
Alby telah selesai dengan ritual mandinya. Pakaian pun telah di siapkan oleh Nadira di ranjang, mulai dari pakaian dalam, kemeja, celana, jas, sapu tangan, ikat pinggang, dan kaos kaki. Semua sudah Nadira selesaikan, Nadira sudah berada di meja makan untuk membuatkan Alby secangkir teh. Selesai membuatkan teh, Dira kembali lagi ke kamar, dan di lihatnya Alby sedang mengancingkan kemeja. Nadira datang menghampiri. Membantunya mengancingkan kemeja. Lalu membantu Alby memasangkan dasi pada leher Alby.
" Terima kasih, Sayang. "
Ucapan itu keluar di saat Dira sudah selesai memasang dasi. Dira membawa tas serta jas yang akan di pakai Alby. Dan kini mereka tengah menikmati sarapan di meja makan.
" Mas, nanti agak siangan, aku izin ke ruko ya. Sudah beberapa hari ini ruko aku tinggal. Dan sepertinya aku akan merubah ruko menjadi sebuah butik."
Alby mendengarkan Dira yang berbicara. Sedangkan Dira masih fokus pada makanannya.
" Kalau perlu sesuatu, jangan segan untuk memintanya pada Mas. Atau mas antar kamu aja dulu. Gimana?"
Dira melihat ke arah Alby. Dan tatapannya sedikit ragu.
"Gak usah, Mas. Nanti kamu telat ke kantornya. Aku bisa pergi sendiri kok. "
__ADS_1
" Oke, tapi jangan naik motor. Nanti aku suruh supir kantor untuk jemput kamu. Oke?"
Nadira mengangguk, lalu mereka menyelesaikan sarapan pagi itu. Dan setelahnya Alby pun berangkat menuju kantornya. Selama di perjalanan, senyum Alby tak hentinya mengembang. Mengingat kejadian saat di Medan, dan berlanjut malam pertama di rumah. Setibanya di kantor, Alby melangkahkan kakinya ringan. Dan bertepatan dengan Bram yang sedang menunggu lift untuk menuju lantai 5 ruangan mereka.
" Bram, kamu ikut dengan saya."
Alby langsung, meminta Bram untuk ikut dengannya. Alby pun langsung menuju lift untuk petinggi perusahaan. Di dalam lift, Bram melihat wajah sumringah Alby.
" Seger bener, emang kemaren diajak kemana sama Dira?"
" Medan."
" Apa????? Serius? Dira ngajakin Lo ke Medan."
Belum lagi mendapatkan jawaban dari Alby, lift yang mereka tumpangi tiba di lantai 5 gedung ini. Alby dengan santainya memasuki ruangannya, dan Bram pun mengekor di belakangnya. Bahkan saat ini Bram segera mengunci pintu ruangan Alby. Alby yang melihat tingkah Bram. Langsung menatap Bram.
__ADS_1
" Jawab pertanyaan gue, beneran Dira ngajakin Lo ke Medan?"
Bram semakin penasaran dengan apa yang terjadi di sana. Hingga ia pun mendesak Alby untuk bercerita.
" Kerja, Lo."
Usir Alby dengan nada ketusnya. Namun Bram yang keras kepala tetap kekeh berada di ruangan itu. Hingga akhirnya Alby pun mulai menceritakan semua kejadian di Medan. Mata Bram membulat sempurna saat Alby mengatakan dirinya lebih memilih Syifa dari pada Dira.
" Al..Al...Lo tuh bego atau apa sich? Masa Lo gak bisa ngeliat ketulusan di mata Dira buat Lo? Tega Lo nyakitin Dira? "
Ucap kesal Bram yang langsung keluar dari ruangan Alby, dan membanting kasar pintu sahabat dan juga atasannya itu. Sementara Alby mengulum senyum mendengar temannya kesal. Dirinya puas sudah mengerjai sahabatnya itu.
Bram langsung masuk ke ruangan pribadi nya, dan mengambil ponsel miliknya. Bram mencari nomor kontak Dira yang sempat di simpannya. Lalu melakukan panggilan ke nomor itu. Namun sayang sekali nomor Dira dalam keadaan sibuk.
" Sial...kenapa sibuk sich?"
__ADS_1
Umpatan keluar dari mulut Bram. Dan tanpa Bram sadari, Alby sudah berada di ruangannya, lebih tepatnya berada di belakangnya.
" Kamu menghubungi siapa? "