
" Apa kabar , Sayang. Tante dan Om kangen sekali."
" Dira baik, Tante, Om. Tante Dwi dan Om Hendra kenapa gak ngabari kalau mau datang? Kan bisa Dira jemput. "
" Kami memang ingin memberikan mu kejutan. Dan ada satu lagi kejutan untuk kamu."
Dira mengerutkan keningnya. Kejutan apa yang akan di terima nya kali ini.
" Lihat siapa yang di belakang kamu."
Mata Dira terbelalak, lalu berhambur memeluk lelaki di hadapannya.
" Kak Dion...."
" Hai jeleknya kakak. Apa kabar?"
" Kak Dion kapan kembali dari Kalimantan?"
" Sekitar sebulan yang lalu. Dan sekarang kakak dinas di Jakarta. Di salah satu rumah sakit ibu dan anak."
Dan Dira pun membawa merek bertiga ke ruangannya. Mereka berbincang, dan Dea pun berinisiatif untuk membuatkan Teh untuk para tamu Dira.
Tok..
Tok..
__ADS_1
Tok..
Dea mengetuk pintu ruangan Dira. Lalu menata teh yang dia buat di meja yang tersedia.
" De, kenalin, ini Tante dan Om, aku."
Dea pun dengan sopan mencium tangan Tante Dwi, serta mencium tangan Om Hendra.
" Dan ini, Kak Dion. Anaknya Tante Dwi Dan Om Hendra."
Dea pun bersalaman dengan Dion. Dion cukup lama menatap Dea. Sampai akhirnya Dea menarik tangannya dari genggaman tangan Dion. Dea pun pamit setelah itu. Namun Dion masih menatapnya. Hingga tubuh Dea menghilang di balik pintu.
Lalu mereka berempat kembali berbincang sampai sore. Pukul Enam sore, akhirnya Keluarga Om Hendra pun pamit pulang. Mereka semua bersama turun ke lantai dasar. Tante Dwi menatap butik Dea. di lihatnya sudah sunyi. Hanya ada Dea yang duduk di sofa yang biasa pelanggan pakai.
" Butik kamu kok sepi, Nak?"
Tante Dwi membulatkan bibirnya. Dion mencuri pandang ke arah Dea yang sedang memainkan ponselnya. Tante Dwi yang ramah pada siapapun menyapa Dea yang masih duduk di sofa.
" Dea, kami permisi dulu ya,Maaf loh, membuat kamu terlambat pulang."
Ucap Tante Dwi. Dea yang merasa namanya di sebut segera melihat ke arah Tante Dwi. Dan mendekatinya.
" Gak apa-apa, Bu. Sudah menjadi tanggung jawab saya."
Lalu Tante Dwi, bersalaman dengan Dea, dan mencium pipi kanan dan kirinya. Sedangkan dengan Om Hendra, Dea pun kembali mencium tangannya. Lalu mereka pun bergegas pulang.
__ADS_1
Dira dan Dea menghantarkan Tante Dwi dan keluarganya sampai ke mobil, lalu mereka masuk setelah mobil yang mereka bawa menghilang dari pandangan mereka.
" Tante kamu itu ramah banget ya Dir."
Dira pun bercerita mengenai Keluarga Tante Dwi. Dea pun mendengarkan cerita itu dengan sesekali membulatkan bibirnya.
" Dir, Aku anter kamu pulang ya? "
Dea menawarkan untuk menghantar Dira terlebih dahulu. Namun Dira menolaknya secara halus.
" Gak usah, De. Aku pulang naik taksi. Sebentar lagi datang."
Dira berkata sambil melihat ponselnya. Dira tadi sudah memesan taksi online yang akan membawanya pulang. Dea masih tetap menunggu sampai Taksi yang di pesan Dira tiba. Setelah taksi itu tiba, dan Dira sudah pergi, barulah Dea pergi dari halaman butik. Baru akan menghidupkan motornya. Ponsel Dea berdering. Alby memanggil. Dea mengerutkan kening.
" Assalamualaikum, Mas Al."
" Waalaikumsalam, de. De,apa Dira masih di butik? Soalnya aku hubungi, Dira gak jawab panggilan aku."
"Dira baru aja pulang, Mas Al."
" Baru pulang? Dira pulang pake apa?"
" Pake taksi, Mas Al."
" Maksih ya De."
__ADS_1
Lalu baik Alby dan Dea pun saling menutup ponselnya. Alby menghela nafasnya.
" Kamu benar-benar menghindar Dir."