
Waktu bergulir tanpa terasa lima tahun sudah Dira kembali tinggal di kota ini. Hanan sudah duduk di sekolah dasar. Bram dan Luna pun sudah menikah. Lalu kesalahpahaman antara Alby dan Dira, sudah terselesaikan dengan baik. Dengan bantuan Papa Wisnu tentunya. Karena selama ini, Papa Wisnu sudah tau apa penyebab Dira pergi, dan apa penyebab Dira mengembalikan semua yang Alby dan Papa Wisnu berikan.
" Ma...Hanan pergi dengan Papi ya?"
" Papa sibuk, Nak. Harus nganter Mami kamu ke rumah sakit. Jadi Hanan pergi dengan Supir aja ya?"
Hanan lesu namun tetap memakan sarapannya.
" Jagoan papi kenapa?"
Kali ini suara bariton itu hadir di tengah-tengah mereka. Hanan menggeleng.
" Hanan kenapa, Dek?"
" Gak apa-apa, Kak. Mbak Luna mana?"
__ADS_1
" Masih di kamar, katanya kebelet."
" Biasa itu, kalau udah hamil besar. Bawaannya mau pipis terus."
" Selamat pagi, semuaaaa...selamat pagi jagoan mami. Kenapa sayang, kok wajahnya cemberut?"
Kali ini Luna yang bersuara, dan melihat Hanan cemberut, membuatnya bertanya. Namun Hanan hanya menggeleng.
Sejak Bram menikah, dan Luna meminta Hanan memanggilnya mami, Hanan merubah panggilannya pada Bram menjadi papi. Ketika di tanya apa alasannya, Hanan hanya mengatakan bahwa Bram sudah tua. Dira yang mendengar alasan itu hanya geleng-geleng kepala.
" Hanan kenapa, Ra?"
Ucap Dira. Dira tak ingin Hanan selalu merepotkan Kakak dan kakak iparnya ini. Bagaimana pun, mereka punya kesibukan tersendiri. Bram yang sudah paham, langsung melirik ke arah Hanan yang masih cemberut dan matanya mulai mengembun. Luna pun sadar akan hal itu.
" Jagoan Mami, perginya bareng mami aja yuk."
__ADS_1
Bisik Luna di telinga bocah yang sudah di kenalnya sejak usia tiga tahun itu. Hanan pun mengangkat wajahnya dan menatap Luna. Ada semburat senyum di bibirnya.
" Gak usah, Mbak. Nanti Kak Bram terlambat ke kantor. Sekolah Hanan, rumah sakit serta kantor Kak Bram itu jalannya gak searah. Hanan biar pergi sama supir aja."
Wajah Hanan kembali sendu. Bram hanya melihat ke arah Dira. Bram menyelesaikan sarapannya, sedangkan Luna mengoleskan selai pada rotinya. Begitu selesai, Luna pun mengambil tempat bekal, lalu membawanya. Kalau sudah begitu, Luna paham bahwa Bram sedang tidak ingin berdebat.
" Kita berangkat ya, Ra. Lalu Hanan mencium tangan Luna serta Bram. Sedangkan Bram, hanya diam sambil berlalu."
Setibanya di mobil, Luna langsung memakan sarapannya.
" Bebh jangan gitu dong. Kasian Dira. Kamu diemin gitu pagi-pagi."
" Aku tuh sebel, Beibh. Apa kamu gak liat wajah sedih Hanan. Dira tu udah terlalu egois, tau gak?"
Luna hanya bisa menghela nafasnya. Luna tak tahu harus berkomentar apa. Inginnya membenarkan ucapan Bram, tapi sikap Dira juga tak sepenuhnya salah. Memang arah sekolah dan rumah sakit tempat Luna bekerja itu berlainan. Kalau harus menghantar Hanan dulu, pasti Bram terlambat sampai ke kantor, sementara pagi ini akan ada meeting penting.
__ADS_1
" Yaudah, mulai besok kita lebih cepet aja berangkatnya. Jadi bisa antar Hanan dulu, baru ke rumah sakit. Gimana?"
Bram hanya mengangguk. Luna memang wanita yang bijak. Bahkan Luna sangat menyayangi Hanan. Baginya Hanan adalah anaknya juga. Hanan bisa merebut hati siapa saja yang melihatnya. Selama di perjalanan, Bram lebih banyak diam. Sedangkan Luna mendengarkan musik sambil sesekali ikut bergumam kan lagu yang di dengarnya.