Menanti Hati ( Nadira)

Menanti Hati ( Nadira)
episode 52


__ADS_3

Akhirnya setelah berhasil membujuk dengan sedikit memaksa, kini Nadira dan Alby pindah ke kamar Alby. Malam ini, Dira hanya di minta membawa satu pasang baju untuk di pakainya besok pagi. Besok pagi, barulah Dira akan memindahkan semua barang-barangnya ke kamar Alby.


Saat ini, Dira sedang berada di kamar mandi, untuk berganti pakaian dengan gaun tidur yang di pilihkan Alby . Ada rasa malu menghampirinya. Karena baru kali ini dia memakai pakaian seminim ini. Sebenarnya dia juga bingung, kapan Alby membeli gaun tidur ini. Dira menatap dirinya sendiri di depan kaca, gaun tidur berwarna merah, sangat kontras dengan kulitnya yang bersih. Dengan beberapa kali menghembuskan nafas, akhirnya Dira memberanikan diri keluar dari kamar mandi.


Ceklek..


Suara pintu kamar mandi yang terbuka mengalihkan pandangan Alby dari benda pipih di tangannya. Di pandanginya Nadira dari ujung rambut sampai ujung kaki. Perlahan Alby mendekat. Dira merasa sangat gugup. Alby menggenggam tangan Dira. Dira memberanikan diri menatap Alby. Semakin lama Alby semakin merapatkan dirinya. Bahkan tangannya kini melingkar sempurna di pinggang Dira. Perlahan Alby mendaratkan ciuman di kening Dira. Cukup dalam, seperti ingin mengungkapkan rasa sayangnya pada wanita yang di nikahi karena perjodohan ini.

__ADS_1


Alby membawa Dira duduk di tepian ranjang. Membelai pipinya lembut, dan memindai wajah teduh itu. Kini Alby mengangkat dagu Dira untuk meminta wanitanya menatap wajahnya. Ciuman lembut kembali mendarat di bibir Dira. Walau bukan untuk pertama kalinya, namun Dira tetap saja gugup. Ciuman yang lembut, kini berubah semakin menuntut, bahkan kini saling membalas. Dira sedikit mendorong dada Alby, disaat dirinya merasa kekurangan oksigen. Bibir ranum itu, kini tampak sedikit membengkak. Di belainya dengan lembut, dan kini mereka kembali saling memangut.


Dengan perlahan Alby merebahkan Dira, tanpa melepas tautan bibir mereka. Bahkan bibir itu kini berada di leher jenjang Dira. Memberi jejak kepemilikan, tak hanya di satu tempat, tapi di beberapa. Terus berjalan sampai pada gundukan kenyal kembar milik sang istri. Lagi-lagi tanda kepemilikan di sematkan di tempat itu. Dan entah sejak kapan, kain yang menempel di tubuh mereka terlepas dari tempat nya.


Kamar yang biasanya sepi dan dingin itu, kini terasa hangat, walau di luar hujan sedang turun dengan derasnya. Dinginnya penyejuk ruangan dan rinai hujan mampu di kalahkan dengan erangan panas dari kedua mahluk yang sedang di landa asmara ini. Mereka menunaikan kegiatan yang seharusnya sejak delapan bulan lalu mereka lakukan. Kegiatan yang menjadi penyatuan dua insan, dan malam ini, kegiatan itu mereka lakukan.


" Sakit ya?"

__ADS_1


Dira hanya mengangguk, lalu Alby mencium kening dan menjalar ke seluruh wajah Dira. Setelah dirasa Dira cukup tenang, Alby pun mengayuh demi mencapai pada puncaknya. Kamar itu kini di penuhi oleh erangan dan lenguhan dari mereka berdua. Setelah mengayuh cukup lama, kini mereka berdua telah mencapai puncak itu. Tubuh Alby ambruk di atas tubuh polos Dira. Dan nafas mereka tersengal, setelah meraih puncak kenikmatan. Alby kini merebahkan dirinya di samping Dira. Merentangkan tangannya untuk di jadikan bantalan istrinya, kemudian menciumi puncak kepala Dira. Alby membelai wajah teduh yang tampak lelah itu. Lalu mengecup keningnya.


" Terima kasih sudah menjaganya untukku, Sayang. I love you..."


Dira hanya mengangguk, karena dirinya sangat lelah, ia menyandarkan kepalanya di dada lelaki yang di cintainya itu. Lalu berkata.


" I love you too. My hubby."

__ADS_1


__ADS_2