Menanti Hati ( Nadira)

Menanti Hati ( Nadira)
Episode 134


__ADS_3

Setelah Hanan bangun dari tidurnya, kini Zaidan menggendong Hanan untuk di bawa pulang.


" Dan biar aku aja yang gendong Hanan. Gak enak di liatin orang."


" Gak usah di liatin."


Zaidan menggendong Hanan ke arah mobilnya. Dan segera membuka pintu untuk Dira masuk. Dira tidak bisa menolak, Dira sangat tahu sifat keras kepala Zaidan. Sudah kenal selama hampir tiga tahun, Dira sudah hapal betul sifat Zaidan.


Mbak Ita di minta untuk pulang dengan mobil yang di bawa mang Udin. Di perjalanan, Hanan memeluk Dira. Tubuhnya masih demam, walau tak setinggi saat di bawa ke rumah sakit.


" Kalau nanti malam Hanan demam tinggi lagi, kamu segera hubungi aku. Ingat, kamu juga jangan terlalu panik. Usahakan Hanan untuk sering-sering minum air putih. Oke, aku pamit dulu ya."


Ucap Zaidan sesaat setelah meletakkan Hanan di ranjang kamarnya. Zaidan mengelus kepala Hanan dengan sayangnya. Dan saat Zaidan ingin pergi, tangan Zaidan di pegang oleh Hanan.


" Om jangan pelgi, Hanan mau di peluk sama om doktel."

__ADS_1


Ucap Hanan yang membuat Zaidan kembali mendudukkan tubuhnya di sisi ranjang kamar Zaidan. Sedangkan Dira hanya berdiri mematung di tempatnya. Hatinya terasa tercubit mendengar penuturan Hanan. Tak biasanya Hanan meminta seperti itu.


Selama ini Hanan anak yang sangat baik, tak pernah meminta sesuatu yang membuat Dira bingung. Tapi hari ini, hati Dira seperti di cubit saat Hanan meminta Zaidan untuk memeluknya.


" Sayang, peluknya sama Mama aja ya. Om dokter kan harus pulang, Sayang. Om dokter capek loh."


Bukannya menurut, justru Hanan makin mengeratkan pelukannya. Bahkan wajahnya di benamkan di ceruk leher Zaidan.


" Udahlah Ra. Biarkan Hanan sama aku."


Zaidan meletakan jari telunjuk di bibirnya, meminta Dira tidak membantah. Lalu dengan telaten, Hanan merebahkan tubuh Hanan di ranjang, bersamaan dengan Zaidan yang merebahkan tubuhnya juga.


Dira pun meninggalkan mereka berdua. Dirinya merasa sungkan jika harus berlama-lama di kamar berdua dengan Zaidan. Lalu Dira pun masuk ke dapur, membuat hidangan untuk makan malam nanti. Dira memasak sup ayam jamur dan juga ikan gurame pedas manis. Tak lupa juga nagget ikan kesukaan pangeran nya Hanan.


Walau pun Dira sibuk dengan pekerjaan nya, namun sebisa mungkin Dira memasak sendiri makanan untuk Hanan. Menjelang makan malam, Dira kembali ke kamar Hanan, dan pemandangan yang di lihatnya membuat air mata Dira menetes. Disana di lihatnya Hanan yang tertidur di pelukan Zaidan, dan Zaidan pun tertidur dengan memeluk Hanan. Sebelah tangan Zaidan di jadikan bantalan oleh Hanan. Bahkan tangan Hanan pun memegangi tangan Zaidan.

__ADS_1


Dira mendekat, lalu membangunkan Zaidan pelan. Beberapa kali Zaidan di panggil, namun tak bangun juga, dengan pelan-pelan, Dira menepuk bahu Zaidan. Perlahan mata Zaidan terbuka. Dan di lihatnya Dira yang berdiri di belakang punggungnya. Lalu di lihatnya wajah Hanan yang terlelap. Sangat halus dan pelan, Zaidan memindahkan kepala Hanan ke bantal.


" Maaf ya, Ra. Aku ketiduran."


Dira tersenyum, lalu menggeleng.


" Harusnya aku yang minta maaf, Dan. Seharusnya kamu sudah istirahat di rumah, tapi karena Hanan kamu jadi masih disini.Maaf ya, Dan, Aku dan Hanan selalu merepotkan kamu."


Zaidan menggeleng. Lalu menatap wajah teduh Hanan yang tertidur pulas.


" Aku gak merasa di repotkan."


Lalu Zaidan beranjak dari ranjang Hanan. Merasa da pergerakan, mata Hanan pun pelan terbuka. Lalu Hanan pun duduk.


" Om doktel mau kemana?"

__ADS_1


__ADS_2