hanya ingin Dira dan juga Sang Pemilik hati manusia yang tau air matanya .
Setelah selesai, Dira kembali membasuh wajahnya, agar menutupi wajahnya yang sehabis menangis. Dira pun turun ke bawah, dan menuju dapur. Dira melihat Bik Siti sudah berada di sana.
"Selamat pagi, Bik."
" Gak bik, Dira mau buat sarapan. Biar Dira yang buat ya, Bik."
" Eh...jangan,Neng. Neng duduk aja disitu ya. Biar bibik aja yang buat."
Buk Siti menolak, dan meminta Dira untuk duduk di kursi yang ada di dekat situ.
" Tapi, Bik. Dira pingin masak. Boleh ya bik, ya .."
__ADS_1
Tante Dwi yang baru saja keluar dari kamar,dan mendengar suara dari arah dapur, pun langsung menuju ke dapur. Di lihatnya Dira yang sedang meminta untuk membiarkan dirinya yang akan memasak sarapan pagi ini.
" Selamat pagi, Ada apa ini. Kok rame banget."
Tante Dwi,melihat ke arah Dira dan Bik Siti.
" Ini, Nya. Neng Dira maksa mau masak sarapan pagi ini. Tapi saya larang. "
"Boleh ya Tante. Dira kangen pingin masak."
Tante Dwi pun menghela nafasnya.
"Ya sudah, tapi ingat jangan sampe kamu kelelahan ya, Sayang. Bik Siti bisa lanjutin kerjaan yang lain. Biar Dira dan Saya yang masak sarapan."
.
.
****Hai...hai...readers...
Aku udah double up ya...
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, gift serta votenya
Love you All..😘😘😘**