Menanti Hati ( Nadira)

Menanti Hati ( Nadira)
Episode 74


__ADS_3

Waktu terus bergulir tak terasa kini usia pernikahan Alby dan Nadira sudah memasuki tahun ke tiga. Pagi ini, entah mengapa Alby hanya sarapan sendiri. Tak seperti biasanya yang selalu di temani oleh Dira. Alby sudah menunggu Dira untuk turun, namun nyatanya belum turun juga.


Akhirnya Alby memutuskan untuk menyusul Dira yang masih di dalam kamar.


" Sayang...sayang...Kamu kenap-"


Ucapan Alby tertahan karena dirinya tak melihat Dira di dalam kamar.


" Sayang...sayang, kamu di kamar mandi? "


Alby mengetuk pintu kamar mandi namun tak ada jawaban. Alby pun memutar handel pintu, dan ternyata tidak terkunci.


" Sayang..."


Alby melihat Dira yang mematung di depan wastafel, di hadapan nya terdapat wadah kecil dan sebuah alat uji kehamilan. Alby masuk ke kamar mandi. Saat Alby menyentuh bahu Dira, Alby merasakan bahu itu bergetar,dan kepala Dira menunduk.


" Sayang...kamu kenapa?"


Dira tak berkata apapun, ia masih menggenggam alat uji kehamilan di tangannya. Alby pun mengambilnya lalu tersenyum manis.


" Gak apa-apa, Sayang. Belum rezeki kita. Kamu jangan pesimis gitu dong."

__ADS_1


Ucap Alby sambil membalikkan Dira untuk menghadap ke arahnya, hanya terdengar isakan dari bibir Dira. Alby mengangkat dagu Dira, untuk melihat ke arahnya. Alby mengusap air mata yang menetes di pipi Dira dengan ibu jarinya. Lalu memeluknya, dan isakan Dira makin terdengar di telinga Alby.


Sudah tiga tahun mereka berumah tangga, namun benih cinta itu belum juga hadir melengkapi kisah mereka. Suara tangis bayi yang sudah lama di rindukan keduanya, tak kunjung hadir juga. Beberapa cara sudah dilakukan oleh Alby dan Dira. Mulai dari memulai pola hidup sehat, makan makanan yang bergizi, mengurangi kegiatan Dira di butik yang kini telah memiliki beberapa cabang. Sampai melakukan honeymoon dan mendatangi tempat-tempat romantis untuk meluluskan keinginan mereka. Bahkan memeriksakan diri ke dokter pun sudah, namun sampai saat ini belum ada hasil yang memuaskan.


Dira masih menangis di pelukan Alby. Saat ini hanya itu yang bisa menenangkan dirinya. Dukungan dari suami dan keluarganya merupakan hal terbesar yang di butuhkan nya saat ini. Alby menuntun Dira untuk duduk di tepi ranjang, kaos yang pakai Alby di bagian dadanya tampak basah karena air mata Dira.


Alby sengaja membiarkan Dira untuk menangis, membiarkan dirinya untuk meluapkan emosi di hatinya. Setelah di rasa Dira cukup tenang. Alby pun mengambil gelas yang berisi air di atas nakas.


" Minum dulu."


Alby menyodorkan gelas itu pada Dira, dan Dira pun meminumnya seteguk.


Ucap Alby sambil membawa Dira ke dalam pelukannya. Lalu mencium pucuk kepala Dira yang tertutup hijab.


" Tapi aku ingin seperti wanita-wanita yang lain, Mas. Yang mengandung, melahirkan, menyusui dan merawat anak-anaknya. Aku merasa gak berguna sebagai istri ataupun sebagai menantu."


Ucap Dira di sela isak tangisnya.


" Ssttt...kamu gak boleh bicara seperti itu. Anak itu mutlak hak nya Allah. Dia -lah yang mengaturnya. Bukan kita. Kamu masih ingatkan apa yang di katakan dokter. Kita berdua sehat sayang, gak ada masalah apa pun. Kita hanya di suruh bersabar. Bukan kah kemarin pak ustadz juga bilang, semua itu sudah Allah yang mengaturnya, rezeki, maut, jodoh. Jadi Mas gak mau kamu terlalu menyalahkan. dirimu, Mama dan papa juga gak pernah kan menuntut. Mas sayang sama kamu. Mas gak mau liat kamu sedih-sedih lagi. "


Dira hanya mengangguk kan kepalanya. Dira pun menatap wajah Alby yang tersenyum lembut padanya.

__ADS_1


" Makasih mas, makasih kamu mau sabar menghadapi aku."


" Mas yang seharusnya berterima kasih sama kamu. Sudah mau bertahan. Terima kasih Sayang, Love you."


Ucap Alby sambil ******* bibir Dira. Dira pun mendorong dada Alby.


" Kenapa...."


Dira menunjukkan pintu kamar dengan dagunya. Ternyata pintu kamar masih terbuka. Alby pun tertawa.


" Kalau pintunya ditutup, kamu mau kan?"


Ucapnya sambil menarik turunkan alisnya.


" Mas mesum......"


Ucap Dira sambil berlari ke arah kamar mandi. Dan Alby tertawa melihat tingkah istrinya itu.


" I love you Nadira Sofia. You are forever and irreplaceable, today tomorrow and forever."


Ucap Alby sedikit berbisik di kamar itu. Lalu mengusap sudut matanya.

__ADS_1


__ADS_2