
" Kenapa? Apa yang ingin kamu katakan."
Ucap Alby setelah di lihatnya Dira seperti ingin mengutarakan sesuatu. Dira menghembuskan nafasnya, mencoba menetralkan detak jantungnya. Dan mencoba menahan air matanya.
" Mari kita bercerai."
JEDDEEEEERRRRRRRR.,.....
Alby merasa ada sebuah bom yang meledak di dalam hatinya. Alby dan Dira masih saling menatap. Di lihatnya manik mata Dira yang sendu.
" Ka..kamu pasti becanda kan, Sayang."
Ucap Alby terbata setelah mendengar penuturan dari Dira. Nafas Alby tercekat setelahnya. Dira mengalihkan pandangannya. Menatap lurus ke depan.
" Mari kita bercerai. Aku akan mengikhlaskan semua ini. Walau rasanya sangat sulit."
Ucap Dira lagi, tak ada air mata yang menetes. Ucapannya lembut, namun bagai pisau yang menusuk tajam di relung hati Alby. Dirinya sungguh tak menyangka, setelah dua Minggu dirinya di diamkan, dan kini ini adalah akhir dari kediaman Dira.
Alby berlutut di hadapan Dira. Lalu menggenggam tangannya.
" Aku tahu, kesalahanku sangat besar. Aku memang pantas mendapat sebuah hukuman. Tapi aku mohon, jangan hukum aku seperti ini. Kamu tampar aku, kamu maki aku, atau kalau perlu kamu bisa ambil semua nya. Tapi aku minta jangan pernah berpisah dari aku. Aku mohon..."
Alby berkata dengan air mata yang mengalir dari dua sudut matanya. Bahkan tangannya memegang tangan Dira, untuk di pukul ke wajahnya.
__ADS_1
" Ayo tampar aku, Dira. Tampar...maki aku, tapi aku mohon jangan pernah berpisah dari aku. "
Ucapnya sekali lagi. Dira menarik tangannya. Lalu melihat Alby. Tangannya membelai wajah lelaki yang telah mencuri hatinya selama ini.
" Aku ingin mas bahagia. Hanya itu. Dan aku tahu, kebahagiaan itu hanya Syifa yang bisa memberikan nya."
Ucapnya kemudian. Kali ini tak ada lagi air mata yang keluar. Dira sudah merelakan semuanya. Alby menggeleng, lalu memeluk tubuh Dira yang ada di hadapannya.
" Tidak...aku gak mau. Aku mohon, maafkan lah aku. Maaf....."
Alby masih menangis di pelukan Dira. Dira membalas pelukan itu, dengan hati hancur.
" Aku sudah memaafkannya. Aku yang salah, karena aku tidak bisa memberikanmu kebahagiaan yang kau inginkan."
" Aku rela,Mas. Berbahagialah...aku yang mengalah."
Dira pergi ke kamar nya. Kamar yang saat ini di tempatinya. Kamar yang dulu, di tempati, saat hubungannya dengan Alby masih tak tahu kejelasannya. Di kamar ini, tangisnya kembali tumpah. Sedangkan Alby yang masih berlutut di taman belakang. Alby belum beranjak dari sana. Dia menangis disana.
Setelah menangis disana, kini Alby mengetuk pintu kamar Dira.
" Dira...sayang. Mas mohon, buka pintunya. Mas ingin kita bicara."
Namun tak ada sahutan dari dalam. Dira diam saja. Di dalam kamar, Dira sedang mengemasi barang-barang nya. Dira akan berniat pergi dari rumah ini. Alby menunggu Dira dan duduk di ruang keluarga. Dirinya sungguh tak menduga bahwa akan seperti ini jadinya.
__ADS_1
Alby merenungi kesalahan besar yang di buatnya. Kesalahan yang menghancurkan hidup dan rumah tangganya. Alby menopang wajah dengan kedua tangannya. Sampai suara pintu terbuka, mengalihkan perhatiannya. Dira keluar dari kamar dengan menggeret sebuah koper.
" Dira kamu mau kemana? Kamu jangan seperti ini, Sayang. Mas mohon."
Ucapnya mencoba menahan langkah Dira. Dira menghentikan langkah. Di berikan nya sebuah amplop yang berlogo pengadilan agama.
" Aku harap, kamu tidak mengulur waktu, Mas."
*
**
***
**Assalamualaikum readers tersayang...
Apa kabar? Hari ini aku tepati janji untuk double up ya...makasih atas semua dukungan nya...jangan lupa vote di setiap Senin ya..🤭🤭
Makasih ya readers, atas semua komen, like dan hadiahnya...love you all..😘😘😘😘❤️❤️**
***
**
__ADS_1
*