Menanti Hati ( Nadira)

Menanti Hati ( Nadira)
Episode 142


__ADS_3

Setelah kejadian di rumah sakit yang di penuhi suasana haru dan bahagia. Kini mereka semua berkumpul di rumah Papa Haidar. Ya, Haidar meminta Dira memanggilnya Papa saat itu juga. Saat mereka menangis bersama di rumah sakit. Banyak pertanyaan di hati Dira. Dan Papa Haidar tau, namun saat ini belum tepat rasanya untuk menceritakan itu semua.


" Kamu nginep di rumah ya, Nak. Mama mau berduaan aja sama kamu."


" Lah...kalau mama berduaan dengan Dira. Papa kesepian dong?"


" Biarin aja, Mama lagi gak mau di lendotin sama Papa."


Papa Haidar memasang wajah melasnya. Dan menghela nafas.


" Ngalah Pa..."


Bram menimpali. Dan akhirnya mereka tertawa melihat ekspresi wajah Papa Haidar. Dion melihat kebahagiaan di mata Dira. Mereka makan malam bersama, setelah itu mereka berkumpul di ruang keluarga.


" Terima kasih Pak Hendra. Sudah merawat anak kami. Saya sangat beruntung, Pak Hendra dan keluarga menerima Bella kami, seperti anak sendiri."


Pak Haidar berterima kasih pada Om Hendra, sedangkan Tante Dwi tersenyum melihat kebahagiaan Bu Yasmin. Yang selalu memeluk dan mencium Dira.


" Sebenarnya, Dira ehmm.. maksud saya Bella dirawat oleh Almarhum Kakak ipar saya. Mereka menemukan Bella kecil di halte bis dan dalam keadaan kedinginan dan menangis."


Mama Yasmin dan Tante Dwi meneteskan air mata, saat mendengar kembali cerita saat Dira ditemukan. Begitu juga dengan Luna dan Bram. Bahkan Bram mendekat dan langsung memeluk Dira.


" Maafkan Papa, Nak. Papa gak akan buat kamu menangis lagi."

__ADS_1


Papa Haidar memeluk Dira. Melihat semua orang memeluk Dira. Hanan pun melihat satu persatu.


" Kok cemua peluk mama? Hanan gak peluk?"


Lalu mereka semua pun tertawa. Bram langsung mengangkat tubuh gembul bocah yang sudah merebut hati banyak orang itu. Membuat Hanan tertawa dan memekik kegirangan.


Dira kini berada di kamarnya, kamar yang di sediakan memang untuknya.


" Sayang, Mama masuk ya?"


Ucap Mama Yasmin di depan pintu kamar Dira.


" Masuk aja, Ma. Gak Dira kunci kok."


" Kamu udah siapin semua."


Mama Yasmin melihat sudah ada kasur lipat di bawah dan sudah tersusun rapi.


" Sudah , Ma. Karena Hanan udah ngantuk, jadi Dira siapin semua."


Tak lama Bram pun masuk langsung naik ke ranjang dimana Hanan sedang meminum susunya dengan menggunakan botol. Hanan melepas botol susunya dan menoleh ke arah Bram. Hanan berbalik melihat Bram. Dan menyentuh wajahnya.


" Om, papa Hanan?"

__ADS_1


Degh..


Semua hati terasa tercubit dengan perkataan Hanan. Bocah tiga tahun lebih itu, sepertinya sangat merindukan sosok Ayahnya. Dira pun mengalihkan wajahnya, saat Bram, dan semua orang disana hanya diam mendengar pertanyaan Hanan.


" Ma, ini Papa Hanan?"


Mama Yasmin memegang bahu Dira. Tampak Dira mengusap air matanya. Lalu berusaha untuk tersenyum pada Hanan.


" Hanan mau manggil Om, Papa?"


Kali ini Bram yang bertanya pada Hanan. Bocah itu mengangguk, dan Bram pun tersenyum.


" Kalau begitu, mulai sekarang Hanan bisa manggil Om, Papa."


Hanan langsung bangkit dari tidurnya, dan membulatkan matanya.


" Jadi Hanan punya Papa, sama sepelti temen Hanan?"


Bram mengangguk, lalu bocah gembul itu lompat kearah Bram dan memeluknya.


" Yeeee...Hanan punya papa. Papa Hanan gak ilang lagi..."


Dira meneteskan air matanya. Dan Mama Yasmin menggenggam tangan Dira memberinya ketenangan.

__ADS_1


__ADS_2