Menanti Hati ( Nadira)

Menanti Hati ( Nadira)
episode 92


__ADS_3

" Kamu dimana, Sayang. Mas gak mau kamu pergi."


Alby berkata sambil sesekali melihat kanan dan kiri berharap bertemu dengan Dira. Lalu setelah itu, dia pun membawa kemudi menuju butik Azzura. Setibanya di sana, Alby langsung mencari Dea. Alby bercerita pada Dea. Dan Dea hanya diam, tak memberikan tanggapan apapun. Dea melihat ada rasa penyesalan, dari pandangan mata Alby.


" Kamu tau De, Dira ada dimana?"


" Maaf mas Al. Dea gak tau. Dea dan Dira belum ada komunikasi lagi sejak pulang dari rumah sakit."


Dea sedikit berbohong demi menutupi dimana sahabatnya itu. Alby tampak mengangguk lemah. Dan wajah Alby yang sedikit pucat menarik perhatian Dea.


" Mas Al, Sakit? Kok wajahnya pucat?"


" Gak , De. Kalo nanti Dira datang, atau menghubungi kamu, kamu kabari aku ya De. Ako mohon."


Dea mengangguk pelan. Dirinya merasa bersalah, namun Dea tidak mau sampai Dira marah padanya, karena memberi tahukan keberadaan nya.


Alby pun pergi dari butik Azzura yang di pegang Dea. Dia kembali berkeliling mencari Dira. Setau dirinya Dira tak memiliki kerabat di Jakarta. Dea adalah satu-satunya sahabat Dira. Walaupun Dira kini sangat dekat dengan kelurga Bram,tapi tak mungkin Dira pergi ke keluarga angkatnya itu.

__ADS_1


Waktu pun terus bergulir, langit malam tengah menghiasi kota Jakarta. Alby pun kembali ke rumah. Rumah yang kini sepi, karena ratu di istananya itu pergi meninggalkan dirinya sendiri. Mbok kasum yang melihat kedatangan Alby segera bertanya.


" Maaf den, Den Al mau makan malam? "


" Al mau istirahat aja, Mbok. "


Mbok kasum pun langsung meninggalkan Al sendiri di kamar. Alby masih duduk di tepi ranjang. Mengamati sekeliling kamar yang mereka berdua tiduri malam tadi. Sepi. Alby membuka kamar mandi, masih ada tertinggal baju Dira yang malam tadi di pakainya tidur. Diambilnya baju itu dan di ciuminya. Masih tertinggal aroma tubuh Dira disana. Tak terasa air mata Alby kembali menetes.


" Mas yakin, kamu pasti akan kembali, Sayang. Saat ini kamu hanya ingin menyendiri."


Ucapnya dan memeluk baju tidur itu.


" Makasih ya De. Kamu gak keberatan kan, aku sementara tinggal disini?"


Dea tersenyum manis.


" Ya gak lah Dir. Aku justru seneng banget. Tapi kamu gak apa-apa, tinggal di rumahku. Rumahku ini gak ada apa-apanya loh, di banding kan rumah mu."

__ADS_1


" Ck..kamu apa an sih De. Aku tinggal dimana aja ok kok."


" Ya udah, sekarang kamu istirahat. Aku juga mau tidur. Besok harus ke butik, oke?"


Dira mengacungkan jempolnya pada Dea. Lalu Dea pun meninggalkan Dira sendiri. Dira lalu merebahkan tubuhnya. Pikiran dan hatinya masih melayang, mengingat pengkhianatan yang di lakukan Alby. Air mata Dira menetes. Lama- lama Dira pun memejamkan matanya.


Pukul tiga kurang lima belas menit, Dira terbangun dari tidurnya, karena perutnya yang merasa lapar. Sudah dua malam ini, Dira selalu kelaparan jam segini. Dira sendiri sampai pusing, tidak pernah seperti ini. Dira bangun, dan bergegas ke dapur. Hanya ada mie instan dan telur. Dira pun memasak dan memakan mie itu sendirian. Teringat malam kemarin saat Dira dan Alby makan, menjelang subuh begini. Dea terbangun ketika Indra penciuman nya mencium aroma mie instan.


" Dira kamu masak? tengah malam gini?"


Ucap Dea tak percaya.


" Maaf ya De. Aku kelaperan. Kamu mau?"


Dea menggeleng bingung, karena Dira termasuk orang yang tidak suka makan, tapi kenapa sekarang, Dira kelaparan di tengah malam begini.


Di tempat yang berbeda, Alby pun merasa yang sama. Alby ke dapur, dan melihat apakah masih ada persediaan makanan. Ternyata masih ada makan malam yang sudah dingin di kulkas. Lalu Alby menatap mie instan yang ada di lemari. Dengan cepat Alby memasaknya dan memakannya.

__ADS_1


" Gue ngabisin mie instan dua bungkus sendiri? Ada yang aneh nih dengan tubuh Gue."


__ADS_2