
Alby tiba di ruangan Luna, di sambut Bram yang masih terjaga, sementara Dira dan Luna sudah terlelap. Melihat Dira yang terlelap, membuat Alby mendekatinya. Wajahnya hanya berjarak beberapa centi dari wajah Dira. Alby mengamati Dira yang tertidur. Dan senyuman pun terbit di wajah nya.
" Manfaatkan kesempatan yang Dira berikan. Jangan sakiti dia lagi."
Ucapan Bram membuat senyum di wajahnya luruh seketika. Lalu dirinya melihat Bram yang sudah berdiri tak jauh dari dirinya.
" Aku janji, cukup sudah kebodohan yang dulu aku lakukan. Aku kehilangan semua, kehilangan istri dan sahabatku."
Ucap Alby dengan menyesal. Itu dapat di rasakan juga oleh Bram. Bram mengangguk.
"Pulanglah, Dira sangat lelah. Sampai ketiduran di sofa itu."
Alby dengan pelan, menggendong Dira. Sementara Dira yang sudah sangat kelelahan tak menyadari tubuhnya yang kini melayang. Karena berada di gendongan Alby.
Alby masih terus menggendong Dira. Namun ketika sampai ke lobby, Dira pun membuka
matanya. Dan langsung membulatkan matanya, kare na merasa tubuhnya yang melayang.
__ADS_1
" Jangan goyang, nanti kamu bisa jatuh."
Alby meminta seorang security untuk membantunya membuka pintu mobil. Sedangkan Dira masih membenamkan wajahnya di dada Alby. Dira malu, akibat ulah Alby.
Security yang melihat Alby menggendong Dira pun bertanya.
"Maaf pak, istrinya masih sakit, kok di bawa pulang?"
Alby tersenyum.
" Istri saya ketiduran, Pak. Kami tadi menunggu keluarga yang baru saja melahirkan. Akibat kelelahan, istri saya tertidur. Dan saya gak tega kalau harus membangunkannya."
Mata Dira kembali terbuka saat mobil yang mereka kendarai sudah menjauh dari parkiran rumah sakit. Alby melirik Dira yang sudah duduk dengan tegak.
"Kamu kok bangun? Tidur aja lagi, nanti Mas bangunin kalau kita udah tiba di hotel."
" Aku udah gak ngantuk."
__ADS_1
Alby tersenyum. Dan masih tetap fokus menyetir. Tak lama mereka pun tiba di parkiran hotel. Alby dan Dira turun bersamaan dengan Alby. Dan berjalan menuju lobby dengan tangan Alby yang menggenggam tangan Dira.
Kini mereka berdua sudah berada di dalam kamar. Dira pun masuk ke dalam kamar mandi. Membersihkan diri. Tak lama Dira keluar dari kamar mandi dan dilihatnya Alby yang sedang berdiri di balkon kamar hotelnya.
Dira duduk di tepian ranjang, melihat Alby yang masih menatap langit malam.
" Kamu mikirin apa, Mas."
Suara Dira memecah lamunan Alby. Alby membalikkan badannya dan menatap ke arah Dira. Merengkuh pinggangnya dan menipiskan jarak diantara mereka. Wajah Alby menelisik wajah ayu Dira. Wajah yang selalu di rindukan nya. Karena kebodohannya, dulu dirinya kehilangan wanita berwajah teduh ini sekian lama.
Alby membelai wajah itu. Wajah yang selalu menghiasi mimpinya. Wajah yang selalu di bawa dalam setiap langkahnya. Alby mendaratkan kecupan di kening Dira. Kecupan yang mengisyaratkan betapa Alby sangat beruntung mendapat kesempatan kedua.
Dira meremas kemeja Alby. Walau pun dulu dirinya pernah hidup bersama, namun entah mengapa, sentuhan Alby bisa membuat darahnya berdesir. Alby melepaskan kecupan itu, dan melihat ke mata Dira.
" Terima kasih, sudah memaafkan aku, terima kasih masih mau menerima ku kembali, aku bersumpah-"
Belum sempat Alby meneruskan ucapannya, tangan Dira menutup bibir Alby. Lalu Dira menggelengkan kepala.
__ADS_1
" Aku gak butuh sumpah kamu, Aku hanya butuh kepastian, dan kejujuran kamu. Serta bukti bahwa aku tak salah dalam menjatuhkan pilihan. Aku hanya perlu itu."