Menanti Hati ( Nadira)

Menanti Hati ( Nadira)
episode 79


__ADS_3

Alby mengetuk pintu kamar inap tempat Syifa di rawat. Pintu itu terbuka, dan dapat di lihatnya wanita yang telah menjadi mantan kekasihnya itu tengah tertidur di ranjang pasien dengan wajah yang pucat.


Tante Yuni yang melihat kedatangan Alby, memundurkan langkahnya, memberi ruang untuk Alby masuk ke ruangan itu.


" Masuklah. " Ucapnya pelan.


Alby menatap wajah Syifa. Tampak pucat dan pipinya lebih tirus dari terakhir mereka bertemu. Alby duduk di tepi ranjang, melihat tangan yang dulu selalu menggenggam tangannya. Jari-jari itu tampak semakin ramping.


Tak lama mata Syifa bergerak, menandakan bahwa Syifa akan terbangun dari tidurnya. Syifa membuka matanya perlahan, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya. Syifa masih memindai ruangan yang sudah beberapa hari ini di huninya. Ketika Syifa menoleh ke arah kirinya, ternyata dirinya melihat Alby.


" Bee..."


Alby mengangguk, Syifa seperti mimpi melihat orang yang selama ini di rindukannya. Keningnya berkerut, lalu Syifa pun menggeleng.


" Tidak...tidak, aku pasti berhalusinasi."


Ucapnya sambil memijit keningnya. Syifa berpikir, karena terlalu merindukan Alby, pasti saat ini dia sedang berharap Alby datang menemuinya. Syifa berusaha untuk bangun dari tidurnya. Melihat Syifa yang kesulitan, Alby pun bergegas membantunya. Saat itulah Syifa sadar bahwa dirinya tidak sedang berhalusinasi atau bermimpi.

__ADS_1


" Bee...ini beneran kamu?"


Alby tersenyum tipis dan mengangguk. Syifa tersenyum, lalu memeluk Alby. Alby yang di peluk secara spontan, hanya diam,tak membalas. Dan itu menyadarkan Syifa.


" Maaf. " Ucapnya sambil menetralkan sikapnya. Rasanya sangat malu, memeluk Alby yang sudah menjadi milik orang lain.


Kini Alby duduk di kursi yang ada di dekat ranjang Syifa. Cukup lama mereka terdiam, sampai akhirnya Syifa buka suara.


" Kamu tau dari mana aku ada di sini?"


" Kebetulan aku tadi menjenguk rekan Bisnisku, saat aku melihat ke arah ruangan ini, aku seperti mengenal. Ternyata itu kamu."


Syifa mengangguk, lalu mereka kembali terdiam.


" Kamu kenapa, Fa?"


Syifa tersenyum, senyum yang masih sama, namun tak mampu lagi menggetarkan hati Alby.

__ADS_1


" Aku kecapean aja, dan anemia. Tapi mama terlalu panik, dan memintaku untuk rawat inap beberapa hari." Ucapnya.


Alby melirik jam yang ada di pergelangan tangannya. Lalu pamit undur diri.


" Terima kasih, kamu sudah mau menjenguk. Aku sangat senang. Sampaikan salam ku pada Dira."


Setelah Syifa berkata seperti itu, Alby pun keluar dari kamar Syifa. Saat menutup pintu kamar itu, pandangannya bertemu dengan Tante Yuni.


" Terima kasih sudah memenuhi keinginan Syifa. "


" Sama-sama, Tante. Saya pamit. "


Alby pun berjalan menuju parkiran, kemudian dia masuk ke belakang kemudi. Lalu menjalankan mobilnya membelah jalanan ibu kota, menuju istana yang di bangun nya bersama Dira. Hatinya sudah merasa sangat bersalah, karena sudah menemui wanita dari masa lalunya tanpa memberitahu kan Dira terlebih dahulu.


Selama di perjalanan, Alby terus memikirkan keadaan Syifa.Walau Syifa bilang dia hanya kelelahan dan mengidap Anemia, tapi Alby bukan orang bodoh yang tak tahu arti tulisan di papan yang terletak di ujung ranjang Syifa. Leukimia akut. Itulah tulisan yang tertulis disana. Alby tiba di rumah tepat di saat Adzan Isya berkumandang.


Flashback off

__ADS_1


__ADS_2