Menanti Hati ( Nadira)

Menanti Hati ( Nadira)
Episode 129


__ADS_3

Suara bariton mengalihkan atensi Dira tapi tidak untuk Dea. Dia tau betul suara siapa itu, Dea sengaja menyibukkan diri mengganggu baby Hanan.


" Udah lama, De?"


Dion mencoba bertanya pada Dea yang tampak menciumi baby Hanan.


" Belum Mas."


" Udah ketemu Mama?"


Dea mengangguk, Dira yang merasa akhirnya keluar kamar, dan membiarkan mereka berdua bicara. Tentu saja dengan pintu kamar yang di biarkan terbuka. Dira membuatkan minuman untuk Dea dan juga Dion. Tante Dwi yang berada di dapur pun bertanya.


" Kan bisa minta tolong Bik Siti, Sayang. Kasian baby Hanan di tinggal sendiri."


" Hanan di temani oleh Kak Dion dan Dea , Tant."


Tante Dwi seketika menghentikan tangannya gerakan tangannya yang sedang memotong buah.


" Jadi itu tadi yang namanya Dea, Sayang."


" Hu'um, Gimana menurut Tante?"

__ADS_1


" Sepertinya anaknya cukup sopan. Tapi kenapa ya, Dion belum bisa memenangkan hatinya?"


Dira pun tak tahu harus bagaimana lagi membujuk sahabatnya itu. Tante Dwi meminta nampan yang di bawa Dira. Wanita cantik itu, ingin melihat Dea. Ketika dirinya di dekat pintu kamar, tanpa sengaja Tante Dwi mendengar percakapan mereka. Dan Tante Dwi menghentikan langkahnya.


" Mas, aku bukan wanita yang sepadan dengan keluarga kalian. Aku cuma seorang anak yang gak jelas asal usulnya. Aku besar di panti asuhan, aku gak tau siapa orag tuaku. Aku gak mau kejadian lalu terulang kembali, Mas."


" Orang tuaku bukan orang seperti itu, De."


" Mas, aku gak mau buat keluarga Mas malu. "


Dea berkata dengan bergetar. Ucapan dan hatinya sungguh bertolak belakang. Dirinya memang mencintai Dion, namun dirinya menyadari siapa dirinya ini.


Tante Dwi diam, mendengar percakapan mereka. Tanpa di sadari oleh Dion dan Dea, Tante Dwi mendengar pembicaraan mereka. Dea segera keluar dari kamar, dan meninggalkan Dion sendiri. Dea mencari Dira, setelah ketemu, Dea pun berpamitan pulang. Dira melihat mata Dea yang basah. Dan tanpa banyak bicara lagi, Dea meninggalkan rumah Dira.


" Sabar, mama yakin, Dea hanya butuh waktu. Kalau kamu memang mencintai nya, perjuangan dia."


Dion menatap Mamanya. Lalu memeluknya.


" Doakan Dion ya Ma."


" Iya, Sayang."

__ADS_1


*


Acara syukuran baby Hanan pun dilaksanakan. Di mulai dengan acara pengajian, lalu kini Baby Hanan akan di gunting sedikit rambutnya. Dira merasakan haru sekaligus sedih, karena saat seperti ini, hanya Dira dan keluarga nya yang ada. Sementara keluarga dari pihak Alby tidak tampak hadir. .Saat rambut Baby Hanan akan di gunting, terdengar suara salam. Ternyata Alby yang hadir berserta kedua orang tuanya.


Wajah Om Hendra mulai tak bersahabat, namun Tante Dwi meminta suaminya ini untuk tidak terbawa emosi hatinya.


" Pa, jangan buat Dira makin sedih."


Om Hendra pun mengangguk. Kini baby Hanan telah berpindah di gendongan Alby. Dira membiarkannya, karena tak ingin membuat keributan. Acara demi acara pun telah selesai.


" Maafin papa ya Nak. Papa terlambat."


Ucap Alby seraya mencium kening baby Hanan. Dira melihat ke arah pintu, ternyata ada Dea yang baru saja hadir, dan membawa beberapa kado yang di titipkan oleh karyawan Dira di butik Azurra.


Dira menghampiri Dea. Tante Dwi yang tampak Dea hadir pun, mendekati Dea.


" Selamat datang, De."


Degh...


Dea melihat ke arah Dira. Dengan sedikit kikuk Dea mencium tangan tante Dwi dengan takzim.

__ADS_1


" Terima kasih, Tante..."


" Jangan Tante, tapi Mama.."


__ADS_2