Menanti Hati ( Nadira)

Menanti Hati ( Nadira)
Episode 174


__ADS_3

Setelah selesai dengan urusan memasak makan siang. Kini Dira dan Alby akan menjemput Hanan ke sekolah. Dira dan Alby sudah berencana akan membawa Hanan, untuk menjenguk anaknya Bram dan Luna. Kabar ini pasti sangat membahagiakan untuk Hanan. Karena kelahirannya sudah sangat di nantikan Hanan.


" Papa...mama..."


Hanan berlari ketika melihat Alby datang menjemput nya. Dan langsung memeluk Alby.


" Hey, Boy. Gimana sekolahnya hari ini?"


" Seru, Pa. Dan bulan depan akan diadakan karya wisata, bersama orang tua. Papa bisakan nemeni Hanan?"


" Insha Allah, Nak. Papa usahakan bisa."


Senyum bahagia pun terus terkembang di wajah Hanan. Lalu Dira memintanya untuk masuk.


Mereka berkendara menuju Rumah Sakit tempat di mana Luna di rawat. Hanan memperhatikan jalan yang di laluinya.


" Loh, Ma. Ini kan bukan jalan pulang ke rumah Opa. Kita mau kemana?"


Dira dan Alby hanya tersenyum, lalu membiarkan Hanan dengan segala pemikiran anak seusianya. Mobil Alby terparkir di parkiran rumah sakit. Hanan pun semakin mengerutkan keningnya.


" Kok kita ke rumah sakit, Ma. Mama sakit? Atau papa yang sakit? "


" Kamu nanti juga tau, Sayang. Sekarang ayo, kita masuk."

__ADS_1


Dira memegang bahu Hanan dan menuntunnya masuk ke dalam rumah sakit. Lalu Alby pun memencet nomor lantai yang akan mereka kunjungi. Pintu Lift terbuka. Dan Dira pun semakin tersenyum melihat wajah Hanan.


Dira membuka pintu ruangan Luna. Hanan membulatkan matanya melihat Luna yang menggendong bayi di tangannya. Sedangkan Bram sedang berada tepat di samping ranjang Luna.


" Mami...."


" Hai, Jagoan. Sini sayang."


Ucap Luna yang melihat Hanan di depan pintu kamarnya. Hanan pun langsung berlari mendekati Luna.


" Sayang, ini Adek Hanan. Sekarang Dedenya udah keluar."


" Mi...Hanan boleh cium gak?"


Sebelum Hanan menciumnya, Dira lebih dulu melarang.


" Jangan Hanan."


Semua orang melihat ke arah Dira. Begitu juga Alby.


" Hanan kan belum cuci tangan, Hanan juga masih pake baju sekolah. Sekarang Hanan cuci tangan, ganti baju, baru cium adeknya. Oke."


Hanan yang tadinya bersedih, kini tampak tersenyum lembut.

__ADS_1


" Maaf ya Dek. Kakak lupa, kalo kakak belum cuci tangan. Sebentar ya, kakak cuci tangan dulu."


Hanan pun masuk ke kamar mandi, dan mengganti pakaiannya, dengan pakaian yang telah di bawa Dira . Dan sudah mencuci tangannya. Sementara Dira membuka makanan yang di bawanya tadi.


Hanan keluar dari kamar mandi, dan langsung menatap wajah adik bayi yang selama ini di tunggunya.


Luna pun mendekatkan bayinya pada Hanan. Hanan pun langsung menciumnya.


" Mami, Hanan boleh gak manggil Dede bayinya dengan panggilan princess."


" Boleh, Sayang."


Dira yang melihat wajah bahagia Hanan, hanya tersenyum tipis. Tak pernah Hanan sebahagia itu, dan itu jelas terlihat dari pancaran matanya.


" Sekarang kita makan dulu, Hanan juga makan, Sayang."


Kali ini Mama Yasmin yang menginterupsi semua disana. Namun Hanan masih belum bergeming dari sisi Luna. Hanan masih setia di samping Luna. Dan membelai pipi Princess dengan lembutnya.


" Hanan sayang sama Dede princess?"


Tanya Luna saat melihat Hanan yang selalu saja membelai pipi Princess nya itu.


" Sayang banget, Mi. Udah lama Hanan pingin punya Dede, dan sekarang Allah ngasi semuanya ke Hanan. Hanan punya Papa, dan Hanan udah punya princess yang bakalan Hanan jagain. Sampe kapan pun."

__ADS_1


Ucapan Hanan, di sambut dengan belaian lembut di kepala Hanan. Luna terharu dengan ucapan bocah tampan itu. Begitu sederhana impiannya. Dan kini semua telah terwujud, membuat sinar bahagia terpancar dari matanya


__ADS_2