
Setelah satu hari di rawat dan dokter mengatakan bahwa kondisi Dira baik-baik saja, akhirnya Dira di perbolehkan pulang. Sebelum pulang, Dira menyempatkan diri untuk menemui dokter kandungan di rumah sakit itu.
Dira menunggu sampai namanya di panggil, lalu dia pun masuk ke ruangan dokter. Dira di temani oleh Dea, karena Alby ada meeting yang tak bisa di tunda lagi. Enathalah, Dira tak ingin tahu, apakah Alby memang meeting atau hanya pergi untuk menemui Syifa.
Setelah menunggu sekitar lima belas menit, nama Dira pun di panggil. Dokter wanita itu mulai menanyakan kondisi Dira, dan setelahnya melakukan USG. Dira melihat calon anaknya pada layar, air matanya menetes haru, buah cinta yang selama ini di rindukannya kini tengah bersemayam di rahimnya.
" Bayinya sehat ya Bu, usianya kandungan ibu tiga belas Minggu."
Dokter itu menjelaskan kondisi calon anaknya. setelah selesai Dira pun kembali ke ruangan nya. Sudah ada Alby disana. Wajah Alby tampak panik, saat tak mendapati Dira di sana.
" Kamu dari mana, Sayang? Aku panik nyariin kamu."
Ucap Alby saat Dira baru saja masuk, dan langsung memeluk dan mencium pucuk kepala Dira. Dira segera melepas pelukan itu.
" Aku mau pulang, aku akan tinggal bersama Dea. Sampai perceraian kita selesai, Mas."
Dira berkata pada Alby. Alby mematung mendengar ucapan Dira.
__ADS_1
" Enggak, kamu gak boleh kemana-mana. Kamu harus pulang dengan Aku. Kamu masih istri Aku."
Ucap Alby sedikit menaikan suaranya.
" Dan aku gak akan menceraikan kamu. Kamu akan tetap jadi istri aku."
" Aku gak mau. Aku mau kita tetap bercerai. Kamu sudah memilih wanita itu. Aku sudah pernah bilang kan, aku gak akan menerima pengkhianatan. Aku kecewa sama kamu. Aku sakit hati kamu menikahi Syifa di belakang aku. Kami Egois, kamu jahat. Kamu brengsek..."
Akhirnya Dira mengeluarkan segala rasa yang di simpannya selama ini. Baru kali ini Dira berkata kasar dan berteriak di depan Alby. Setelah berkata seperti itu, Dira pun menangis, dan dengan cepat Alby memeluknya. Namun Dira mendorong Alby dengan sisa tenaganya.
" Tolong cerai kan aku, sekarang. Aku gak sanggup menahan rasa sakit ini. Aku mohon."
" Sesakit itukah? sampai kamu gak mau lagi melihatku?"
Dira hanya terisak, Alby pun menangis di depan Dira.
" Aku akan menceraikan mu, tapi dengan satu syarat. Selama masa Iddah, kau tetap tinggal di rumah kita? Kalau kau setuju aku akan menyetujui permintaan mu."
__ADS_1
" Baik, sampai saat anak ini lahir, setelah itu, urus perceraian kita di pengadilan."
Dira mengikuti keinginan Alby. Hanya sampai anak yang di kandungnya lahir, maka dia bisa pergi dari hidup Alby.
" Kita pulang sekarang."
Ajak Alby dan ingin menggandeng tangan Dira.
" Jatuhkan dulu Talakmu padaku."
Ucap Dira dingin. Alby menghela nafasnya. Dea yang sedari tadi duduk di luar, di minta masuk oleh Dira. Untuk menjadi saksi. Dengan suara bergetar dan menahan tangis, Alby menjatuhkan. talak pada Dira.
" Saya, Alby Rafadian, hari ini menjatuhkan talak satu padamu, Nadira Sofia.."
" ALBY......"
Suara Papa Wisnu terdengar di depan pintu ruang perawatan Dira. Mama Ratna bahkan menangis saat mendengar ucapan Alby. Mereka tiba di saat kata talak itu sudah terucap.
__ADS_1
Alby pun hanya menatap nanar wajah Dira. Dengan cepat Alby melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. Mama Ratna berlari memeluk Dira yang masih tampak mematung.