
Selama di perjalanan, tangan Alby terus di remas oleh Dira. Dira sudah tidak bisa menahan rasa sakitnya lagi, keringat meluncur dari dahi Dira. Setibanya di rumah sakit, Dira langsung di bawa ke ruangan bersalin. Tak lama Tante dan Om Hendra pun datang. Mereka membawa perlengkapannya bayi untuk Dira.
" Kak Dira udah di dalam Tante. "
Semua orang sedang menunggu di luar. Alby tampak mondar mandir di depan pintu bersalin. Perasaannya campur aduk. Antara takut, bahagia dan cemas. Sementara Dira berada di ruang bersalin sendirian. Setelah menunggu, kini suara tangisan kencang seorang bayi terdengar di ruangan itu.
Semua orang berucap syukur. Wajah sumringah pun terlihat. Seorang dokter keluar dari ruangan itu. Semua orang datang menghampiri.
" Dok, bagaimana keadaan Keponakan saya?"
Om Hendra lebih dulu bertanya, sebelum Alby bertanya.
" Keadaan ibu dan bayinya sehat, dan selamat ya pak, cucu bapak berjenis kelamin laki-laki. Sebentar lagi pasien akan di pindahkan ke ruang perawatan. Dan siapa yang akan mengadzani putra ibu Dira?"
" Saya, dok."
" Saya, Dok."
Alby dan Om Hendra menjawab bersama. Sehingga membuat dokter mengerutkan keningnya. Lalu dokter itu tersenyum.
" Sebaiknya Bapak berdua bisa kompromi dulu, siapa yang akan mengadzani putra ibu Dira. Saya permisi, selamat pagi."
__ADS_1
Dokter itu pun berlalu dari hadapan mereka semua.
" Kamu gak berhak mengadzani putranya Dira."
Om Hendra berucap ketus pada Alby.
" Tapi saya, Ayahnya, bagaimana pun, Itu anak saya, om. Saya Ayahnya."
Om Hendra tersenyum sinis melihat Alby. Sedangkan Tante Dwi membelai tangan suaminya, meminta suaminya tidak melakukan hal-hal yang dapat memancing keributan.
" Biarkan Dira yang memilih, siapa yang akan mengadzani putranya."
Ucap Tante Dwi kemudian. Yang di jawab dengan anggukan oleh kedua lelaki disana. Tak lama ranjang Dira di bawa keluar dari ruangan itu. Tante Dwi langsung memeluk Dira.
Dira hanya mengangguk, Dira masih sangat lemah. Dan tak lama sebuah box bayi ikut di dorong menuju ruang perawatan Dira. Alby meminta ruangan Super VVIP untuk putranya dan juga Dira. Setelah tiba di ruangannya, Dira pun melihat semua orang.
" Sayang, Anak kamu belum di adzani, tadi om dan Alby sempat berdebat. Sekarang kamu saja yang memilih. Siapa yang akan mengadzani putramu, Sayang."
Dira sempat melihat ke arah Om Hendra. Dan menatap ke arah Alby. Alby menatap Dira dengan pandangan yang sulit di jelaskan. Ada rasa rindu, malu, dan sedih di matanya.
" Om Hendra."
__ADS_1
Alby menunduk lemas, bahkan diri sudah memundurkan langkahnya untuk menuju pintu ruang perawatan Dira.
" Om, maafin Dira ya. Bukan Dira tidak menghormati om, sebagai orang yang menjaga Dira. Tapi Dira mau, Ayahnya lah mengadzani putranya. Dira gak boleh egois kan Om?"
Om Hendra mengangguk, lalu tersenyum. Dan memeluk Dira.
" Apapun itu, pasti kamu sudah memikirkannya Nak. Om bangga, kamu tidak egois dan berbesar hati."
Dira tersenyum pada Om Hendra. Lalu Dira melihat punggung Alby yang masih mematung di dekat pintu.
" Adzani lah putramu, Mas. Biar dirinya tau, bahwa suara pertama yang didengarnya, adalah suara Ayahnya."
Alby membalikkan badannya. Lalu berjalan ke arah Dira. Mendekati Dira, namun Dira membuang pandangan nya.
" Lakukan lah sekarang."
Ucap Dira tanpa melihat ke arah Alby. Lalu Alby di bantu oleh Tante Dwi menggendong putranya,dan mengadzani bayi mungil itu. Suara Alby bergetar, saat mengumandangkan takbir. Sesekali terdengar isakan dari Alby. Rasa haru menyeruak di hatinya, bahwa buah cinta yang selama ini di harapkan oleh mereka telah hadir di dunia. Walau saat ini mereka tak lagi bersama, namun Dira masih berbesar hati mewujudkan keinginan Alby, untuk mengadzani putarnya saat hadir di dunia.
.
.
__ADS_1
** Aku kasih bonus ya..
jdi malam ini, aku triple up, mudah-mudahan kalian puas..ðŸ¤ðŸ¤ðŸ˜„😘😘love you...all...😘😘😘🥰🥰🥰**