Menanti Hati ( Nadira)

Menanti Hati ( Nadira)
episode 53


__ADS_3

Matahari mulai muncul, namun dua insan ini masih lelap di atas peraduan, bahkan sepertinya enggan untuk turun. Sinar mentari samar-samar mengintai dari balik tirai kamar itu. Alby mengerjap kan mata, menyesuaikan cahaya yang masuk, setelah itu barulah ia membuka mata dengan sempurna. Wajah Dira yang terlelap menjadi pandangan utamanya. Setelah malam tadi dirinya menjadikan Dira sebagai wanita seutuhnya, bahkan pergulatan panas itu terjadi sampai menjelang subuh. Pukul tiga pagi, Alby baru menyelesaikan tugas negaranya. Entah sudah berapa kali Dira meminta berakhir, namun tubuh Dira bagaikan candu bagi Alby. Tak ada kata puas untuknya malam tadi.


Alby membelai lembut wajah Dira. Dan Dira yang merasakan belaian itu perlahan menggerakkan. mata, lalu membukanya. Wajah bantal Alby dan senyuman manisnya, menyambut Dira yang baru saja kembali dari alam mimpi.


" Selamat pagi, Sayang."


Sapa Alby pada Dira yang baru saja, membuka mata. Dira yang baru saja tersadar, membalasnya dengan senyuman manis. Dengan cepat, Alby mengecup kening istrinya. Dan itu membuat selimut yang menutupi tubuh polos mereka tersingkap. Dira yang sadar, lalu berusaha menahan selimut di bagian dadanya agar tak melorot.


" Kenapa Sayang? "


" Mas ish...aku malu. "


Alby terkekeh mendengar penuturan istrinya ini.


" Ngapain malu, aku udah liat semua. Bahkan aku sudah menandai daerah teritorial ku, kan. Kamu juga sudah merasakannya."


Dengan perlahan di arahkannya tangan Dira ke wilayah rawan milik Alby yang dalam keadaan siap tempur. Mata Dira membulat sempurna. Belum sempat dia menolak, Alby dengan cepat mengukung Dira di bawahnya.

__ADS_1


" Sekali lagi ya? Sarapan pagi aku."


Tanpa menunggu jawaban dari Dira. Alby kembali melancarkan aksinya bercocok tanam. Dira yang mendapat serangan dadakan hanya bisa mengikuti. Setelah selesai, Alby mengecup kening Dira dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Lima belas menit kemudian, Alby keluar dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya, dan rambutnya yang basah sedang di gosok dengan handuk kecil lainnya. Nadira bangkit dari ranjang, namun rasa sakit di daerah intinya memaksanya dirinya untuk bergerak perlahan. Apalagi Dira masih membelikan selimut di tubuhnya.


" Aaawww...sshh.."


Nadira meringis menahan kan sakit. Alby yang melihatnya pun langsung menghampiri.


" Sakit banget ya."


Dira hanya mengangguk, lalu seketika tubuhnya melayang, karena Alby menggendongnya menuju kamar mandi.


Dira berkata dalam gendongan Alby. Setibanya di kamar mandi, Alby mengisi bath up dengan air hangat, dan memberikannya essentials oil. Setelahnya ia pun membuka selimut yang menutupi tubuh Dira. Dira terkejut, saat Alby melepas selimut itu. Alby memandangi tubuh polos Dira, yang terdapat banyak tanda kepemilikan di sana. Tak hanya di bagian leher, bahkan di bagian dada pun tak luput dari tanda itu. Alby tersenyum puas. Dan mengangkat tubuh Dira untuk masuk kedalam bath up.


" Perlu mas bantuin gak?"


Dira menggelengkan kepalanya. Rasanya masih sangat malu berhadapan dengan Alby dengan tubuh polos.

__ADS_1


" Kamu berendam aja dulu, nanti kalau udah selesai. Kamu panggil Mas, ya?"


Alby pun meninggalkan Dira yang berendam di kamar mandi. Membiarkan Dira merilekskan tubuhnya. Setelah semalaman di gempur olehnya, bahkan pagi tadi pun dia mengulanginya.


Alby keluar kamar dan menuju dapur. Alby membuatkan roti isi coklat keju, dan susu hangat untuk Dira.


" Loh, Den. Biar si mbok aja yang buat sarapan. Aden tinggal bilang aja. Aden mau apa?"


Mbok kasum merasa tidak enak, karena Alby membuat sarapannya sendiri. Alby tersenyum mendengar mbok kasum.


" Gak papa, Mbok. Alby buatin sarapan untuk istri Alby. Biar dia sarapan di kamar aja."


"Neng Dira sakit? "


Mbok kasum tampak khawatir.


" Gak mbok, Dira cuma kecapean aja. Alby ke atas dulu ya mbok."

__ADS_1


Alby pun melangkahkan kakinya menuju kamar. Membuka pintu kamar dengan sebelah tangan, dan sebelah tangan lagi memegang nampan yang berisi sarapan. Belum tampak Nadira di kamar, itu artinya Nadira masih berada di kamar mandi.


Pandangan Alby menuju ranjang tempat pergulatan mereka malam tadi. Ranjang itu tampak acak-acakan. Alby tersenyum memandangnya. Ia pun bergegas membersihkannya. Sejenak ia tertegun melihat noda yang ada di seprei putih itu. Dengan cepat ia menariknya. Lalu menggantinya dengan yang baru .


__ADS_2