Menanti Hati ( Nadira)

Menanti Hati ( Nadira)
Episode 108


__ADS_3

Kini Dira sudah bisa tertidur, setelah Dion memberikan suntikan untuk menenangkan dirinya. Yang tentunya aman bagi kandungannya. Mengingat Dira sedang hamil muda. Dion dan Om Hendra berbicara di kamar Dion saat ini.


" Papa akan menghubungi pengacara kita, untuk menyelesaikan perceraian ini. Papa gak mau, nasib Dira di gantung hanya karena Dira sedang hamil."


Dion mengangguk, tanda setuju. Sebenarnya Dion sudah sangat geram, ingin menghadiahi sebuah bogem mentah untuk lelaki yang telah menjadi mantan suami Adiknya ini.


" Dan kamu, Dion. Papa minta jangan sampai membuat ulah, biar proses persidangan cepat selesai. "


Ucap Om Hendra lagi, setelah melihat putranya dalam mode diam. Om Hendra tau betul, bagaimana watak anaknya ini. Dan membuat keributan, saat ini akan menyusahkan Dira.


" Iya, Papa..Dion gak bakalan buat ulah. Tapi Dion gak janji, kalau setelah ini."


" Dion.."

__ADS_1


" Iya pa...iyaaa.."


Setelah itu, Dion pun pergi meninggalkan kamarnya. Dan kembali ke kamar Dira. Tampak mamanya dan Dira sudah tertidur. Dion hanya melihat sebentar, setelah itu Dia pun berbaring di sofa yang ada disana.


Pagi ini Alby terbangun dengan wajah yang sangat menyedihkan. Bahkan Alby tak tau, jam berapa dia tertidur, karena setelah kepergian Dira. Alby bagai orang linglung. Mama Alby bahkan tak tega melihat keadaan putranya. Namun ini semua adalah resiko yang di tanggung oleh Alby saat ini.


" Den, ini tehnya."


Mbok Kasum menyodorkan secangkir teh hangat pada Alby. Alby hanya mengangguk. Lalu menyeruput teh itu. Dan tak lama deringan telepon terdengar, ternyata Syifa yang menelpon Alby pagi ini.


Sementara di kamar hotel, Dira, Tante Dwi dan Om Hendra sedang berkemas, hari ini juga mereka akan meninggalkan Jakarta. Tujuan nya mereka adalah Bandung. Tadinya Om Hendra ingin membawa Dira ke Bali, namun Dira menginginkan untuk tinggal di Bandung, di rumah orang tuanya. Dan akhirnya mereka menyetujui keinginan Dira.


Dion membantu membawakan koper Dira dan Mamanya, menuju Mobil. Mereka akan pergi setelah sarapan. Dion yang belum bertugas akan mengantarkan mereka ke Bandung. Kini mereka berdua di restoran hotel. Menikmati sarapan. Dira sudah tampak lebih baik. Walau masih sedikit diam. Dan Dira tampak tak terlalu berselera untuk memakan sarapannya.

__ADS_1


"Kamu gak suka, Ra? Atau kamu mau makan yang lain?"


Dira menggeleng, lalu mulai menyuapkan makanan ke mulutnya. Melihat itu, Dion pun buka suara kembali.


" Ra, ingat saat ini kamu sedang hamil. Jadi Kakak minta, kamu jangan stres, itu akan mempengaruhi kesehatan janin mu. Hm.."


" Iya kak. Dira paham."


Lalu mereka pun kembali makan. Setelah selesai, kini mereka memulai perjalanan menuju Bandung. Selama di jalan, Dion berusaha mengajak Dira bercerita. Mereka mengingat masa kecil mereka dulu. Dan itu membuat sesekali senyum di wajah Dira. Tante Dwi yang melihat, Dira sudah mulai tersenyum tampak tersenyum juga.


Jangan tanyakan keadaan Alby sekarang. Dirinya bagai tak memiliki semangat sama sekali. Bahkan dia tak pergi kekantor sama sekali. Telepon dari sekretaris Alby membuat Alby mau tak mau menerima panggilan itu.


" Ya, Ada apa.?"

__ADS_1


" Maaf, Pak. Pak Bram baru saja mengirimkan surat pengunduran diri, dan beberapa jadwal pertemuan sudah pak Bram kirim ke email saya."


__ADS_2