
Tante Yuni merasa sangat bersalah karena telah membuat keputusan yang menyakiti banyak orang. Dirinya menunduk dengan sesekali mengusap sudut matanya.
" Saya sudah memaafkan semuanya, Bu. Saya sudah memaafkan kesalahan Alby, dan Saya juga sudah memaafkan Syifa. Agar Dia tenang disana."
Lalu Dira menghela nafasnya. Dan membuangnya ke udara.
" Saya memaafkan bukan untuk siapapun. Itu untuk hidup saya, untuk masa depan anak Saya. Saya tidak mau di katakan sebagai ibu yang egois karena memisahkan anak dari ayahnya. Tapi untuk kembali kepada Alby, Saya tidak bisa."
" Saya kira pembicaraan ini sudah cukup, Bu. Saya harus ke dalam, anak saya membutuhkan saya."
Lalu Dira pun kembali masuk ke kamarnya dan di lihatnya Tante Dwi yang sedang menimang Baby Hanan.
" Sayang, tamu nya sudah pulang?"
" Sudah, Tante."
__ADS_1
Tante Dwi yang melihat perubahan di wajah Dira, akhirnya bertanya, dan Dira pun menceritakan semua yang terjadi. Dan membuat Tante Dwi semakin geram dengan Tante Yuni. Bahkan tangannya sedikit terkepal, menahan rasa emosinya.
" Tante, Dira ingin pindah lagi dari rumah ini. Dira yakin, setelah ini, mereka akan sering kesini. Dira lelah Tante. Cukup sudah. Dira ingin tenang bersama Hanan. "
Tante Dwi pun menyetujui keinginan nya. Dan setelah pembicaraan itu, Tante Dwi segera menghubungi suaminya dan membuat Om Hendra mengambil tindakan cepat.
Om Hendra dan Dion saling berkomunikasi, saat ini Dion sedang berada di butik Azzura yang di kelola Dea. Dion pun langsung menuju mobilnya dan bergegas ke Bandung untuk menemui Dira dan keluarganya.
" Kalau bukan karena papa yang melarang, sudah lama ku habisi lelaki yang bernama Alby dan orang-orang yang menyakiti Dira." Gumam Dion di perjalanan. Bahkan saking geramnya, Dion sampai tak berpamitan pada Dea. Dea yang saat itu berada toilet pun bingung, mendapati Dion yang sudah tak ada di ruangannya.
Setibanya di Bandung, Dion melihat Dira yang sedang mengemasi pakaiannya dan pakaian Baby Hanan. Sedangkan Bik Siti membantu Dira meletakkan pakaian di koper.
" Apa yang membuat kamu ingin pergi, Ra?"
Dion berkata saat tiba di kamar Dira. Bik Siti yang merasa sungkan mendengar pun undur dari kamar Dira. Lalu kembali ke arah dapur.
__ADS_1
Dira menceritakan semuanya pada Dion. Dion mengepal tangannya.
" Benar-benar gak punya perasaan, Kakak akan bawa kamu ke Bali. Kakak ada rumah disana, walau pun gak besar, tapi cukuplah untuk kamu dan anak kamu. "
" Papa setuju."
Om Hendra segera menyetujui. Mereka hanya ingin Dira menata hati dan pikirannya saat ini. Kondisi Dira yang baru saja melahirkan pasti sangat sensitif. Kedatangan Alby yang sudah beberapa kali ke Bandung, pasti akan membuat Dira mengingat luka itu lagi. Apalagi saat mendengar penuturan Tante Yuni, tentang Syifa yang meminta Alby untuk kembali kepada Dira. Sungguh sangat menyakitkan untuk Dira.
" Aku harus pergi, Mas. Ternyata dirimu hanya menjalankan amanat dari Syifa agar aku kembali padamu. Bukan karena keinginan hatimu, lagi-lagi kau membuatku kecewa dan terluka. Batin Dira.
Menjelang sore, keluarga itu meninggalkan rumah peninggalan orang tua Dira. Hanya tinggal Mang Asep dan Buk Siti. Yang kembali menjaga rumah itu.
" Kasian neng Dira ya, Pak. Hatinya di permainan kan. Ibu berharap, disana nanti, Neng Dira bisa bertemu dengan orang yang baik, dan benar-benar tulus." Ucap Bik Siti, setelah melihat mobil mereka menjauh.
" Kita doakan saja yang terbaik untuk Neng Dira, Buk. Bapak sebenarnya juga kasihan. Tapi mau bagaimana lagi. Oiya buk, jangan lupa pesan Tuan Hendra, jangan pernah mengatakan kemana keluarga ini pergi, kepada siapapun."
__ADS_1