
" Dira kamu mau kemana? Kamu jangan seperti ini, Sayang. Mas mohon."
Ucapnya mencoba menahan langkah Dira. Dira menghentikan langkah. Di berikan nya sebuah amplop yang berlogo pengadilan agama.
" Aku harap, kamu tidak mengulur waktu, Mas."
Dira pun melangkah kan kakinya. Sebuah taksi telah ada di depan, menunggu untuk membawa Dira pergi. Sedangkan Alby kembali menyesali keputusannya.. Taksi yang di kendarai Dira membawa Dira ke rumah Dea. Dira tidak tahu harus kemana lagi. Dea telah menunggu Dira, karena sebelumnya Dira telah menceritakan semuanya.
Dira menangis di pelukan Dea.
" Menangislah, Dir. Luapkan semuanya."
Dea berkata sambil membelai punggung Dira. Dira menangis, meluapkan semua rasa sakit di hatinya.
" Mas Alby tega, De. Aku gak nyangka."
Dea hanya bisa menenangkan, setelah di rasa Dira sedikit tenang, Dea pun mengambilkan segelas air untuknya.
" Minum dulu. "
Lalu Dira pun meneguk air itu hingga tinggal setengahnya. Sekarang kamu istirahat, aku ke butik dulu. Dira pun mengangguk.
" Kalau kamu butuh sesuatu, kabari aja aku. Jangan lupa makan siang ya. Aku udah masak. "
__ADS_1
" Terima kasih, De. Kami baik banget sama aku."
" Gak perlu sungkan, aku udah anggap kamu sebagai saudara aku. Oke. Aku pergi dulu."
Dea pun berlalu, meninggalkan Dira di rumah sederhana miliknya. Akibat lelah hati dan pikiran, Dira pun tertidur.
Sementara Syifa sedang menunggu kedatangan Alby di rumah sakit.
" Kamu kenapa Sayang?"
Tante Yuni bertanya pada Syifa yang menatap ke arah pintu.
"Ma, Alby kok gak kesini ya?"
Tante Yuni tersenyum lembut dan membelai rambut Syifa.
Syifa tersenyum tipis dan mengangguk.
" Sekarang kamu istirahat, biar cepat pulih."
Syifa pun membaringkan tubuhnya lalu mencoba tidur.
Saat ini Alby masih merenungi kesalahannya. Kenapa menjadi serumit ini. Di pandangi nya foto Dira yang tersimpan di ponselnya. Foto yang diambil dari segala arah.
__ADS_1
" Maafin Mas. Mas gak bisa jujur sama kamu. Kamu tau, di hati Mas cuma ada kamu. "
Ucapnya sambil membelai foto Dira. Lalu di lihatnya surat yang ada di nakas. Surat gugatan perceraian. Sungguh dirinya tak menyangka, kali ini Dira benar-benar melayangkan gugatan.
Dira yang berada di rumah Dea, terbangun saat merasakan lapar, entah mengapa nafsu makan Dira akhir-akhir ini, melonjak. Dira pun tak tahu. Rasa lapar itu menyiksanya, namun Dira sangat enggan untuk memakan makanan. Akhirnya Dira hanya membuat segelas susu, dan makan sepotong roti.
Dira memandang cincin pernikahan yang ada di jari manisnya. Dira memang belum melepas cincin itu, Dira masih memakainya, karena dirinya masih berstatus istri dari Alby. Walau sebentar lagi, dia akan melepas gelar itu.
Bukan tanpa alasan, Dira meminta perpisahan. Sejak mengetahui Syifa hamil, Dira sudah sangat insecure pada dirinya. Dira menghela nafas panjang. Mulai hari ini, dia akan membiasakan hidup sendiri.
Sedangkan Alby tengah memutari jalan, mencari keberadaan Dira.
" Kamu dimana, Sayang. Mas gak mau kamu pergi."
Alby berkata sambil sesekali melihat kanan dan kirix berharap bertemu dengan Dira. Lalu setelah itu, dia pun membawa kemudi menuju butik Azzura. Setibanya di sana, Alby langsung mencari Dea. Alby bercerita pada Dea. Dan Dea hanya diam, tak memberikan tanggapan apapun. Dea melihat ada rasa penyesalan, dari pandangan mata Alby.
.
..
...
**Hai readers, malam ini up nya 1 episode aja ya..βΊοΈ
__ADS_1
Tapi nanti pasti aku kasih double up lagi kok, janga lupa like,komen dan vote nya ya...
makasih...love you...ππ**