Menanti Hati ( Nadira)

Menanti Hati ( Nadira)
episode 94


__ADS_3

" pergilah, kamu hati-hati di jalan ya? jangan lupa makan siang. "


alby hanya menganggukkan kepalanya. lalu ia pun pamit, setelah sebelumnya memberikan kecupan di kening syifa.


Alby mengendarai mobilnya menuju butik Azzura 2, melihat ke dalam butik dari dalam mobil. Lalu berjalan ke dalam, di lihatnya Atik yang sedang membereskan gamis-gamis yang akan di jual.


" Selamat pagi, Pak Alby. "


Sapa Atik. Lalu Alby pun mencoba menanyakan keberadaan Dira.


" Mbak Dira udah berapa hari ini gak datang, Pak. Yang handle semua Mbak Dea."


Alby diam sejenak, lalu pergi. Dirinya pusing mencari Dira kemana.


" Kamu dimana, Sayang."


Ucapnya sambil memegang setir kemudi. Matanya melihat ke kanan kiri. Lalu Alby menjalankan mobilnya menuju kantornya. Meeting yang tak bisa di hindarkan lagi, membuatnya harus segera tiba disana.


Alby tiba di kantornya setelah empat puluh lina menit berkendara. Masih ada sisa waktu beberapa menit lagi, sebelum rapat di mulai. Bram yang melihat kedatangan Alby, mengerutkan keningnya. Dirinya sudah sangat ingin bertanya pada Alby, namun di urungkan,karena waktu untuk meeting sudah mepet.

__ADS_1


Selesai meeting, Bram langsung mengikuti Alby ke ruangannya. Alby tampak memijit pelipisnya, wajahnya juga tampak lesu. Jelas terlihat, bahwa dirinya tidak baik-baik saja.


" Napa Lo?"


Tanya Bram langsung. Alby yang melihat Bram di depannya. Langsung menghentikan gerakan memijitnya.


" Dira udah tau."


Bram diam tanpa ekspresi. Menunggu ucapan Alby selanjutnya.


" Dira marah, dan sekarang dia pergi dari rumah..


" Baguslah..itu emang pantes Lo dapetin. Bersyukur Dira gak gugat cerai. "


Jawab Bram seenaknya. Alby mendecak kesal. Sebenarnya Bram ini sahabatnya atau musuhnya.


" Lo sahabat gue, apa musuh gue sich? Gue lagi pusing, Lo malah buat gue makin pusing."


Ucap Alby sambil tersungut.

__ADS_1


" Lo pusing karena Lo yang plin plan. Lembek Lo jadi lakik. Jelas-jelas Dira tuh udah yang terbaik buat Lo. Malah Lo nikahi si Syifa. Lo sadar gak sich, Lo itu udah nyakitin dua perempuan sekaligus. Lo nikahin si Syifa karena kasian kan. Karena Lo ingin mewujudkan impiannya. Sebelum dia meninggal. Kalau seandainya Syifa tau, apa gak sakit hati dia."


Alby terdiam, lalu Bram kembali berbicara.


" Lo mewujudkan impian Syifa dengan menghancurkan impian Dira. Dimana hati Lo? Dira perempuan lembut, Dira mempunyai hati yang luas untuk bisa memaafkan kesalahan Lo yang dulu. Tapi bukan berarti dia bisa menerima pengkhianatan Lo."


Bram ingin pergi dari ruangan Alby. Baru selangkah dia pergi.


" Dira gugat cerai gue, Bram.."


Bram berbalik, dan kembali tersenyum sinis ke Alby.


" Bagus, gue dukung Dira. Setelah sidang perceraian Lo dan Dira selesai, Lo bakal terima surat pengunduran diri dari Gue. "


Bram pun melangkah keluar dari ruangan Alby. Alby menutup wajahnya. Kepalanya makin pusing, Bram yang dulu sahabatnya kini malah memusuhinya.


" ****..." Alby mengumpat, dan melampiaskan kekesalannya pada semua yang ada d meja. Kali ini keputusannya memang benar-benar bodoh. Bukan hanya Dira yang pergi, Bram pun perlahan pergi. Bahkan kedua orang tuanya tak juga menjawab telepon darinya.


Sedangkan Aya, entahlah, saat masalah ini ada, Aya sedang tak di Jakarta. Perusahaan yang ada di Kalimantan sedang mengalami masalah, dan Aya sedang berada di sana untuk mengatasinya.

__ADS_1


__ADS_2