Menanti Hati ( Nadira)

Menanti Hati ( Nadira)
episode 89


__ADS_3

Syifa hanya mengangguk, lalu menerima suapan. dari Alby kembali. Menjelang malam, Alby pamit pulang, setelah di paksa oleh mertuanya untuk pulang.


Setibanya di rumah, Alby langsung masuk ke kamarnya. Dan menghela nafas nya. Sudah dua Minggu ini, Dira tidak sekamar dengannya. Dira memilih tidur di kamar yang dulu di tempatinya. Alby pun membersihkan dirinya. Lalu membaringkan tubuhnya di ranjang, di belainya bagian yang biasa di tempati Dira. Dingin. Dan kini dingin itu pun menjalar ke hubungan mereka.


Pukul tiga pagi, Alby terbangun dari tidurnya, karena merasa lapar. Dia berjalan ke arah dapur, alangkah kagetnya melihat Dira berada di dapur di jam segini.


" Sayang, kamu ngapain?"


Alby mendekati Dira yang sedang memasak mie instan dengan sayuran dan telur serta beberapa potong cabe rawit. Dira yang mendapat pertanyaan dari Alby, hanya melihatnya sekilas lalu melanjutkan masaknya.


" Sayang, aku lapar. Bisakah-"


Belum selesai Alby berbicara, Dira sudah meletakkan semangkok mie dan segelas air putih di meja.


" Makanlah."


Kalau Dira mengambil sisa mie yang masih ada di di dapur, dan meletakkan nya di sebuah mangkok. Setelah dua Minggu, baru kali ini mereka kembali makan dalam satu meja. Dira makan dengan tenang, semetara Alby memakan makanannya dengan sesekali melirik ke arah Dira. Sepuluh kemudian, Dira sudah menyelesaikan makannya , dan beranjak ke dapur untuk membersihkan piring dan peralatan masak yang tadi di pakainya.

__ADS_1


Alby memeluk Dira dari belakang, membuat Dira sedikit terkejut. Alby menghirup aroma tubuh Dira yang sangat dirindukannya.


" Maafkan aku, Sayang. Aku mohon."


Dira telah selesai, dan melerai pelukan Alby di pinggangnya. Membuat Alby memundurkan tubuhnya. Dira masih saja diam. Sampai saat Dira akan mencapai pintu kamar, Alby mengejarnya, dan kembali memeluk dirinya.


" Kumohon, maafkan Aku...."


Dira merasa tubuh Alby bergetar, begitu juga dengan suaranya. Alby menangis. Dira pun meneteskan air matanya, namun dengan cepat di seka dengan jarinya.


" Tidurlah..."


Dira mengangguk. Lalu mereka masuk ke kamar dimana biasanya mereka tidur. Dira merebahkan badannya. Sesungguhnya dirinya pun sangat merindukan Alby, dan merindukan belaian nya. Namun pengkhianatan yang di lakukannya sangat membuat luka di hati Dira. Luka lebar yang sangat sulit untuk di sembuhkan.


Alby memeluk tubuh Dira. Menghirup aroma tubuh wanitanya. Sedangkan Dira,baru sebentar saja, sudah tertidur pulas. Alby mengamati wajah Dira. Wajah teduh yang telah memberikannya ketenangan, kelembutan sikap yang meluluhkan hatinya yang sekeras karang. Di belai nya rambut Dira. Di kecup nya kening Dira. Lalu dirinya pun masuk ke alam mimpi.


Alby mengerjap kan matanya, mencoba menetralkan cahaya yang masuk ke manik matanya. Di lihatnya sisi ranjang yang dini hari, Dia dan Dira tempati, kosong. Di lihatnya jam yang ada di dinding kamar, pukul sepuluh pagi. Pantas saja, pasti Dira sudah bangun, pikirnya. Alby bergegas ke kamar mandi. Membersihkan tubuhnya, entah mengapa, rasa mual itu sedikit berkurang pagi itu.

__ADS_1


Alby menuruni anak tangga, tak di dapatinya Dira di dapur. Tapi Alby melihat nasi goreng dengan telur mata sapi di atasnya, dan segelas teh hangat yang di campur dengan irisan jahe. Alby menyantap makan paginya. Bahkan setelah hampir tiga Minggu mual itu mendera, pagi ini Alby bisa makan dengan lahap


Selesai memakan sarapannya, Alby bertanya pada Mbok kasum yang lewat.


" Mbok, Dira sudah pergi ya?"


" Neng Dira ada di taman belakang, Den."


Alby pun langsung menuju taman belakang. Disana dia melihat Dira yang sedang duduk di saung, dan menatap bunga-bunga yang di tanamnya.


" Sayang, kamu disini."


Alby mendudukkan bokongnya di samping Dira. Dira menatap Alby lekat. Merasa aneh dengan pandangan Dira. Alby pun kembali bertanya.


" Kenapa? Apa yang ingin kamu katakan."


Ucap Alby setelah di lihatnya Dira seperti ingin mengutarakan sesuatu. Dira menghembuskan nafasnya, mencoba menetralkan detak jantungnya. Dan mencoba menahan air matanya.

__ADS_1


" Mari kita bercerai."


__ADS_2