Menanti Hati ( Nadira)

Menanti Hati ( Nadira)
Episode 156


__ADS_3

Sudah dua hari ini Alby berada di rumah sakit bersama Dira dan Hanan. Saat kemarin Bram datang, Alby mengajak Bram untuk berbicara berdua.


Flashback on


" Bram, gue mau minta maaf, atas apa yang gue lakuin ke Dira. Gue tau, gue salah. Dan Lo juga tau, alasan apa di balik itu semua."


Bram hanya menatap Alby, tanpa mencela ucapannya. Bram sadar, ini adalah masa lalu, dan selama delapan tahun ini, Alby memilih tidak menikah lagi ataupun melabuhkan hatinya pada wanita lain. Alby membuktikan ucapannya dulu, bahwa hanya Dira yang akan menjadi pelabuhan terakhirnya.


Dulu Bram sempat ragu, namun selama delapan tahun ini, mampu membuat Bram sedikit percaya akan ucapan Alby.


" Bram, izinkan gue mendekati Dira lagi. Izinkan gue meyakinkan hati Dira, bahwa gue masih sangat mencintai dia."


" Lo mestinya minta izin ke orang tua gue. Bukan ke gue."


" Udah, gue udah pernah minta izin ke om Haidar, dan jawabannya terserah pada Dira. Saat dulu gue tanya Dira, Dira belum mau menjawabnya. Gue percaya, Dira takut Gue nyakitin dia lagi. Gue tau, kesalahan gue dalem banget, dan sekarang gue mau menebus semua kesalahan itu, Bram. Please, izinin gue."


Bram menghela nafasnya. Bram melihat kejujuran dan pengharapan di mata Alby. Bram tak ingin Hanan kembali menjadi korban keegoisan mereka. Cukup sudah Hanan menjadi korban keegoisan Dira, selama delapan tahun ini.


" Apa jaminan kalo Lo gak bakalan nyakitin Dira untuk kedua kalinya?"


" Nyawa gue."

__ADS_1


Flashback off.


Zaidan datang untuk memeriksa kesehatan Hanan. Zaidan melihat Alby ada disana selama dua hari ini.


"Hai jagoan, sepertinya kamu senang banget ya?"


Ucap Zaidan saat memeriksa keadaan Hanan.


" Iya dong, Om. Hanan seneng, kan ada Papa. Akhirnya Papa bisa nemenin Hanan. Walau dirumah sakit."


Ucap Hanan, dan menampilkan deretan gigi putihnya. Sedangkan Dira tampak melihat ke arah Zaidan. Zaidan pun tersenyum tipis ke arah Dira.


" Oke, Jagoan. Jangan lupa makan, trus minum obat lalu istirahat."


" Dan, kapan Hanan bisa pulang? "


Tanya Dira kemudian, Zaidan melihat catatan yang di bawa oleh seorang perawat saat visit.


" Kita lihat dalam dua hari ke depan ya. Kalau kondisinya terus membaik, aku pastikan Hanan bisa pulang."


Zaidan pun pamit untuk mengunjungi pasien nya yang lain Sedangkan Hanan masih bermain dengan mobil-mobilan nya.

__ADS_1


" Hanan, sekarang sarapan dulu, ya. Mama suapin."


Hanan pun menurut, lalu menerima suapan dari Dira. Sedangkan Alby masih setia dengan benda pipih di genggaman nya. Selesai menyuapi Hanan, Dira pun menyodorkan sarapan untuk Alby. Walau bibirnya diam, tapi Alby meyakini, Dira memperhatikan nya.


Alby lebih dulu menyelesaikan sarapannya. Lalu mendekati ranjang Hanan, mengambil mangkuk bubur Hanan dari tangan Dira.


" Kamu juga harus makan, Mas sudah perhatian, dua hari ini kamu makan gak teratur. Maag kamu bisa kambuh lagi."


Dira hanya mengangguk, lalu memakan sarapannya. Sedangkan Hanan di suapi oleh Papanya.


" Anak Papa udah gede, gak boleh manja."


Hanan hanya tersenyum mendengar ucapan Papanya.


" Papa masih disini kan? Gak pergi keluar kota lagi kan?"


Alby menghentikan suapannya. Begitu juga dengan Dira. Yang melihat Alby dan Hanan bergantian.


" Kenapa? Kok Hanan tanya gitu?"


" Ya...soalnya papa dari tadi main ponsel terus. Pasti Papa lagi ngurusin kerjaan kan? Pasti Papa lagi sibuk kan?"

__ADS_1


Alby dan Dira saling pandang. Alby lalu tersenyum menatap bola mata bening milik Hanan. Mata yang menyimpan kerinduan akan kehadiran Papanya.


__ADS_2