Menanti Hati ( Nadira)

Menanti Hati ( Nadira)
Episode 154


__ADS_3

Siang hari Bram datang bersama Luna. Mereka membawakan makanan Hanan. Yaitu Ayam goreng serta sup jamur.


" Kamu makan dulu, Dek. Kakak gak mau kamu ikutan sakit."


Dira pun memakan makanan yang di bawa meraka. Luna menatap Hanan yang masih terlelap. Bahkan Luna memegang dahi Hanan.


" Demamnya masih tinggi ya, Dek."


Dira mengangguk. Lalu Luna pun ikut duduk di sebelah Dira.


" Dokter bilang apa?"


" Typus. Aku juga gak tau, Mbak. Kenapa Hanan bisa kena typus. Padahal makanan udah aku bawain, jadi gak mungkin Hanan jajan di luaran."


Luna pun mengangguk, saat Bram menatap wajah Hanan, ternyata Hanan bergumam.


" Papa..."


Wajah Bram berubah seketika. Dipandanginya wajah polos Hanan. Lalu melihat ke arah Dira.


" Papanya sudah mau hubungi, Dek?"


" Mas Alby sedang di Kalimantan, Kak. Perusahaannya sedang ada masalah. Kemungkinan Mas Alby akan lama disana. Dan memang beberapa hari ini, Mas Alby tidak menghubungi. Mungkin sibuk."


Bram yang sudah tau, kalau perusahaan yang di Kalimantan itu adalah milik Alby dan Aya. Perusahaan itu memang sedang dalam masalah. Ada beberapa proyek yang tidak sesuai, sehingga mengharuskan Alby atau Aya sebagai pimpinan turun langsung.


Belum lama, Dira menutup bibirnya. Ponsel Dira berdering. Nama Alby muncul disana. Dira menjawab panggilan itu, dan membuat Hanan yang tadinya tertidur membuka matanya.


" Assalamualaikum, Mas."


" Waalaikumsalam, Dir. Kamu dimana?"


" Aku-"

__ADS_1


Belum sempat Dira menjawab, Hanan memanggil Dira dengan suara paraunya.


" Ma..."


Dira pun langsung melihat ke arah Hanan.


" Ya, Sayang..."


" Itu Papa ya?"


Alby yang mendengar suara parau Hanan langsung merubah panggilan dari suara ke video. Dan betapa terkejutnya Alby melihat Hanan terbaring di ranjang rumah sakit.


" Hanan sakit, Dir?"


Dira mengangguk, karena Hanan yang rewel membuat Dira memberikan ponsel itu pada Hanan.


" Papa..."


" Kamu kenapa, Nak?"


Dira membalik tubuhnya, mendengar interaksi antara Ayah dan Anak itu. Dirinya masih berpikir bahwa mungkin Hanan merindukan Alby.


" Ikatan Darah memang tidak bisa di bohongi ya, Ra."


Luna berkata setelah melihat Hanan sedikit ceria setelah mendapat panggilan dari Alby.


" Ma...papa bilang, Papa akan temui Hanan."


Ucap bocah gembul itu gembira. Lalu Dira mengambil ponselnya dan berjalan menjauh dari ruangan itu.


" Kenapa kamu gak hubungi aku, Dir?"


" Maaf, Mas. Aku gak mau ganggu karena aku tau mas sedang sibuk. "

__ADS_1


Alby menghela nafasnya, sedangkan Dira hanya diam. Setelah itu Alby mengucapkan salam dan menutup panggilan.


Dira masuk ke dalam ruang perawatan Hanan dan melihat Hanan yang sudah duduk dan sedang membelai perut buncit Luna.


" Mami,...kapan dedeknya lahir?"


" Sebentar lagi, Sayang. Hanan udah gak sabar ya?"


Hanan mengangguk.


" Soalnya Hanan bosen di rumah gak ada temennya. Papi sibuk, mami sibuk, mama juga sibuk. Hanan cuma di temani sama si mbok. Hanan kan pingin punya Adek juga. Kayak Davi yang punya Adek lucu seperti Maura."


Hanan berbicara panjang lebar, membuat Bram, Luna dan Dira tersenyum.


" Sekarang Hanan istirahat lagi, ya?"


Bujuk Luna. Sedangkan. Hanan hanya menggeleng.


" Hanan mau nunggu Papa. Papa bilang mau datang."


Dira mendekat ke ranjang Hanan. Membelai kepala nya dan memberikannya kecupan disana.


" Papa lagi sibuk, Sayang. Papa pasti datang, tapi tidak sekarang. Hanan istirahat ya, biar cepat sehat dan kita pulang. Oke."


Wajah Hanan berubah sendu, Bram dan Luna saling pandang. Lalu Hanan membaringkan tubuhnya dengan lesu. Terselip rasa sedih di hatinya. Dira membantu membenarkan selimut Hanan.


.


.


**Assalamualaikum readers...


Mohon Maaf beberapa hari ini aku gak up, karena ada kesibukan di dunia nyata. Dan untuk double up, Minggu ini aku belum bisa kasih ya. Terima kasih atas dukungan kalian, terima kasih atas vote dan likenya.

__ADS_1


Untuk komennya juga...walau ada beberapa yang komen dan membuat aku sedikit down. Love you All😘😘😘**


__ADS_2